Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, August 28, 2011

Junita, Memaknai Persahabatan Dalam Tulisan

Junita Amalia Wulandari, gadis kelahiran Langsa Juni 1990 silam memaknai ketulusan dalam bersahabat ibarat menulis, kali ini beliau yang juga mahasiswa Fakultas Pertanian Unsam Langsa mencoba memberikan perumpamaan persahabatan yang hakiki melalui sepucuk tulisannya, ini isinya :
Menulis di Atas Pasir

Kisah tentang dua orang sahabat karib, yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya.

Orang yang kena tampar merasa sakit hati. Tapi dengan tanpa. berkata-kata, dia menulis di atas pasir :

"Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku."

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba untuk mencoba menyejukkan galaunya.

Mereka terus berjalan sampai menemukan sebuah oasis, dimana orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, memutuskan berenang untuk menyejukkan galaunya. Namun, oasis itu ternyata cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam. Dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.

Ketika ia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu.

"Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku."

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir? Dan sekarang kamu menulis di batu?"

Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila antara sahabat terjadi suatu kebajikan sekecil apapun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang, tidak hilang tertiup waktu."

Dalam hidup ini, sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya, cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masa lalu.

Marilah kita belajar menulis di atas pasir



Tulisan Pertama Upy Yang Menguras Air Mata

Annisa Phalupi
Annisa Phalupi, ini nama lengkap  upy sang penulis cerpen menggugah ini, gadis manis kelahiran Lhokseumawe 17 Juni 1993 ini yang mempunyai bakat dalam dunia sastra,  Alhasil karyanya bisa menguras air mata para pembaca. Gadis  pemilik blog : www.phalupi.blogspot.com ini yang baru duduk dibangku perkuliahan di Jurusan FKIP Seni Rupa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Ini tulisan pertama anak dari pasangan Pak Eddy siswanto dan Asni, S.pd yang dulunya pernah tinggal di Komplek perumahan PT.Arun Batuphat Lhokseumawe dan sekarang menetap di Kota Langsa :

Tulisan Pertamaku : Tentang Getirnya Kehidupan Seorang " Vian "
Ini ceritaku tentang kehidupan seorang bocah kecil bernama Vian.
Beberapa puluh tahun yg lalu,
Di suatu tempat yg jauh disana, hiduplah sepasang suami-istri dengan 4 orang anaknya.
Mereka tinggal dan hidup sederhana di sebuah kota, (sebut saja Bandung).
Anak sulung nya bernama Vian.



*sebenarnya Vian anak kedua, tapi kakaknya meninggal ketika berumur 2 bulan.
Vian lahir dan dibesarkan di Bandung, hingga akhirnya sang ayah di pindah tugaskan keluar kota.
Ya, Vian dan yang lain juga harus ikutan pindah.
Waktu itu, Vian baru menginjak usia 10 tahun.
Vian sekeluarga kini tinggal di Jakarta.
Vian pun harus menyesuaikan diri dengan teman baru dan juga lingkungan barunya.

Beberapa tahun kemudian,
Vian mulai menginjak masa remaja, saat itu usia nya baru 15 tahun.
Dia sudah jadi anak SMA ketika itu.
Disinilah awal kepedihan Vian.

Jakarta itu kota besar, kota nya para bebungulan (kata sebagian orang).
Hidup di jakarta itu kejam,
Sekejam yang dilakukan teman-teman Vian kepadanya.
Dia dikelilingi teman-teman yang “nakal”.
Tapi Vian tidak punya pilihan lain, cuma mereka yang mau berteman dengan Vian.
Vian masih terlalu lugu, dengan mudahnya dia dipengaruhi teman palsunya.
Merokok, minum, musroom, bahkan “make”.
Vian, Vian..
Malangnya nasibmu.

Vian kini semakin dewasa, Vian sudah kuliah.
Tapi beban hidupnya juga semakin bertambah besar.
Sebenarnya Vian ingin kuliah di kedokteran, tapi Vian tidak bisa.
Papa tidak mengijinkan Vian jadi dokter, Vian cuma dikasih 2 pilihan.
Kuliah di jurusan kebahasaan (Inggris) atau komunikasi.
Sampai di bangku kuliah pun Vian masih di kelilingi teman nakalnya.
Vian punya teman palsu, yang kerjanya cuma bisa menguras isi dompet Vian.
Teman-teman palsu yang adanya kalau Vian lagi senang saja.
Vian yang lugu itu ternyata cuma dijadikan mainan sama teman-temannya.
Dia dimanfatiin, dibego-begoin, dikuras habis-habisan.
Dan yang lebih parahnya lagi , dia di duain sama orang yang disayang.
Vian yang clubing tiap malam, Vian yang jarang banget masuk kuliah.

Dulu,
Vian cuma punya mama, mama selalu ada untuk Vian .
Mama yang selalu dengerin curhatan Vian, mama yang selalu melindungi Vian tiap kali ia dimarahi papa.
Mama yang rela dipukul, dimarah, dijadiin sasaran tiap kali papa ngamuk.
Tapi mama pergi terlalu cepat.
Vian belum bisa bahagiain mama, Vian belum bisa melihat senyum puas mama karena keberhasilan Vian.
Sejak kepergian mama tercinta, Vian berubah drastis.
Vian semakin hancur dan tidak terarah.
Papa juga semakin kasar .
Mama sudah tidak ada. Dan sekarang papa menjadikan Vian sasaran utama tiap kali ia ngamuk.
Vian benci sama papa.

Papa jahat, papa yang menyia-nyiakan mama.
Papa tidak pernah memperlakukan Vian seperti anak-anak lain.
Vian kuliah dengan jerih payahnya sendiri, Vian hidup pakai biaya sendiri,
Vian cuma numpang tidur di istana papa.
Di istana tempat papa berbuat semaunya.
Papa semakin merajalela.
Pernah suatu kali papa ngamuk,
Papa memukuli Vian sampai ia berlumuran darah, Vian di hajar habis-habisan sama papa di depan kamarnya. Sampai pintu kamar Vian rusak.
Vian masuk Rumah Sakit, tapi papa tidak juga peduli.

Bahkan, papa juga tidak pernah tahu kalau selama ini Vian sakit parah.
Vian mondar-mandir sana-sini buat berobat sendiri.
Vian check-up, therapy, semua itu pakai uangnya sendiri.
Tapi papa tidak pernah tahu.

Papa juga tidak mau tahu semua tentang Vian.
Vian yang sudah terlanjur benci sama papa, sekarang sudah bisa lebih kuat.
Vian bisa menjalani hidup tanpa kasih sayang papa .
Vian bisa membuktikan kalau ia bukan anak yang bisanya hanya membebani orang tua saja.

Vian,
Tak lama lagi kuliahnya selesai.
Dan,  Vian akan mendapatkan gelar sarjana.
Harus nya Vian senang dengan semua ini, tetapi saat ini ia sedang membutuhkan biaya untuk menyelesaikan kuliahnya.

Belum lagi tunggakan uang kuliah yang sudah menumpuk terlalu banyak.
Meskipun Vian harus pinjam kanan-kiri, tapi ia tidak pernah malu.
Karena ia tahu, ia mendapatkannya dengan cara yang halal, yang di ridhoi sama Allah.
Yah, Vian masih coba untuk meminjam uang dengan sepupunya.
Semoga Vian dapat pinjaman uang kuliah.

Satu-satunya jalan lain supaya Vian tetap bisa meneruskan kuliahnya adalah dengan mengajukan beasiswa.
Vian pun menyusun proposal untuk mengajukan beasiswa.
Vian ingin melanjutkan kuliahnya hingga S2.

Dia berusaha seorang diri, berusaha mempertahankan hidupnya.
Perjalanan Vian belum berakhir sampai disini, ini hanya secuil tentang Vian.
Kisah Vian adalah kisah yang tidak pernah ada ujungnya.
Karena Vian, adalah awal dari semuanya.




Sunday, May 8, 2011

Museum Tsunami Segera Dibuka Kembali untuk Masyarakat

Banda Aceh - Museum Tsunami Aceh yang selama setahun terakhir ditutup untuk pelaksanaan renovasi setelah selesai dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, dalam waktu dekat akan segera dibuka kembali untuk masyarakat (umum).
Sebelumnya, museum yang berada di sekitar lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut masih kosong, dan saat ini telah diisi dengan berbagai jenis benda peninggalan bencana tsunami oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta dilengkapi foto-foto display bersejarah.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Jumat (6/5) melakukan peninjauan langsung ke lokasi Museum Tsunami tersebut menjelang dibuka secara resmi untuk masyarakat pada 8 Mei 2011. Ia juga menyatakan, pengelolaan museum akan dilakukan langsung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dengan membentuk sebuah UPTD Khusus.
"Pengelolaan Museum Tsunami ini ada kecenderungannya oleh pemerintah provinsi, semacam UPTD Khusus nanti. Sedangkan untuk dana operasional sementara ini dibantu oleh Kementerian ESDM dan juga untuk perawatannya selama empat tahun ke depan," ujar Irwandi Yusuf, kepada wartawan di sela-sela peninjauan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga didampingi Anggota DPR-RI asal Aceh, Drs M.Nasir Djamil, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Rasyidah M Dallah dan beberapa staf Kementerian ESDM. Diakui, isi museum tersebut belum begitu representatif karena kebanyakan hanya menampilkan berupa foto-foto yang diabadikan saat tsunami, begitupun dinilai untuk sementara sudah mewakili.
"Kita bisa lihat beberapa gambarnya dengan display tadi yang ditampilkan secara berurutan melalui layar LCD. Juga ada informasi tentang bencana gempa bumi dan tsunami yang bisa kita lihat di dalamnya," jelas Irwandi.
Profesional
Gubernur berharap pengelolaan Museum Tsunami harus dilakukan secara profesional, sehingga keberadaannya memberi manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Aceh umumnya, dan Kota Banda Aceh khususnya."Bagi kami, yang penting museum itu harus dikelola dengan baik, sehingga aset wisata itu selalu terjaga," ujarnya.
Museum Tsunami dibangun dekat Blang Padang, yakni lapangan terbuka di pusat ibukota Banda Aceh dengan dilengkapi berbagai fasilitas. Museum dibangun semasa BRR Aceh-Nias dengan anggaran mencapai Rp70 miliar.
Selain sebagai tempat memamerkan barang peninggalan tsunam 26 Desember 2004 lalu, gedung itu juga memiliki fasilitas seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi dan kafe. Rencananya pembukaannya dilaksanakan bertepatan dengan ivent Aceh Fair 2011 di lapangan Blang Padang 8-15 Mei 2011.
Museum ini terdiri dari tiga lantai dan satu lantai dasar. Uniknya, lantai satu merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan untuk duduk santai. Letaknya juga sangat dekat dengan inti kota, yakni di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah mengungkapkan, museum ini tidak didesain mencerminkan penderitaan dan kedukaan masyarakat Aceh ketika bencana, melainkan sebagai bukti peringatan bahwa Aceh pernah dilanda bencana yang banyak menelan korban dan kini sudah bangkit berdiri kembali membenahi diri. Museum lebih dekat dengan fungsi wisata.dan akan menjadi obyek sejarah, menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami serta sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana maha dahsyat itu.
"Museum ini dibuat sebagai warisan kepada generasi mendatang dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi bencana gelombang tsunami dan untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia patut untuk terus diwaspadai," ujarnya.

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan