“Minggir pak, selamat siang,” kata salah seorang polisi lantas. “lihat SIM dan STNKnya,? Kata polisi itu. Sebut saja Budi sang pengemudi sepeda motor itu. “lengkap semua, tapi kenapa saudara tidak hidupkan lampu sepeda motor, spion ada tapi kacanya tidak ada dan tidak pakai helm yang standar SNI,? Kata polisi itu lagi. Budipun terjebak dan memohon maaf. Lalu polisi itu pun membuat pilihan, mau proses dikantor atau disini saja. Si pengemudi pun paham, tanpa negosiasi lagi Rp 200.000 melayang ke tangan oknum tersebut. Berlalulah dia.
Itu baru satu masalah. Belum lagi masalah-masalah lain yang ujung-ujungnya masyarakat harus mengeluarkan duit untuk menyelesaikan beragam persoalan di kepolisian. Sepertinya lantas, reserse dan satuan intel menjadi tempat strategis hubungan dekat antara polisi dengan masyarakat. Jangan segan-segan melapor, bisa melalui SMS dan surat-menyurat.
Intinya polisi yang bermasalah akan ditindak, diproses hingga sampai pencopotan dan pemecatan. Ucapan itu yang selalu didengar masyarakat dari Kapolda Aceh, Iskandar Hasan saat kegiatan ikut obrolan bareng yang berlangsung di dua tempat, yaitu Ring Road Cafe dan di Haba Cafe di Kota Banda Aceh.
Tahun 2010 lalu, ada 35 polisi yang dipecat dan dalam tahun ini hingga Juli ada 25 orang di pecat. “Saya tidak segan-segan memecat sampai 1.000 anggota polisi yang bermasalah,” kata Iskandar Hasan di Ring Road cafe waktu itu.
Diakui Kapolda Aceh, Iskandar Hasan bahwa memang sulit membentuk kultur polisi disuatu daerah itu. Karena sangat tidak terlepas dengan budaya bangsa dan budaya yang dianut oleh masyarakatnya. Jika salah tetap salah, yang benar juga tetap benar.
Petinggi Polda Aceh itupun bersikap dengan menyatakan komitmennya bahwa tidak ada polisi yang bermasalah ditempatkan ditempat strategis. Tempat-tempat strategis yang langsung menyentuh hubungan dengan masyarakat itu adalah Direktorat Lantas, Reserse dan Intelkam.
Makna pinto Aceh sebenarnya adalah membuka kebaikan dan menutup kejahatan supaya tidak masuk di negeri syariat ini. Gagasan IOM bersama Koalisi NGO HAM Aceh patut diancungi jempol dengan memprakarsai kegiatan obrolan bareng Kapolda Aceh dengan masyarakat di Warong Kopi. Terobosan ini sangat luar biasa dipandang masyarakat sebagai bentuk keberanian dalam membenah diri dari hujanan “peluru” kritikan terhadap Polisi.
Kapolda Aceh, Iskandar Hasan ditantang untuk membuktikan bahwa kegiatan ini harus berlangsung di kabupaten kota lainnya di Aceh. “IOM dan Koalisi NGO HAM Aceh harus melihat ini sebagai cara yang tepat untuk menyampaikan banyak persoalan masyarakat dengan polisi, apalagi di daerah-daerah,” sebut Ferry salah seorang masyarakat Kota Banda Aceh.
Kapolda Aceh, Iskandar Hasan mempersilahkan masyarakat untuk berdebat secara kritis dengan polisi sejauh argumen masyarakat itu benar. “Kalau ada polisi yang sengaja mencari-cari kesalahan masyarakat, silahkan debat sampai kritis. Jika perlu gugat polisi itu secara perdata dan pidana jika dianggap salah,” kata Kapolda.
Ada tiga program yang menurut Kapolda Aceh, Iskandar Hasan itu sangat baik dilakukan dan dipertahankan untuk menjaga hubungan polisi dengan masyarakat. Ketiga program itu antara lain Program Saweu Sikula, Program Polmas Ketokohan Masyarakat dan Program Polisi Islami. Dijamin oleh Kapolda Aceh jika seyognya ketiga program ini berjalan maka akan semakin baik hubungan polisi dengan masyarakat di Aceh.
Polisi sudah tunjuk keberanian berhadapan langsung dengan masyarakat di warong kopi? Maka warga juga dituntut untuk berani melaporkan kesalahan polisi dimata masyarakat. Banyak harapan dan permintaan warga agar obrolan bareng Kapolda Aceh itu bisa menerobos daerah-daerah yang dianggap rawan. Semoga IOM dan Koalisi NGO HAM Aceh punya kemampuan “menggadaikan emasnya” untuk kegiatan tersebut.
Komisi III DPR RI, Nasir Djamil angkat bicara dan menyambut baik kegiatan tersebut di Haba Cafe tadi malam. “Kapolda Aceh terlalu berani secara terang-terangan berhadapan langsung dengan masyarakat di warong kopi, jika perlu buat kegiatan ini sampai ke daerah-daerah. Ini menunjukkan bahwa kondisi Aceh memang sudah aman dan nyaman,” kata Nasir Djamil. Pintu sudah dibuka dan masyarakat harus masuk untuk menyampaikan segala persoalan dengan polisi.
Jadi polisi dengan masyarakat harus bagaimana? Taati aturan yang berlaku ? jangan berikan peluang untuk polisi dan masyarakat bisa berbuat negatif, jangan anarkis dan main hakim sendiri.? Berdialoglah secara sehat dengan semua pihak. Hadapi dengan senyuman.
1:19 PM
Fadel Aziz Pase

Posted in:
