Saturday, September 15, 2012

Berkaryalah, Sebelum Kehilangan Semuanya

Oleh: Aliya Nurlela

Ketika seseorang berada dalam kondisi terpuruk, tak memiliki kekuatan, tak juga semangat dan tak memiliki harapan akan hari esok yang cerah. Ketika vonis dari manusia telah menjatuhkan bahwa “kamu tidak akan tertolong”. Ketika tubuh hanya bisa meringkuk, bagai seonggok daging tak berguna. Ketika air mata tak henti mengalir dan menciptakan telaga baru. Ya, telaga air mata sendiri. Dalam kondisi terpuruk seperti itu, apa yang bisa dilakukan seseorang? 
Mungkin, hanya tangis dan kepedihan yang menjadi teman bicara. Akan selalu bertanya, di manakah letak pertolongan itu? Andai aku tahu, letak pertolongan itu, maka akan kuraih dan kugenggam erat. Aku ingin menolong diriku sendiri untuk bangkit dari keterpurukan dan ketidakberdayaan. Aku ingin mendobrak semua kepedihan yang sangat menyayat hati. Aku ingin menunjukkan pada Sang Pencipta takdir ini bahwa aku menerima takdir-Nya dengan lapang. Tidak cengeng, tidak mengeluh dan uring-uringan. Namun, itu sulit kulakukan.

Meskipun ilmu tentang sabar dan syukur sudah kupelajari dan kubaca berulang-ulang, namun ketika kenyataan mengharuskan kita berhadapan dengan kondisi yang menuntut kita bersabar dan bersyukur, ternyata itu sangat berat dilakukan. Menerima kenyataan tak semudah menerima teorinya. Praktik itu lebih sulit. Itulah yang kurasakan.
Ujian itu datang tak pernah diundang. Mengejutkan. Sebuah penyakit yang bercokol di tubuh dan tidak terdeteksi medis. Semua dokter ahli yang menangani, sudah angkat tangan. Menurut mereka, tak ada penyakit dan tak ada obatnya. Hanya disarankan memohon pada Sang Pemberi sakit. Itulah solusi akhir. Seyogyanya, kepasrahan pada Allah memang menjadi kunci awal untuk bersandar diri. Bukan memposisikan di akhir ketika berada di ambang tipisnya harapan. Mendatangi dokter dan mengkonsumsi obat, hanyalah sebagai bentuk usaha untuk memfasilitasi menuju jalan kesembuhan. Bukan dokter atau obat yang menyembuhkan.
Ketika para medis yang ahli dalam bidang kedokteran saja mengatakan tak ada obatnya dan kecil kemungkinan untuk sembuh. Hanya satu pilihan kita. Pengobatan komprehensif lahir bathin! Aku pasrahkan sepenuhnya kesembuhan ini pada Sang Pemberi sakit. Aku memohon padanya melalui cara-cara pengobatan yang telah diajarkan oleh utusan-Nya. Bersandar diri sepenuhnya, bersedekah untuk kesembuhan, berzikir dan membaca ayat-ayat-Nya. Lalu, back to nature. Mengambil obat-obatan dari alam untuk menguatkan fisikku yang lemah.
Kakiku lumpuh. Tak bisa dipakai untuk berjalan. Sekadar menggeser atau membalikkan badan saja, aku tak mampu. Aku harus minta bantuan orang lain. Aku benar-benar berada dalam kondisi tak berdaya. Air mata tak henti meleleh dari pipiku, kala itu. Meskipun, aku menangis hanya pada saat lagi sendiri. Aku takut kejadian lebih buruk akan menimpaku. Betapa sedihnya jika aku harus tergolek selamanya dan meminta uluran tangan orang lain untuk membantu. Benar-benar aku was-was dan khawatir.
Tak ada yang bisa kulakukan di tempat tidur dalam kondisi lumpuh. Aku hanya bisa menangis dan menghibur diri. Agar aku tegar dan menerima ujian darinya. Tapi berat, sungguh berat. Tak bisa kubohongi diri ini. Di hadapan keluarga dan orang-orang yang menjengukku, aku bisa tersenyum meskipun tak sempurna. Namun sesungguhnya, hatiku menangis. Ketika mereka tak ada, mukaku akan bersimbah air mata. Tidak bisa kubendung. Air mata itu seperti air bah yang terus menerjang, menjebol tanggul di mataku. Aku merasa berenang di telaga airmataku sendiri.
Lumpuh tiga bulan! Waktu itu belum mengenal facebook, apalagi email, juga belum memiliki laptop. Jenuh, sangat jenuh. Ketika dalam waktu tiga bulan harus tergolek dan tidak memiliki apapun yang bisa dijadikan jalan untuk mengalihkan rasa sedih dan sakitku. Dalam kondisi lumpuh itu, berat badanku sudah turun 20 kg. Rambutku rontok. Hanya tersisa beberapa helai saja. Muka dan kulitku menghitam. Aku takut melihat mukaku di cermin. Aku menjauhkan cermin. Aku seperti benci cermin sejak aku sakit. Sementara di perutku ada benda yang selalu bergerak-gerak tetapi tidak terdeteksi alat-alat medis. Sudah berulangkali di USG dan rontgen, para medis tak menemukan apapun. Tapi anehnya saat dilihat dan dipegang, sangat jelas benda itu ada. Beberapa bagian tubuhku, seperti disayat-sayat silet dan mengeluarkan darah. Entah bagaimana terjadinya proses sayatan-sayatan itu, aku tak mengerti.
Mengenaskan sekali kondisiku waktu itu. Aku sering terjaga di malam hari dan tidak bisa tidur hingga subuh tiba. Aku menangis, melamun dan merenung. Aku hanya diajarkan untuk selalu menyebut nama-Nya dalam setiap tarikan napasku agar ‘gangguan’ itu segera enyah dari tubuhku. Dan memang hanya menyebut nama-Nya yang bisa kulakukan sambil berbaring. Salat pun kulakukan sambil berbaring. Mengambil wudhu harus minta bantuan. Jika tak ada orang, aku tayamum. Dan hanya berbekal tasbih, usai salat aku zikir semampuku.
Dalam kondisi seperti itu, aku membayangkan hal-hal yang tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benakku. Jika saja aku tidak tertolong, seperti pernyataan para medis itu. Lalu apa yang bisa kutinggalkan untuk keluargaku? Harta aku tak punya dan karya pun tak ada. Tak ada yang bisa diberikan dan tak ada yang pantas untuk dikenang.
Kalaupun Allah masih memberikan pertolongan tetapi dalam kondisi aku tetap lumpuh, lalu apa pula yang bisa menjadi catatan karya dalam hidupku yang bisa kuceritakan pada anak-anak dan cucuku kelak? Tidak sekadar cerita, tetapi yang bisa kubagikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Jika saja aku mengatakan bahwa aku dulu seorang penulis. Lalu, bagaimana jika kelak cucuku bertanya, “Katanya dulu nenek penulis. Tapi mana buku karya nenek?” Wah, benar juga ya. Tak ada jejak sebagai seorang penulis. Hanya cerita dari mulut saja. Cerita itu pun perlahan akan menguap ke udara dan tak ada yang mengingatnya lagi. Kalaupun pernah punya tulisan di koran yang pernah dimuat, itu koran jadul, yang anak cucu tidak mengenalnya. Bahkan, mungkin redaksi koran tersebut sudah tidak menerima naskah lagi, alias sudah buyar.
Jika aku memberikan buku tulis atau diari yang menjadi tempatku menulis setiap hari, apakah mereka tertarik? Jaman semakin maju. Tekhnologi semakin canggih. Anak-anak sekarang lebih suka membaca melalui layar komputer. Bukan buku tulis, apalagi dengan tulisan yang sulit dibaca. Membuat mereka ngantuk. Mungkin tidak akan berlaku pendapat bahwa tulisan yang menarik itu adalah tulisan yang membuat orang tidur menjadi terbangun, orang diam menjadi bergerak, orang berjalan menjadi berlari. Ini sebaliknya, orang bangun menjadi tertidur. Hmm… benar, tak ada jejak yang bisa dikenang dan bermanfaat bagi generasiku berikutnya.
Aku seolah tersadar. Mataku seolah terbuka lebih lebar. Tiba-tiba semangatku mulai tumbuh, menyeruak dan mendorong-dorong agar aku berbuat lebih baik. Menumbuhkan tekad yang kuat agar aku menghentikan tangisku dan mulai berkarya. Sebelum kehilangan semuanya, berkaryalah! Aku telah kehilangan kekuatan kakiku untuk bergerak, tapi bukankah pikiran dan hatiku masih bisa diajak ‘bergerak?’ Aku tidak ingin meringkuk bermandikan tangis dan tak berguna hingga akhir hayatku. Banyak orang cacat sejak lahir, mereka semangat dan berbuat. Mengapa aku yang diberikan kesehatan sekian tahun dan baru diuji beberapa bulan saja, tak mampu menstabilkan semangatku? Aku harus bisa!
Aku tidak mau seperti halnya pohon cemara. Saat hidup terlihat elok meliuk-liuk ditiup angin. Banyak orang mengagumi dan ingin memiliki. Pohonnya pun mahal harganya. Tapi ketika akar-akarnya tercerabut, layu dan mati, siapa yang tertarik padanya? Tak seorang pun peduli. Ia tak berguna sama sekali. Jangankan untuk hiasan, untuk kayu bakar pun tidak. Sungguh ironi. Saat masih sehat berdiri kokoh, disanjung dan diperebutkan banyak orang. Tetapi saat sakit dan mati tak seorang pun peduli.
Tidak! Aku tidak ingin menyia-nyiakan sisa hidupku. Biarlah Allah berbuat sesuai kehendak-Nya atas titipan yang diberikan-Nya padaku. Tapi aku pun harus berbuat dan berusaha sesuai ilmu dan ilham yang dititipkan-Nya. Lumpuh kaki bukan berarti pikiran dan hatiku ikut lumpuh. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Yang bisa mengubah keadaan menjadi bahagia, hanya aku. Semua sumber kesedihan itu sebenarnya ada dalam diriku sendiri. Aku terlalu dibayang-bayangi ketakutan. Hingga membuat kesedihanku tak berujung.  
Jika para wanita sahabatnya Zulaikha, bisa lupa akan sakitnya saat mereka melihat ketampanan Yusuf, berarti aku pun bisa. Para wanita sahabat Zulaikha itu tak sadar dan tak merasakan sakit saat jari jemari mereka terpotong pisau. Sebab, ingatan mereka hanyut dalam pesona ketampanan Yusuf. Dahsyat sekali. Itu artinya, aku harus mengalihkan ingatanku bukan pada penyakitku, tetapi pada sesuatu yang aku sukai. Agar lupa sakitnya dan lupa untuk bersedih. Benar, mulai saat itu aku menjadikan terapi untuk kesembuhanku salahsatunya dengan membaca dan menulis. Itulah hal yang aku sukai sejak kecil. Membaca dan menulis ternyata aktivitas yang cocok dilakukan oleh orang yang tidak bisa berjalan. Aku merasa terhibur. Aku bertambah wawasan meskipun aku tergolek di tempat tidur.
Aku juga bisa menuangkan perasaanku dalam tulisan. Aku menghindari rangkaian kata-kata yang mengundang tangis, yang mengundangku untuk terpuruk lagi. Aku menguatkan diri. Tak seorang pun bisa mengubahnya, kecuali aku sendiri. Ya, aku harus berubah untuk kebaikanku sendiri. Akhirnya, aku enjoy sekali membaca dan menulis. Buku-buku berserakan di tempat tidur. Merekalah temanku berbagi, yang bisa dibuka kapan saja. Kutuliskan kisah sakitku dengan bahasa remaja. Agar ceria dan tak menyeretku pada jatuhnya airmata. Aku berbicara konsep sedekah menjelang fajar. Sedekah sebagai salah satu jalan pengobatan. Kuceritakan kisah sakitku yang menempuh pengobatan salah satunya berobat lewat sedekah.
Aku ingat pesan seorang ustad yang membimbingku, “Apabila sakitnya parah, maka sedekah pun harus sebanding dengan sakitnya. Bukan seribu-dua ribu rupiah, tetapi harus ada niat dan pengorbanan  total untuk kesembuhan sakit itu.” Itu artinya, orang sakit harus benar-benar berniat menyedekahkan hartanya secara pantas untuk kesembuhannya. Seperti kisah-kisah orang saleh pada masa lalu. Saat ditimpa penyakit berat, mereka mengalirkan sumur untuk kepentingan orang banyak, menyedekahkan hasil panennya, memerdekakan budak, menghibahkan perhiasannya dan lain-lain. Dengan izin Allah, mereka mendapat kesembuhan tanpa bantuan medis.
Aku yakin dengan kisah-kisah itu adalah bagian dari keajaiban sedekah. Kuikuti nasehat baik itu. Dalam kondisi kita divonis tak tertolong lagi, yang kita pikirkan adalah benar-benar ingin berbuat yang terbaik. Rasanya kesiapan diri total untuk berkorban harta itu memang munculnya saat kita berada di ambang kematian. Aku berusaha semampuku untuk kesembuhan dan hasilnya aku pasrahkan pada-Nya. Aku yakin pertolongan-Nya akan datang tak terduga.
Allah menghiburku di suatu hari. Meskipun hingga kini aku belum percaya dengan kejadian itu. Tapi aku merasa bersyukur, ada seorang misterius yang datang menghiburku saat sakitku sedang pada titik di puncak kritis.

Sore itu, rombongan ustad dan santrinya datang menjengukku. Aku mendengar suara kendaraan yang mereka bawa di parkir depan rumah. Tiba-tiba seorang perempuan berjilbab putih, bergaun lebar dan berhidung mancung masuk ke kamarku. Lalu menyentuh kakiku dan membelainya lembut. Ia bertanya, “Sakit apa?” Aku bingung harus menjawab apa. Bukankah dokter saja tidak tahu jenis sakitnya. Aku jawab saja, kakiku lemas. Ia bilang, “Kasihan sekali.” Ia memijit-mijit kakiku. Wanita itu pun mengenalkan diri dan mengatakan rombongan ustad. Hanya beberapa menit ada di kamarku, ia pun pamit untuk ke ruang tamu.
Namun, betapa kagetnya saat tak seorang pun dari anggota rombongan itu yang membawa istri atau keluarga perempuan. Rombongan itu semuanya laki-laki. Mereka hanya bengong mendengar penjelasanku. Meskipun bulu kudukku sedikit meriding, tapi aku berhusnudzan saja, semoga itu adalah makhluk baik yang dikirim untuk menghiburku. Bukankah seorang lelaki saleh yang bernama Imron bin Husein, pada saat sakitnya selalu dikunjungi malaikat yang menyapanya setiap hari. Meskipun keimananku tak sehebat keimanan Imron bin Husein, tapi tak ada salahnya aku berharap seperti yang terjadi pada lelaki saleh itu.
Aku membaca dan menulis pada saat sakit itu. Aku tidak mau lagi mengikuti bayangan-bayangan buruk yang kuciptakan sendiri. Aku menghapus tentang vonis, prediksi dan ramalan-ramalan dari manusia. Aku siap mengikuti kehendak-Nya saja. Saat ada keinginan untuk memakai kursi roda, keluarga dan teman-teman menentangku. Sebab, aku tidak akan termotivasi untuk sehat. Selamanya akan tergantung pada alat bantu. Benar, aku tak boleh punya pikiran untuk memakai kursi roda.
Setiap hari, aku selalu menepuk-nepuk kakiku. Membacakan doa dan mengurut sendiri dari atas ke bawah. Usai salat lima waktu aku mengusapnya dengan air putih yang telah kubacakan doa dari ayat-ayat Alquran. Aku menjadi tabib untuk sakitku sendiri. Berulang-ulang kali, aku berkata, “Aku bisa! Aku sembuh! Aku pasti bisa!” Kutepuk kakiku dan mengatakan, “Aku kuat!” “Sembuh dengan ijin Allah.” Aku terus mengatakan seperti itu untuk menguatkan keyakinanku. Aku harus yakin dan husnudzan bahwa Allah akan memberikan kesembuhan. Meskipun adakalanya saat mengatakan, “Aku bisa!” tiba-tiba airmataku menetes lagi.
Pertolongan Allah memang indah dan benar adanya. Dia memberiku kesembuhan. Benda misterius yang ada di perutku hilang. Kulitku yang menghitam, akhirnya mengelupas. Aku berganti kulit. Rambutku tumbuh kembali layaknya rambut seorang bayi. Perlahan kakiku bisa digerakkan. Aku belajar merangkak, berpegangan pada dinding dan benda-benda yang ada di dalam rumah. Lalu belajar melepaskan pegangan tangan saat berjalan. Kebahagiaan pun datang, aku benar-benar bisa berjalan kembali bahkan berlari. Subhanallah, aku merasa terlahir kembali. Memiliki kulit baru, rambut baru, dan semangat hidup yang baru. Tangisku kali ini bercampur dengan senyuman. Alhamdulilah, atas pertolongan-Nya.
Ternyata tulisan yang kubuat saat sakit sudah setebal satu buku tulis. Langsung kuketik. Aku ingat tekadku saat sakit, “Sebelum kehilangan semuanya, berkaryalah!” Ya, aku harus menghasilkan karya. Usiaku 30an tahun waktu itu. Tak  apa, tak ada kata terlambat untuk memulai. Jika sebelum itu aku hanya mengirim tulisan-tulisanku ke media, tapi setelah sakit ini, keinginanku semakin kuat untuk memiliki sebuah buku hasil karya sendiri. Sayang sekali, aku tak memiliki pengetahuan cara mengirim naskah ke penerbit. Aku gaptek sekali. Bahkan yang kudengar, untuk membuat buku kita diterbitkan harus melalui proses seleksi beberapa bulan. Jika naskah tidak diterima, maka penantian berbulan-bulan itu berbuah hampa. Rumit dan kecil harapan bisa diterima. Itu menurutku waktu itu.
Langkah pertamaku, adalah menghubungi seorang penulis yang bukunya pernah kubeli. Kebetulan ia mencantumkan nomor handphone di bukunya. Kabarnya, ia sudah menerbitkan 46 buku nonfiksi. Baiklah, tak ada salahnya aku minta bantuannya menilai tulisanku sebelum mengirimkannya ke penerbit. Alhamdulilah, ia bersedia dan menyuruhku mengirimkan naskah yang sudah kutulis. Karena aku gaptek, belum bisa menggunakan email, maka naskah setebal itu kukirim via pos. Penulis itu berkomentar, “Ya ampun Mbak, kalo dalam bentuk print out kayak gini, bisa dua tahun saya membacanya. Kirim ulang lewat email!” Wah, aku benar-benar tidak paham email. Meskipun sudah dibuatkan kakakku tetapi tak mengerti cara menggunakannya.
Akhirnya, kulupakan saja meminta bantuan penulis itu untuk menilai karyaku. Sebab belum bisa mengirimkan lewat email. Rupanya, penulis itu diam-diam membacanya meskipun naskahku dalam bentuk print out. Ia bilang naskahku layak untuk dikirim ke penerbit. Aku senang sekali seorang penulis yang telah menghasilkan banyak buku, menilai karyaku layak dikirim ke penerbit. Namun, lagi-lagi terbentuk masalah ke’gaptek’an. Aku tidak bisa mengirimnya lewat email. Ya sudah, lagi-lagi kulupakan saja.
Tanpa diduga, suatu hari manager sebuah penerbitan meneleponku. Dengan santun, ia mengenalkan nama dan nama penerbit tempatnya bekerja. Lalu mengatakan tertarik dengan naskahku dan berniat untuk menerbitkan. Tentu saja aku kaget. Aku tidak pernah mengirimnya pada penerbit. Aku kira itu modus penipuan, seperti penipuan-penipuan yang pernah dialamatkan ke nomor handphoneku. Ada penipuan hadiah mobil, sepeda motor, hingga uang tunai.
Namun, manager penerbit itu meyakinkanku bahwa ia benar-benar telah membaca naskahku yang dibawa penulis yang pernah kumintai bantuan menilai sebelumnya. Katanya, tertarik menerbitkannya. Tentu saja aku senang sekali. Benarkah? Rasanya tak percaya. Aku tidak perlu menawarkan naskah ke penerbit, tidak perlu ngantri berbulan-bulan, tidak perlu lobi-lobi. Justru penerbit itu sendiri yang menawarkan untuk menerbitkan karyaku, tanpa ngantri dan tanpa biaya. Bahkan, bukuku dipasarkan ke Toko Buku Gramedia seluruh Indonesia.
Sudah pasti aku tidak menolak. Sebagai penulis pemula, senangnya bukan kepalang ada penerbit yang melamar karyaku. Aku sangat berterima kasih sekali. Bagiku, semua itu semata-mata atas kehendak-Nya. Bukan karena tulisanku yang bagus dan hebat, tetapi semua itu tak lepas dari andil-Nya yang telah tercatat dalam buku desain yang Maha Indah. Inilah salah satu dari berkah sakitku.
Penerbit itu mewujudkan semuanya. Ia memintaku merevisi selama lima hari, agar tulisanku tidak bergenre remaja. Lalu memintaku mengirim lewat email. Kali ini, aku sanggupi. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Atas bantuan penjaga warnet, naskahku sukses terkirim lewat email. Penerbit itu benar-benar memenuhi janjinya. Surat kontrak royalty kutandatangani dan bukuku tersebar di 46 toko buku Gramedia se-Indonesia. Termasuk toko-toko buku besar lainnya.
Aku masih belum percaya dengan semua kejadian itu. Allah seperti memudahkan jalan itu dan memberikan begitu saja apa yang kuinginkan. Disaat aku mulai bertekad untuk menghasilkan karya, dan ada kesungguhan mewujudkannya ternyata Allah telah menyiapkan jawaban yang sangat indah di hadapanku. Luar biasa. Aku bersyukur dan berterima kasih pada tim penerbit itu yang telah menghargai karya sederhana seorang pemula dan menorehkan kebahagiaan di hati seorang manusia yang baru saja terlepas dari keterpurukan.
Ketika angka penjualan bukuku di Gramedia sudah mencapai angka 400 eksemplar lebih dan menerima royalty pertama kalinya, aku semakin yakin bahwa aku harus semangat menghasilkan karya yang bermanfaat, sebelum kehilangan semuanya. Jika karyaku dinilai tak memiliki manfaat bagi pembacanya, setidaknya aku telah berbagi menyebarkan kebaikan. Bukankah menyebar kebaikan sekecil apapun akan dicatat sebagai amal ibadah? Tak ada kebaikan yang sia-sia. Demikian pula, tak ada kata lelah dalam menyebar kebaikan. Itu artinya, harus terus menggelorakan semangat berdakwah bil qalam. Mari kita berkarya, sebelum kehilangan semuanya. Kehilangan waktu, kesempatan, kesehatan dan umur kita.
*) Penulis adalah Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, berdomisili di Malang, Jawa Timur
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Sayembara Lomba Cipta Cerpen Tingkat Pelajar dan Mahasiswa/Umum se-Indonesia

Tema: Masalah kemiskinan, anak jalanan, dan orang terlantar
Deadline: 5 Desember 2012
Pengumuman Pemenang: 15 Desember 2012

Setelah sukses menggelar Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi Tingkat Nasional 2012, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia kembali menggelar event menulis yang difokuskan pada Lomba Cipta Cerpen untuk Pelajar, Mahasiswa/Umum se Indonesia.
Lomba ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat menulis sekaligus memberikan apresiasi terbaik kepada penulis-penulis muda Indonesia berbakat. Lomba ini  terbuka untuk umum (baik muslim atau non muslim, anggota FAM atau non anggota dan tidak dibatasi usia).
Ketentuan/kriteria Lomba Cipta Cerpen sbb:

1. Peserta adalah Warga Negara Indonesia, termasuk yang berdomisili di luar negeri, tidak dibatasi umur, dan hanya dibuktikan dengan kepemilikan Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/KTP.

2. Peserta lomba yang telah terdaftar sebagai anggota FAM Indonesia dengan mengantongi nomor ID keanggotaan, tidak dipungut biaya (gratis). Peserta lomba yang belum menjadi anggota FAM Indonesia atau tidak berniat/tidak bisa menjadi anggota FAM, maka harus mengikuti ketentuan sbb:
a). Bagi peserta lomba yang berstatus pelajar (SD, SMP, SMA) mengirim biaya pendaftaran peserta lomba sebesar Rp 15.000,-
b). Bagi peserta lomba yang berstatus Mahasiswa/Umum, mengirim biaya pendaftaran peserta lomba sebesar Rp 20.000/-.
c). Bagi peserta lomba yang berminat menjadi anggota FAM Indonesia harus melakukan registrasi keanggotaan terlebih dulu. Registrasi melalui Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela (No. Hp. 0812 5982 1511). Atau add facebook “ALIYA NURLELA DUA.” Setelah melakukan registrasi keanggotaan dan mengantongi nomor IDFAM, maka saat mengikuti lomba tidak perlu membayar biaya pendaftaran.
d. Pengiriman biaya pendaftaran peserta lomba, melalui nomor rekening Aliyah Nurlaella BNI Cab. Kediri Nomor 0257598722.  Atau rekening Aliyah Nurlaella BRI Cabang Malang Unit Kasembon Nomor 6370-01-003143-53-3. Bukti transfer dikirim via email bersamaan dengan pengiriman naskah.
3. Naskah lomba harus asli karya sendiri, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang tidak diikutsertakan pada lomba yang bersamaan.
4. Cerpen bertema sosial, khususnya tentang masalah kemiskinan, anak jalanan dan orang terlantar. Cerpen harus mengandung kebaruan, nilai-nilai moral, dan memberi pencerahan kepada pembaca.

5. Cerpen ditulis/diketik komputer dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

6. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Desember 2012 di blog resmi FAM Indonesia di: http://famindonesia.blogspot.com, atau di grup facebook: “FORUM AISHITERU MENULIS”.

Syarat Pengiriman Naskah:

1. Tulisan diketik rapi, ukuran kertas HVS A4/kuarto, panjang 3-6 halaman ketikan, jarak 1 ½ spasi.
2. Menuliskan biodata Peserta (ditulis dalam bentuk narasi, panjang maksimal 10 baris) yang dilampirkan di lembar akhir naskah cerpen.

3. Cerpen yang dikirim maksimal 2 (dua) judul.
4. Nama penulis dicantumkan di bawah judul.
5. Naskah dikirim dalam bentuk file dan disertai surat pengantar di badan email. Isi surat pengantar adalah menyebutkan nama pengirim naskah, asal daerah, nomor ID (apabila anggota resmi FAM), keterangan naskah tersebut untuk diikutsertakan dalam lomba cipta cerpen tingkat nasional, naskah tersebut karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan.

6. Naskah dikirim ke panitia via email: \n
-->forumaktifmenulis@yahoo.com -->This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. --> (selambat-lambatnya tanggal 5 Desember 2012). Subjek Email ditulis: LOMBA CIPTA CERPEN FAM INDONESIA

6. Naskah Cerpen yang diikutsertakan dalam lomba ini menjadi milik panitia (hak cipta tetap pada penulis) dan berpeluang dibukukan.

DEWAN JURI:
Dewan Juri terdiri dari para penulis senior di kepengurusan FAM Indonesia Pusat.
Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak dilakukan surat menyurat.
HADIAH PEMENANG:

A. Kategori Pelajar

Juara 1:
Uang tunai Rp 1.000.000,- + Piagam Penghargaan + Paket Buku

Juara 2:
Uang tunai Rp 750.000,- + Piagam Penghargaan + Paket Buku

Juara 3:
Uang Tunai Rp500.000,- + Piagam Penghargaan + Paket Buku

TUJUH CERPEN PILIHAN AKAN MENDAPAT PAKET BUKU DARI SPONSOR.

A. Kategori Mahasiswa/Umum

Juara 1:
Uang tunai Rp 1.500.000,- + Piagam Penghargaan + Paket Buku

Juara 2:
Uang tunai Rp 1.000.000,- + Piagam Penghargaan + Paket Buku

Juara 3:
Uang Tunai Rp 750.000,- + Piagam Penghargaan + Paket Buku

TUJUH CERPEN PILIHAN AKAN MENDAPAT PAKET BUKU DARI SPONSOR.

Demikian Pengumuman Lomba Cipta Cerpen Tingkat Pelajar, Mahasiswa/Umum ini disampaikan, diharapkan kepada semua pihak dapat menyebarkan informasi ini seluas-luasnya dan semoga bermanfaat.
Pare, Kediri, 13 September 2012

FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

Monday, September 10, 2012

Jangan Sampai Alasan Menjadi Atasan


Dalam sebuah acara bedah buku "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, seorang pengunjung bertanya. Apakah untuk sukses itu harus merasakan miskin terlebih dahulu? Mungkin bagi Anda yang sudah pernah membaca novel best-seller tersebut, akan merasakan betapa hidup serba kekurangan dan keterbatasan yang dihadapi oleh sang penulis bersama anak-anak Laskar Pelangi yang lain. Namun, nyatanya, Andrea Hirata berhasil bertahan dalam kondisi tidak menyenangkan tersebut, lalu sukses sebagai penulis fiksi terkenal hingga saat ini. Selain itu, dia berhasil ke Perancis dan berkeliling Eropa sampai ke Afrika sesuai dengan impiannya. Dia berhasil mewujudkan impian besarnya!

Lalu, apa jawab Andrea Hirata dengan pertanyaan itu? Dia menjawab dengan cukup bijak, "Kalau saya terlahir menjadi orang kaya, maka saya akan lebih bisa meraih impian yang lebih tinggi lagi." Dalam arti yang lain, kalau orang itu berada dalam kondisi yang mapan dan berada, maka dia akan memiliki fasilitas-fasilitas yang bisa membuatnya meraih keinginannya. Dalam kondisi miskin saja bisa, apalagi kalau kaya! Jadi segala keadaan bukan menjadi masalah. Muncul berbagai alasan yang menghambat, tetap menjalankan tekad. Sungguh luar biasa!

Nah, seringkali kita mendasarkan hidup pada alasan-alasan yang kita buat sendiri. Mau menjadi penulis misalnya. Harus menunggu dahulu ide. Harus menanti dahulu komputer. Sudah punya komputer, masih tidak nyaman. Inginnya memiliki laptop. Akhirnya, malah dia tidak jadi menulis. Dia tidak melahirkan karya satu tulisan pun. Mengapa begitu? Karena alasan yang lebih didahulukan. Bahkan alasan-alasan itu dijadikan "atasan". Artinya, kalau dijadikan atasan, maka alasan akan lebih diutamakan. Akan ditaati. Akan dipatuhi. Persis kalau kita memiliki atasan berwujud orang.

Kita memang dilengkapi dengan akal pikiran yang sangat luar biasa, pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pikiran bisa kita gunakan sesuai keinginan. Mau berpikir positif atau negatif, itu terserah kepada kita. Nah, yang menjadi masalah adalah ketika kita selalu berpikir untuk mencari alasan dari setiap usaha yang akan kita lakukan. Mau mendaftar perguruan tinggi negeri, tidak jadi dilakukan. Alasannya, saingannya banyak. Kemampuan kita terbatas. Bahkan ada ketakutan nanti kalau sudah kuliah, biayanya akan mahal. Padahal masalah biaya adalah masalah kecil selama kita pintar. Bukankah ditawarkan banyak beasiswa?

Lalu dalam hal mencari pekerjaan. Kita sudah mendasarkan diri pada alasan banyaknya orang yang mendaftar. Kita takut akan tersingkir nantinya. Akhirnya, belum memasukkan formulir saja, kita sudah mundur. Apakah kita tidak percaya mengenai kekuatan peluang? Padahal di dunia ini selalu ada peluang, baik berhasil maupun gagal. Kalau kita sudah mundur, bukankah kita telah gagal sebelum gagal? Kalah sebelum bertanding? Lalu di mana harga diri kita sebagai makhluk yang paling sempurna di dunia ini?

Alasan memang bisa kita cari dan kita pikirkan. Jika orangnya negatif, maka tentu saja, alasan-alasan yang ada di pikirannya juga negatif. Akan tetapi, beda halnya dengan orang yang positif dan orang yang luar biasa. Alasan yang dikemukakan adalah alasan yang dahsyat, membangun dan berorientasi sukses. Misalnya, jika dia harus sukses di dunia ini dengan alasan: umur manusia itu pendek, semakin sukses di usia muda semakin baik, ingin membuktikan diri bahwa dia bisa benar-benar berhasil, ingin mengangkat derajat diri dan keluarga dan karena memang sudah diberikan bekal untuk sukses dari Tuhan Yang Maha Berkehendak. Jadi, dia tetap berjalan juga dengan alasan. Hanya, alasan-alasannya tidak sebagaimana orang negatif.

Bahkan, kalau orang yang lebih luar biasa lagi, dia tidak perlu mencari alasan, baik positif maupun negatif. Pokoknya, yang ada dalam pikirannya adalah dia harus sukses, dia harus sukses, dia harus sukses! Sebab, dia memang terlahir ke dunia ini untuk menjadi orang yang sukses luar biasa! Salam sukses luar biasa!

Time To Write


Pesan seorang sahabat yang masih menjadi perenungan hari ini: "Di pikiran kita, ada hak orang lain untuk tahu." Maka beritahulah hal yang terbaik yang Anda miliki dalam sebuah TULISAN. Pesan terbaik, walau (misalnya) hanya 2,5% saja yang bermanfaat bagi orang lain, tapi setidaknya kita sudah memberikan yang terbaik dalam hidup ini.

MENULIS adalah bahasa komunikasi lisan yang disusun kembali ke dalam bahasa tulisan, dimana pesan yang disampaikan penulis dapat diterima, dipahami, diartikan sama dengan apa yang ditulis, dipikirkan, dan disampaikan oleh penulis.

Bahasa lisan dengan sangat mudah dipahami oleh penerima pesan. Apalagi bahasa lisan yang langsung diterima oleh penerima pesan, di mana kata-kata yang diucapkan dan ekspresi mimik muka, bahasa tubuh, ekspresi seseorang dengan jelas dapat terlihat, diamati, dan diartikan
sama sesuai dengan apa yang diucapkan pengirim pesan.

Berbeda dengan bahas lisan, bahasa tulisan menggunakan tanda baca untuk mengekspresikan mimik muka dan bahasa tubuh pengirim pesan. Satu contoh pungtuasi ini, kita dapati pada tanda "!" untuk mengungukapkan seruan, perintah, atau emosi. Misalnya, "KELUAR! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi barang sedetik pun." Tanda baca lainnya seperti tanda tanya (?), garis miring, huruf tebal, huruf kapital, tanda kutip, garis bawah, dan lainnya, mewakili sejuta ekspresi.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah ketika kita ingin menuangkan bahasa lisan ke dalam goresan tinta, sehingga ide yang disampaikan bisa diterima sama dengan apa yang dipikirkan penulis; yang terpenting adalah: TIME.

TIME merupakan akronim dari :

1) Tulis saja, nanti di tengah jalan bisa diperbaiki. Tidak seperti komunikasi LISAN, bahasa tulisan, merupakan bahasa yang TIDAK LANGSUNG disampaikan oleh pengirim pesan ke penerima pesan. Maka rangkaian kata, pilihan kata, dan penyusunan kalimat yang dibuat oleh pengirim pesan ditulis sesuai dengan APA YANG DIPIKIRKAN, lalu baru di akhir penulisan dapat diperbaiki, ditambah, "dibumbui," dan dibaca kembali apakah tulisan tersebut sudah dapat menyampaikan GAGASAN POKOK apa yang ingin diungkapkan.

2) Jika kita menggunakan bahasa lisan, pembicaraan dapat keluar dari mulut, terkadang tidak dipikirkan tata bahasanya -- words come out from our mouth automatically without thinking. Biarpun begitu, saat akan menulis, tulis saja. Inspirasi akan datang bersaamaan saat kita menulis atau merancang tulisan.

3) Mulai dari apa yang dipikirkan. Langsung tuangkan apa yang ada di benak pikiran kita, ke dalam kata-kata. Gunakan "kata" yang memang milik kita, ada di dalam pikiran kita. Buatlah kalimat dari kata-kata itu, tulis saja apa yang dipikirkan. Biarkan tulisan itu mengalir seperti bahasa lisan, seperti "ngobrol" apa adanya.

4) Energi. Menulis perlu tenaga, pikiran, dan waktu. Luangkan waktu, barang sebentar saja. Bisa di pagi hari, di sela-sela waktu istirahat, atau menjelang malam hari, di saat diri ingin beristirahat di malam hari.

Mereka yang berlabel profesional, hanya perlu waktu 1 sampai 2 jam untuk mem-blocking TIME, menggunakannya untuk menuangkan ide ke dalam tulisan. Setelah itu, jadilah sebuah artikel berdasarkan inspirasi, pengalaman, dan referensi dari buku yang pernah dibaca.

***

Time to WRITE - Ayo MENULIS!

TULIS apa yang dipikirkan. Jangan khawatir kehabisan inspirasi, karena inspirasi akan datang di sela-sela kegiatan menulis. Mulai dari apa yang ada di pikiran Anda dan curahkan energi untuk itu.

Anda perlu meluangkan usaha dan waktu sejenak, untuk meninggalkan "KARYA" yang bisa dijejak rekam oleh orang lain, dalam bentuk karya maha tinggi, yaitu artikel atau buku yang bermanfaat bagi banyak orang; dan yang terpenting adalah sebagai amal jariah, INVESTASI jangka panjang menuju ILMU YANG BERMANFAAT. 

Mengajar Dengan Cinta


Adakah cinta guru kepada siswanya melebihi cintanya kepada anak kandungnya? Pertanyaan tersebut hanya untuk menggambarkan bahwa guru perlu menumbuhkan dan memelihara cinta tulusnya kepada siswa di kelas. Seberapa besar jumlah siswa di kelas, sebesar itu pula cinta tulus dibalutkan dalam alam pikiran siswa. Malam hari menjelang tidur, sang guru berdoa untuk diri, keluarga, dan siswa-siswa yang tadi pagi dijumpai di kelas. Pagi hari, semangat berangkat kerja adalah semangat para siswa yang tersenyum lembut pertanda masih membutuhkan cinta guru. 

Saat masuk kelas, senyum tulus guru menebar ke semua diri siswa. Tidak satupun anak yang terlewatkan dari sorot tulus dan jangkauan kasih sayang dari guru. Guru langsung membenamkan diri dalam suasana anak secara alami. Cara seperti itu menurut Quantum Learning, disebut bawalah dunia kita ke dunia mereka dan tariklah dunia mereka ke dunia kita.

Guru mengenali tipikal dan ciri khas siswa satu per satu sebagai bahan untuk mengemas materi.Kemudian, materi disajikan dengan kemasan yang menarik sesuai dengan kemampuan dan pemahaman siswa. Suatu saat materi dikemas dalam cerita dongeng yang menarik karena siswa pada tahun itu, setelah diidentifikasi di awal tahun, didominasi dengan kecerdasan linguistik. Padahal, materi pelajaran yang disajikan berupa matematika. Tahun berikutnya, materi yang sama, oleh guru dikemas dalam gerakan simbolis karena siswa pada tahun itu berciri kecerdasan kinestetis. Begitulah seterusnya, guru mengganti-ganti kemasan materi dan metodenya. Tiap tahun ada upaya sang guru untuk berpikir dan berinovasi meskipun tidak diperintahkan oleh atasannya.

Cinta guru adalah cinta yang seutuhnya yang keluar dari pori-pori keikhlasan dan ketulusan. Semua daya dan upaya hanya semata untuk menumbuhkembangkan siswanya. Tidak ada kerinduan yang paling hebat bagi diri kecuali rindu pada siswanya. Mata batin guru adalah mata batin siswa yang menapaki alam untuk meneruskan perjuangan kehidupan berikutnya.

Andai terdapat guru yang mempunyai ketulusan dan keikhlasan tinggi, dialah guru yang hidup pada zaman ini berdasarkan hidup diri Mahatma Ghandi. Andai ada guru yang mempunyai motivasi tinggi dan semangat bergairah, dialah wujud Sukarno yang menjelma dalam guru itu. Andai ada guru yang sabar dengan kasih sayang, dialah kesabaran yang membuncah dalam diri guru berjiwa Bunda Theresa. 

Padang yang harus dilewati untuk menjadi guru penuh cinta adalah padang yang terjal dan tandus. Di ceruk padang itu, terdapat bebatuan yang sering mengganjal perjalanan guru untuk mencpai telaga kesegaran dirinya. Kemudian, dalam padang itu, terdapat duri yang meski kecil menyakitkan. Belum lagi suasana saat melewati padang itu sangat panas karena belum ada perlindungan yang pantas untuk guru agar tidak kepanasan dan gundah berkeringat.

Namun, seganas apapun padang yang harus dilewati, jika guru itu bertekad kuat sekuat matahari menyinari bumi, tidak ada jalan yang tidak dapat ditempuh. Modal dasarnya adalah niat dalam diri, cinta sejatinya, dan ketulusan. Siswa ada dalam diri guru dan guru menyatu dalam kerling siswa yang menawan.

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan