Showing posts with label Features. Show all posts
Showing posts with label Features. Show all posts

Monday, September 10, 2012

Mengajar Dengan Cinta


Adakah cinta guru kepada siswanya melebihi cintanya kepada anak kandungnya? Pertanyaan tersebut hanya untuk menggambarkan bahwa guru perlu menumbuhkan dan memelihara cinta tulusnya kepada siswa di kelas. Seberapa besar jumlah siswa di kelas, sebesar itu pula cinta tulus dibalutkan dalam alam pikiran siswa. Malam hari menjelang tidur, sang guru berdoa untuk diri, keluarga, dan siswa-siswa yang tadi pagi dijumpai di kelas. Pagi hari, semangat berangkat kerja adalah semangat para siswa yang tersenyum lembut pertanda masih membutuhkan cinta guru. 

Saat masuk kelas, senyum tulus guru menebar ke semua diri siswa. Tidak satupun anak yang terlewatkan dari sorot tulus dan jangkauan kasih sayang dari guru. Guru langsung membenamkan diri dalam suasana anak secara alami. Cara seperti itu menurut Quantum Learning, disebut bawalah dunia kita ke dunia mereka dan tariklah dunia mereka ke dunia kita.

Guru mengenali tipikal dan ciri khas siswa satu per satu sebagai bahan untuk mengemas materi.Kemudian, materi disajikan dengan kemasan yang menarik sesuai dengan kemampuan dan pemahaman siswa. Suatu saat materi dikemas dalam cerita dongeng yang menarik karena siswa pada tahun itu, setelah diidentifikasi di awal tahun, didominasi dengan kecerdasan linguistik. Padahal, materi pelajaran yang disajikan berupa matematika. Tahun berikutnya, materi yang sama, oleh guru dikemas dalam gerakan simbolis karena siswa pada tahun itu berciri kecerdasan kinestetis. Begitulah seterusnya, guru mengganti-ganti kemasan materi dan metodenya. Tiap tahun ada upaya sang guru untuk berpikir dan berinovasi meskipun tidak diperintahkan oleh atasannya.

Cinta guru adalah cinta yang seutuhnya yang keluar dari pori-pori keikhlasan dan ketulusan. Semua daya dan upaya hanya semata untuk menumbuhkembangkan siswanya. Tidak ada kerinduan yang paling hebat bagi diri kecuali rindu pada siswanya. Mata batin guru adalah mata batin siswa yang menapaki alam untuk meneruskan perjuangan kehidupan berikutnya.

Andai terdapat guru yang mempunyai ketulusan dan keikhlasan tinggi, dialah guru yang hidup pada zaman ini berdasarkan hidup diri Mahatma Ghandi. Andai ada guru yang mempunyai motivasi tinggi dan semangat bergairah, dialah wujud Sukarno yang menjelma dalam guru itu. Andai ada guru yang sabar dengan kasih sayang, dialah kesabaran yang membuncah dalam diri guru berjiwa Bunda Theresa. 

Padang yang harus dilewati untuk menjadi guru penuh cinta adalah padang yang terjal dan tandus. Di ceruk padang itu, terdapat bebatuan yang sering mengganjal perjalanan guru untuk mencpai telaga kesegaran dirinya. Kemudian, dalam padang itu, terdapat duri yang meski kecil menyakitkan. Belum lagi suasana saat melewati padang itu sangat panas karena belum ada perlindungan yang pantas untuk guru agar tidak kepanasan dan gundah berkeringat.

Namun, seganas apapun padang yang harus dilewati, jika guru itu bertekad kuat sekuat matahari menyinari bumi, tidak ada jalan yang tidak dapat ditempuh. Modal dasarnya adalah niat dalam diri, cinta sejatinya, dan ketulusan. Siswa ada dalam diri guru dan guru menyatu dalam kerling siswa yang menawan.

Thursday, September 1, 2011

Ada yang Berbeda Berlebaran di Banda Aceh

Matahari hampir berada tepat di atas kepala. Beberapa jam yang lalu, seluruh umat muslim baru saja menunaikan salat Idul Fitri yang diawali dengan takbir yang dikumandangkan hampir di setiap mesjid.  Saling menjabat tangan dan mengucapkan kata maaf mengawali kegiatan di hari nan fitri.

Tak seperti hari-hari biasanya, suasana di hari pertama lebaran di Banda Aceh tampak berbeda. Tidak banyak ditemui kendaraan roda dua atau roda empat yang melintasi sepanjang ruas jalan di Ibu Kota Provinsi Aceh. Begitu juga dengan pusat-pusat pertokoan seperti Pasar Aceh dan seputaran jalan Moh.Jam serta Pasar Peunayong tampak sepi dari pengunjuang. Hanya satu-dua toko yang dijaga oleh warga keturunan cina yang berjualan.

Jalanan yang sepi tersebut ternyata dimanfaatkan oleh beberapa orang anak muda. Mereka memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, diatas laju rata-rata berkendaraan di dalam kota yaitu 40 km/jam.

Gerombolan pemuda tersebut bergerak dari arah Simpang Lima menuju ke taman kota di depan Mesjid Raya Baiturrahman. Taman kota yang semula sepi mendadak ramai. Tanah lapang yang hanya dihuni oleh pohon-pohon, sekarang juga didiami oleh bangku serta meja yang tersusun rapi. Setiap meja dihiasi dengan botol saos, kecap, cuka serta gelas air mineral diatasnya. Seperti disulap dengan mantra oleh beberapa pedagang yang menggelar dagangannya di sana.

“Bang jus pokat satu,” ujar salah seorang pemuda pada seorang pedagang di sana. Mereka lantas duduk di salah satu kursi yang dinaungi oleh dahan pohon yang rimbun. Dari kejauhan, tampak satu keluarga tengah memarkirkan kendaraannya di depan taman yang telah beralih fungsi tersebut. Mereka memilih untuk duduk di tempat yang langsung menghadap menara mesjid bersejarah di Kota Banda Aceh.

Ternyata tidak hanya ada satu pedagang yang ada di tempat tersebut. Tak berselang satu meter jaraknya, ada sekitar lima gerobak lebih tampak berjejer rapi di pinggiran taman. Makanan yang mereka tawarkanpun beragam, mulai bakso, mie, aneka jus, dan aneka minuman lainnya bisa dinikmati disana.

Dari mereka The Globe Journal memperoleh informasi, bahwa mereka hanya berjualan pada saat lebaran saja. Salah satunya Inur. Perempuan bergamis ungu ini mengaku bahwa sehari-harinya dia tidak menggelar dagangannya. “Biasanya tidak jualan. Ya kita jualan saat lebaran aja mbak,” akunya pada The Globe Journal, Rabu (31/8).

Satu mangkuk bakso yang dijual Inur dihargai senilai Rp 10.000,- dan ternyata masih diminati oleh pembeli yang mencari jajanan di hari pertama lebaran ini.  “Kalau pakai ayam ya Rp 10.000,- tapi kalau nggak pake ayam Rp 8.000 aja mbak. Tergantung juga permintaan anak-anak. Kadang mereka mintanya nggak pake ini-itu, kita kurangi lagi harganya,” jelasnya sambil mempersiapkan dagangannya.

Para pembeli mulai tampak ramai menjelang pukul 12.30 Wib. “Hari ini agak sepi karena baru hari raya pertama, biasanya hari raya kedua dan ketiga baru ramai sama anak-anak,”ujarnya. Mereka datang ke taman ini bersama teman atau bersama keluarga untuk sekedar mengganjal perut sembari bersantai.

Salah satunya adalah Risma yang tampak berceloteh ria dengan adik dan keluarganya. Taman yang di sulap menjadi tempat jajanan ternyata sangat diminati oleh warga Kota Banda Aceh.

Lain halnya jika kita berbelok menuju arah Blang Padang. Amatan The Globe Journal rumah di sepanjang ruas jalan yang dihuni oleh orang-orang penting di Provinsi Aceh ini tampak ramai. Halaman rumah yang biasanya dihuni oleh mobil-mobil mewah kini diganti dengan tenda-tenda dan teratak yang terpasang rapi.

Deretan rumah Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar dan Walikota Banda Aceh, Mawardi Nurdin kini bisa dimasuki oleh masyarakat biasa untuk bersilaturahmi dengan penguasanya.

Hari Raya Idul Fitri dirasakan berbeda oleh setiap orang. Di hari penuh kemenangan ini mereka bisa bersilaturahmi dengan siapa saja tanpa perlu memperlihatkan strata sosial yang disandangnya. Di hari itu pula, mereka bisa mencari rezeki dengan sedikit mengubah fungsi taman kota dan menyulapnya menjadi ramai. Dan dihari yang sama pula terlihat kota yang biasa dibisingkan oleh kendaraan bermotor dan aktivitas yang padat menjadi sepi.

The Globe Journal

Friday, August 26, 2011

Jika Nik Aziz Gubernur Aceh?

Illustrasion
Fakhruddin Lahmuddin bersama kawan-kawannya dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar bersilaturrahmi ke Negeri Kelantan, Malaysia. Mereka ingin menjumpai seorang pemimpin rakyat yang mungkin sekali tak ada di daerah lain, apalagi di Aceh. 

Namanya Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz bin Nik Mat. Lebih akrab disapa “Nik Aziz”. Dia menjabat Menteri Besar (gubernur) Negeri Kelantan sejak 20 tahun terakhir. Karena kepemimpinannya, oleh rakyat, ia digelar Umar bin Khattab-nya Kelantan. Musabab itulah, Fakhruddin dan kawan-kawan ingin belajar pada gubernur berusia 84 tahun itu.

Saat tiba di depan pendopo, rombongan disambut sekretaris gubernur; karena Nik Aziz sedang dalam perjalanan pulang dari Kuala Lumpur. Lalu mereka dipersilakan duduk di ruang pertemuan berkapasitas 200-an orang. Sungguh, mereka terpana. Kursi dan meja kayu, kipas dan mimbar usang, pula perabotan lainnya, tampak sederhana, jauh sekali dengan di Aceh atau provinsi lainnya.

Tak berapa lama kemudian Nik Aziz hadir. Ia berjubah putih (selalu demikian, menurut cerita warga Kelantan). Mereka selanjutnya beramah-tamah. Usai Fakhruddin dan kawan-kawan menyampaikan maksud kedatangannya, Nik Aziz pun berbicara.

“Nak jaga dan bangun Kelantan tak sulit bagi saya. Yang sulit adalah nak jaga diri saya dari godaan duniawi,” tutur Nik Aziz menanggapi penilaian Fakhruddin dan kawan-kawan tentang ketenteraman Kelantan, dimana mayoritas penduduknya Melayu asli.

Pernyataan tersebut memantik semangat Fakhruddin untuk terus mengorek sisi menarik lain dari seorang Nik Aziz. Ketua MPU Aceh Besar itu pun memerolehnya dari melihat sendiri maupun berdasarkan cerita penduduk Kelantan.

Pertama, begitu dilantik jadi Menteri Besar (MB) Negeri Kelantan, dinas pembangunan umum setempat segera menawari Nik Aziz untuk mengaspal dan memperbaiki jalan sekitar rumah dan pesantren miliknya. “Jangan, jangan! Kenapa sebelum saya jadi MB tak diperbaiki? Tak boleh,” tegasnya. Orang dinas terdiam.
Kedua, Nik Aziz selama jadi gubernur tak pernah tidur di pendopo. Ia menilai, kalau tidur di pendopo harus menyewa guard (satpam) dan tukang kebun, misalnya. Lalu pekerja itu digaji dengan uang negara, dimana uang itu seharusnya dipakai untuk menyejahterakan rakyat. Ia tak mau begitu. Gubernur Aceh sekarang juga tak mau tidur di pendopo, tapi berbeda tujuannya dengan Nik Aziz.

Ketiga, Nik Aziz tinggal di rumah yang sangat sederhana. Rumahnya berkonstruksikan kayu. Kecil. Padahal sampai kini ia sudah punya 10 anak dan 55 cucu dari istri tunggalnya. Fakruddin dan kawan-kawan terpana lagi ketika berkunjung ke rumahnya. Tak ada satupun pengawal yang jaga-jaga di rumah pemimpin salah satu negara bagian Malaysia itu.

Keempat, Nik Aziz pelayan tamu. Suatu kali ada wartawan asing ingin menjumpai Nik Aziz di rumahnya. Usai dipersilakan masuk oleh seorang lelaki tua, wartawan itu menunggu sang gubernur. Tak lama kemudian, lelaki tua tadi keluar dengan membawakan minuman.

“Saya ingin menjumpai Nik Aziz, apa dia ada di sini?” kira-kira begitu tanya si wartawan. “Inilah saya Nik Aziz yang kamu maksud,” sahut lelaki tua itu. Si wartawan terkejut dan malu. Lalu satu pertanyaan menarik darinya timbul lagi kemudian, “Anda seorang gubernur, apa tidak takut tinggal di rumah dengan tak ada seorangpun guard?” Dengan mantap Nik Aziz menjawab, “orang yang perlu pengawal adalah orang yang punya musuh, punya masalah. Saya tak punya masalah dengan siapapun. Guard saya adalah beribadah kepada Allah.”

Kelima, Nik Aziz turut membersihkan tandas (sebutan WC oleh orang Malaysia). Suatu kali, sekira jam 3 pagi waktu Malaysia, seorang santri melihat ada bayang-bayang seorang lelaki di sebuah WC pesantren milik Nik Aziz. Ia heran, yang membersihkan toilet seharusnya tugas santri. Begitu didekatinya, ternyata lelaki itu pemimpin pesantren tempat dia belajar, yaitu Nik Aziz. Ia merasa malu.

Keenam, suatu malam, seorang warga keturunan Cina kebingungan karena mobil yang dikemudinya mogok. Lalu sebuah mobil tua berhenti. Seorang lelaki tua turun dari dalamnya. Lalu membantu si Cina itu. Bahkan ditemani sampai ke bengkel. Esok pagi, ia terkejut. Ia melihat di koran, ada foto orang yang membantunya semalam. Ternyata lelaki tua itu Nik Aziz.

***

Begitulah Nik Aziz. Fakhruddin Lahmuddin menceritakannya beberapa hari setelah ia pulang dari Kelantan. Tepatnya, Ketua MPU Aceh Besar itu mengisahkan kepada saya pada Jumat 27 Mei 2011 yang panas, usai mengajar di Fakultas Dakwah IAN Ar-Raniry Banda Aceh. “Masih banyak cerita menarik lain tentang Nik Aziz selama jadi gubernur, cerita yang nyaris mustahil ada pada diri pemimpin di Indonesia maupun negara lain,” katanya. Dia tidak sedang berbohong.

Adakah calon gubernur di Aceh seperti gubernur Kelantan iu?
Aceh di ambang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). “Sulit menemui calon pemimpin seperti Nik Aziz di Aceh, maka patut memilih yang mendekatinya,” kata pemimpin Ponpres Umardian itu.

Lalu dia menganalogikan pada seorang sopir bus penumpang yang mengalami situasi membahayakan. Tiba-tiba saja, sekitar tiga meter di depannya seorang lelaki tua sedang menyebrangi jalan dengan melangkah pelan, sendiri. Di kanan, bus lain berusaha menyalipnya. Sedang di kiri,  ada jurang yang dalam. Sopir gamang. Kalau menabrak lelaki tua itu pasti mati. Kalau mengelak atau mengerem, bus pasti masuk jurang dan semua penumpang kemungkinan besar akan mati. “Pilih mana?”

“Begitu juga dalam hal memilih pemimpin,” katanya. Bila seandainya semua calon pemimpin tergolong zalim–baik tingkat tinggi maupun rendah–, maka patut memilih satu pemimpin yang zalimnya paling rendah di antara lainnya. Bila pada cerita sopir di atas, lebih bagus menabrak seorang lelaki tua itu daripada masuk jurang lalu semua penumpang mati.

Kemudian Fakhruddin menyebutkan satu hadits sahih riwayat Bukhari yang artinya, “Rasulullah pernah bersabda, `Bantulah saudaramu yang zalim dan yang terzalimi`. Lalu sahabat rasul bertanya,`Ya Rasulullah, kami tahu bagaimana cara membantu orang yang terzalimi, tapi bagaimana kami membantu orang yang zalim?` Rasulullah menjawab, `cegah ia dari melakukan kemungkaran.”

Musim Pilkada banyak “orang zalim” yang minta dibantu saat pemilihan. Bila ada pemimpin–yang sudah bisa dipastikan kalau kepemimpinannya kelak akan menyengsarakan rakyat–meminta bantuan pada kita untuk memilihnya, maka bantulah dia.

“Caranya, jangan memilihnya saat pemilihan berlangsung. Jika kemudian ditanya kenapa tak bantu, cukup dijawab, ‘saya sudah bantu Anda supaya tidak menjadi pemimpin yang zalim. Supaya kejahatan tidak terus bertambah. Maka saya bantu menguranginya dengan tidak memilih Anda saat pemilihan.’ Jika ada calon lain yang minta bantu juga, hadapi dengan cara yang sama,” katanya.

Maka jalan untuk menemukan Nik Aziz di Aceh akan terbuka meski dalam jangka yang lama, dengan catatan konsep “membantu orang zalim” itu harus konsisten dipegang rakyat. Jika tak besar gengsi, pemimpin di Indonesia patut meniru Nik Aziz. Dan andai saja Nik Aziz Gubernur Aceh sekarang, maka majulah Aceh.[]

Makmur Dimila
Harian Aceh

Sunday, August 21, 2011

Asal Mula Nama Aceh

Aceh adalah nama sebuah Bangsa yang mendiami ujung paling utara pulau sumatera yang terletak di antara samudera hindia dan selat malaka. 
Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda. Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh yang dirangkum dari berbagai catatan lama dan di kutip dari berbagai Sumber.
1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk.
Muhammad Said mengutip keterangan dari catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.
Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.
2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.
3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mante (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.
Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah.
Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho dan Tangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya.
Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri.
Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.
4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.
5. Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.
6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).
Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu), Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.
7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.
8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi. Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum.”
Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik. Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).
9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamai pohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.
10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.
11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.
12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.
13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Aceh adalah dari suku Mantir (Manteu, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.| 
Aceh Traffic

Saturday, August 20, 2011

Kopi Gayo di Aceh kepunyaan Belanda?

Sedih tapi memang seperti ini adanya. Kopi merupakan kebanggan bangsa Indonesia, namun kita baca dulu yang satu ini. Kita menemukan artikel tentang permasalahan hak paten kopi Aceh Gayo yg dipegang oleh perusahaan Belanda. Ini dia artikelnya:



Merek dagang Kopi Arabika Gayo yang telah diklaim milik seorang pengusaha Belanda seusai didaftarkan ke WTO di Eropa tiga tahun lalu akan kembali ke daerah asalnya. Konflik perebutan hak merek kopi antara Pemerintah Belanda dan Indonesia belum tuntas, tetapi hak Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Gayo menjadi bukti kuat kepemilikan.


Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Aceh Tengah, Ir Sahrial yang didampingi Kabid Produksi dan Perlindungan Tanaman, Hermanto SP,  akhir pekan lalu mengatakan, pasca-terbitnya IG Kopi Arabika Gayo, pengusaha Belanda itu tidak dapat lagi mengklaim merek Kopi Gayo miliknya karena harus dibubuhkan label IG pada setiap bungkusannya.


Namun, katanya, Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) harus melobi organisasi perdagangan Eropa guna mensosialisasikan IG Kopi Arabika Gayo. Kelompok masyarakat ini juga harus mampu meyakinkan mereka bahwa Kopi Arabika Gayo hanya dibudidayakan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues.


Disebutkan, cita rasa Kopi Arabika Gayo mulai dikenal dan banyak ditemui di pusat-pusat (terminal) penjualan kopi terkenal seperti Starbuck dan lainnya. “Kita akan rebut kembali nama Kopi Arabika Gayo dan dikembalikan ke daerah ini,” tegas Hermanto SP. Secara geografis, IG Kopi Arabika Gayo milik petani pada tiga daerah yakni Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, “Budidaya kopi Arabika Gayo hanya ada pada tiga daerah tersebut dan tidak ada di Belanda dan daerah lainnya, sehingga orang luar tidak berhak mengklaim merek Kopi Arabika Gayo sebagi miliknya,” ujar Hermanto. Sedangkan harga biji kopi Arabika Gayo terus membaik. Pada 2010, biji hijau Rp 32.000/kg, kini Rp 55.000/kg dan biji kopi hijau siap ekspor Rp 60.000/kg.


Jumlah petani Kopi di Aceh Tengah 34.476 kepala keluarga (KK) dengan luas lahan 48.000 hektare dan tingkat produktivitas tahun 2010 sebesar 721 kilogram biji kopi hijau per hektare. Sedangkan luas areal kopi di Kabupaten Bener Meriah 40.000 hektare yang melibatkan 20.000 KK petani.


Sementara, dari 59 perusahaan pengekspor kopi via Pelabuhan Belawan Sumatera Utara, sekitar 40 ekspotir kopi berasal dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, dan terbesar adalah PT Sari Makmur Tunggal Mandiri, milik WNI keturunan asal Medan. Volume ekspor kopi via pelabuhan Belawan tahun 2008 tercatat 54.402 ton, lebih dari setengahnya berasal dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.

Sumber : http://thatslifecoffee.wordpress.com/2011/08/20/kopi-aceh-gayo-kepunyaan-belanda/

Wednesday, August 17, 2011

Laskar Cut Nyak Dhien dan Damai Aceh (2)

Raibah bukan satu-satunya kombatan perempuan yang enggan berkecimpung di dunia politik dan membicarakan kembali masa lalu konflik Aceh. Adalah Bunyani (31), warga Desa Alay, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan.

Kedua perempuan ini lebih memilih terus bergelut dalam aktivitas sosial kemasyarakatan, terutama kegiatan penguatan dan peningkatan sumber daya manusia, di desa mereka masing-masing.

Hampir tak ada waktu luang bagi Bunyani saat ini. Aktivitasnya sebagai kader Pos Yandu dan anggota Tuha Peut (Lembaga Petua desa) di Desanya membuat Bunyani larut dalam kesehariannya. “Bagi saya hidup dengan aktivitas sosial sudah menjadi bagian diri saya, bahkan sejak saya belum bergabung dengan pasukan Cut Nyak Dhien,” kenang Bunyani.

Bunyani mengaku, keinginan untuk bisa membangun kesejahteraan rakyat ini pula yang mendasari dirinya memutuskan mau untuk menjadi bagian dari pasukan Cut Nyak Dhien.

“Saya bergabung sekitar tahun 2002, ikut latihan fisik dan pernah juga latihan memegang senjata, walau tidak pernah mengoperasionalkannya. Karena saya dinilai aktif akhirnya saya dipilih dan dilantik menjadi pelatih,” ujar perempuan kelima dari enam bersaudara ini.

Hanya setahun Bunyani bergelut dengan aktivitas latihan militer, kemudian dia memutuskan untuk kembali ke desanya dan hidup dengan keluarganya. “Sempat lebih dari enam bulan saya berdiam di Kota Banda Aceh karena dicari-cari oleh aparat keamanan, dan kemudian saat saya kembali ke kampung. Saya dikenakan wajib lapor ke pos aparat, dan ini sangat tidak mengenakkan, apalagi saya juga menerima berbagai intimidasi,” katanya.
Saya bergabung sekitar tahun 2002, ikut latihan fisik dan pernah juga latihan memegang senjata
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3126491' border='0' alt='' /></a>
Kalau diingat-ingat, kata Bunyani, kondisi masa lalu ini selalu membuatnya trauma. Bunyani mengaku tak bangga menjadi anggota pasukan, tapi ia mengaku bangga bisa mendapat pengalaman dalam membimbing dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat, walau saat ini kesejahteraan itu belum terpenuhi.

“Masih banyak masyarakat yang miskin, karena Pemerintah dan orang-orang yang berkuasa hanya mementingkan kepentingan mereka semata,” katanya.

Bagi Raibah dan Bunyani, proses damai yang sudah memasuki tahun keenam di Aceh ini bukanlah sekadar keinginan mereka dan masyarakat Aceh, melainkan harapan dan cita-cita anak cucu dimasa yang akan datang.

“Mungkin saat inilah perjuangan yang sebenarnya harus dilakukan, yakni mempertahankan damai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta berpikir maju, dan Pemerintah harus bisa menjadi pemimpin bagi rakyatnya, apa yang menjadi hak rakyat, hendaknya dipenuhi,” tambah Bunyani.

Ruh perdamaian Aceh tidak akan berjalan dengan baik, jika masih ada kesenjangan yang tajam antara perkembangan sektor perkotaan dan pedesaan, masih tingginya tingkat kemiskinan dan jumlah pengangguran. Karena hakikat perjuangan rakyat Aceh adalah untuk keadilan, kesejahteraan dan demokrasi.

Bunyani dan Raibah hanya segelintir masyarakat di Aceh yang menginginkan Perdamaian Aceh berlangsung hingga seumur hidup... 

kompas.com

Laskar Cut Nyak Dhien dan Damai Aceh (1)

" Raibah, mantan anggota pasukan Cut Nyak Dhien tengah menggerai daun-daun nilam yang sedang dijemurnya di halaman rumahnya di Desa Kemumu Hulu, Kecamatan Labuhan Haji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (12/8/2011) lalu."
Semerbak wewangian yang ditebarkan daun-daun nilam menjadi ucapan selamat datang di rumah mungkil berukuran 42 meter persegi itu. Bangunan sederhana semi permanen tersebut terlihat sepi, menunjukkan penghuninya semua sedang beraktivitas di luar rumah.

Raibah, sang pemilik rumah, sibuk menggerai daun-daun nilam yang sedang dijemurnya di halaman. Terik matahari lumayan menyengat hari itu. “Cuma ada sedikit daun nilam, setelah sekian lama kebun terlantar dan tak ada yang menangani di kebun,” ujarnya sambil menjulurkan tangan menyambut kedatangan Kompas.com di kediamannya, di Desa Kemumu Hulu, Kecamatan Labuhan Haji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (12/8/2011) lalu.

Tak ada yang berbeda antara Raibah dan perempuan lainnya di desa ini. Tak terlihat pula tanda-tanda bahwa perempuan berkulit gelap ini sebenarnya adalah mantan kombatan perempuan yang tergabung dalam pasukan Cut Nyak Dhien pada masa konflik Aceh bergolak, lebih enam tahun lalu.

Ah, itu hanya masa lalu, sebenarnya tak ingin saya menceritakannya lagi, itu masa tersakit yang pernah saya lalui sepanjang hidup saya hingga saat ini,” ucapnya lirih.

Awalnya, kata Raibah, rumahnya yang ada di ujung desa dan berbatasan langsung dengan kebun dan hutan, memang sering didatangi oleh pasukan kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Selain meminta logistik, juga sekaligus tempat beristirahat dan transit.

“Kemudian mereka meminta saya untuk bergabung karena mereka memang membutuhkan anggota lebih banyak, termasuk perempuan, dan suami saya pun mengizinkannya. Tentunya dengan niat, mudah-mudahan dengan bergabungnya saya ke dalam kelompok kombatan ini bisa memberi perubahan di masyarakat,” kenangnya.
Bunyani dan Raibah hanya segelintir masyarakat di Aceh yang menginginkan Perdamaian Aceh berlangsung hingga seumur hidup
Alhasil, melalui beberapa latihan fisik, Raibah pun menjadi bagian dari pasukan Cut Nyak Dhien. Namun Raibah tak terlibat dalam aktivitas militer, apalagi pertempuran. Raibah hanya bagian dari pasukan logistik dan kesehatan.

Saat perang pecah, Raibah kembali ke kediamannya. Dia memutuskan untuk kembali dan tidak terlibat pertempuran. Namun keberadaan Raibah tercium aparat, hingga Raibah ditahan dan mendapat intimidasi.

“Saat itu, saya dipisahkan dari anak keempat saya yang berusia 15 hari, berkali-kali saya minta dipertemukan namun tak diijinkan, dan saya berkata, jika tak diijinkan sebaiknya saya ditembak saja, mungkin ini sudah takdir saya. Tapi sebelum ditembak, saya meminta agar bisa dipertemukan dengan anak saya,” kata Raibah.

Tak lama berada di tahanan, Raibah pun akhirnya diperbolehkan pulang dengan catatan wajib lapor. Untunglah, perang segera berakhir dengan adanya perjanjian damai antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandai dengan penandatanganan MoU Helsinki, 15 Agustus 2005.

Alhamdulillah sekarang kondisi sudah membaik dan aman, saya hanya ingin meneruskan hidup saya dan keluarga, dan hidup tenang di tengah-tengah masyarakat, dan kembali menanam dan merawat kebun pala kami yang sudah sangat lama terbengkalai, karena hanya itu sumber pendapatan keluarga kami,” ujar Raibah.

Meski mantan kombatan perempuan, Raibah tak canggung berbaur di lingkungannya. “Warga desa dan tetangga saya juga tahu kalau dulu saya pernah ikut pasukan, tapi mereka semua tetap menerima saya dengan baik. Bahkan banyak aktivitas sosial kemasyarakat yang kini saya geluti bersama warga dilakukan di rumah saya, dan alhamdulillah aktitvitas itu berjalan baik,” jelasnya.

Banyak hal yang kini digeluti Raibah di tengah warga. Antara lain, ia menjadi paralegal bagi warga desanya, menjadi anggota forum pala sebuah organisasi petani pala dan menjadi Ketua koperasi sukses di desanya, Desa Kemumu Hulu, Kecamatan Labuhan Haji Timur.

Raibah bukan satu-satunya kombatan perempuan yang enggan berkecimpung di dunia politik dan membicarakan kembali masa lalu konflik aceh. Adalah Bunyani (31), warga Desa Alay, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan...

Bersambung...

kompas.com

Friday, July 15, 2011

Mungkinkah Gaji Anggota DPRA Turun ?

Siang itu, usai Sholat Dhuhur, di kantor tempat ia bekerja, Direktur LSM Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani kepada The Globe Journal, Kamis (14/7) mengatakan gaji anggota DPRA setiap tahun bisa saja tetap dari tahun sebelumnya, bisa saja naik dan tidak mungkin turun. “Mana mungkin anggota dewan mau gajinya turun, kemungkinan besar pasti naik,” lanjut Askhal.

Tahun 2010 lalu, menurut data yang diterima oleh GeRAK Aceh, gaji pokok ketua DPRA Aceh hanya Rp 3.000.000,- perbulan. Kemudian gaji pokok untuk wakil ketua sebesar Rp 2.400.000,- perbulan dan gaji pokok untuk anggota DPRA itu hanya Rp 2.250.000,- untuk masing-masing  65 orang anggota. Askhalani mengatakan itu baru gaji pokok atau gaji bersih yang diterima anggota dewan. Tapi kalau ditambah dengan tunjangan-tunjangan lain, maka pendapatan perbulan setiap anggota dewan meningkat drastis.

Ia pun memperlihatkan data-data. Dalam data itu, Nomor DPA SKPA 1.20.01.00.00.5.1 tertuang jelas tunjangan yang diterima oleh anggota DPR Aceh. Tunjangan keluarga untuk ketua DPRA hanya Rp 420.000, untuk wakilnya Rp 336.000,- dan untuk anggotanya hanya Rp 315.000,- perbulannya.

Kemudian tunjangan jabatan, untuk ketua DPRA sebesar Rp 4.350.000,- perbulan, untuk wakilnya Rp 3.480.000,- dan untuk anggotanya sebesar Rp 3.262.000,- perbulan. Ada lagi tunjangan beras yang semua sama jatahnya hanya Rp 42.300,- perminggu. Kemudian tunjangan PPh atau tunjangan khusus, untuk ketua DPRA menerima Rp 1.333.755,- wakilnya Rp 1.059.030,- dan untuk anggota dewan sebesar Rp 989.919 perbulan.

Ada lagi jatahnya yang disebut sebagai uang paket, untuk Ketua DPRA berjumlah Rp 300.000,-, untuk wakilnya Rp 240.000, dan untuk anggotanya menerima Rp 225.000 perbulannya. Uang duka juga dianggarkan untuk Ketua DPRA sebesar Rp 3.000.000. Untuk wakilnya Rp 2.400.000,- dan untuk anggota dewan Rp 2.250.000,- setiap 6 kali representasi dalam satu tahun. Bantuan pengurusan jenazah juga dianggarkan dalam satu paket sebesar Rp 1.866.500.620,-.

Uang jasa pengabdian dianggarkan sebesar Rp 3.000.000 untuk Ketua DPRA. Kemudian untuk wakilnya hanya mendapat Rp 2.400.000,- dan untuk anggota yang lain Rp 2.250.000,- dalam satu kali representasi selama satu tahun. Selanjutnya tunjangan komunikasi intensif untuk satu orang ketua, tiga orang wakil dan 65 orang anggota dewan masing-masing mendapat Rp 9.000.000,- perbulan.

Belum lagi tunjangan dalam panitia musyawarah seperti badan musyawarah. Untuk ketuanya mendapat Rp 326.250,-, wakilnya mendapat Rp 217.000,- dan untuk anggotanya sebanyak 30 orang masing-masing mendapat Rp 130.500 perbulan.

Tunjangan komisi untuk tujuh orang ketua komisi di DPRA mendapat Rp326.250, kemudian untuk tujuh orang wakil ketua komisi memperoleh Rp 217.500,- dan untuk tujuh orang sekretaris komisi mendapat Rp 174.000,-. Untuk 44 orang anggota komisi masing-masing juga mendapat Rp 130.500 perbulannya. Uang yang diterima oleh dewan itu sama jumlahnya dengan tunjangan panitia anggaran dan tunjangan untuk badan kehormatan.

Dari data tersebut, kemungkinan tahun 2011 ini gaji dan tunjangan anggota dewan bisa saja naik tergantung pada rumusan kesepakatan anggota dewan dan jumlah pendapatan Aceh. “Tapi kalau bicara turun gaji dan bicara turun uang tunjangannya, itu tidak mungkin,” kata Askhalani di kantor GeRAK Aceh di jalan Prada Utama, Banda Aceh.

Asumsinya lebih kurang satu orang anggota DPR tingkat provinsi bisa bawa pulang gaji sebanyak Rp 20 juta perbulan. Belum lagi dipotong untuk keperluan partai politiknya. Diakui Askhal, untuk partai politik seperti PKS pada tahun 2010 lalu menyepakati sebanyak 50 persen gaji anggota dewan dari partai tersebut dipotong untuk kepentingan partainya.

Sebagian besar data itu masih dalam bentuk gaji dan tunjangan, belum lagi uang aspirasi yang diperebutkan sampai “adu jotos” di Kabupaten Sigli, sebagaimana yang diberitakan oleh media. Jatah setiap sidang yang dilakukan anggota terhormat itu juga ditagih-tagih. Diakui atau tidaknya, sorotan kepada wakil rakyat itu semakin tajam. Bukan saja di Aceh tapi diseluruh Indonesia, gaung kritis buat wakil rakyat itu semakin terus menggema.

Data tahun 2011 ini mengundang tanya, seberapa besarkah gaji dan pendapatan anggota terhormat kita setiap bulan yang dibawa pulang untuk keluarganya? mungkin naik, mungkin saja tetap atau mungkin juga turun?. Syukur kalau turun karena anggota dewan itu juga merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh puluhan ribu rumah tangga miskin di Aceh.

Terkait pendapatan anggota dewan ini, Plt. Sekwan DPRA, Burhan enggan berkomentar.”Saya takut ngomong soal pendapatan anggota dewan, karena pasti dimarahin. Sebaiknya media tanyakan langsung ke anggota dewan yang bersangkutan,” tukas Burhan sebagaiman yang pernah di beritakan The Globe Journal sebelumnya berjudul “Plt. Sekwan Aceh : Saya Takut Ngomong, Pasti Dimarahin Anggota DPRA.” 


 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan