Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, September 21, 2011

Kisah Panglima Prang Menolak Rumah Mewah

Menyoe mantong na rumoh ureung gampong nyang hana layak tinggai, bek peugot rumoh meugah keu lon (kalau masih ada rumah warga desa yang tidak layak huni, jangan bangun rumah megah untuk saya)”. –Abdullah Syafie 

Letusan senjata mengoyak hening Subuh di areal persawahan Alue Mon, Cubo, Kecamatan Bandar Dua, Pidie. Subuh itu, 22 Januari 2002, Teungku Abdullah Syafie dan pengawalnya turun ke Alue Mon. Rupanya, pergerakan sang Panglima Prang AGAM itu tercium pasukan TNI yang sedang mengintai.

Perang pun meletus. Laga ‘timah panas’ dari moncong senjata AK kontra SS1 dan M16 membahana memecah sunyi.

Auuu... Jala menjerit. Kakinya kena tembak. Jala menangis. Kombatan GAM dari Panteu Breuh, Desa Abah Lueng ini terus saja merintih, menahan rasa sakit.

Jala adalah nama panggilan untuk Jalaluddin, pengawal Tengku Abdullah Syafi’ei, akrab disapa Teungku Lah.
Pertempuran antara pasukan pengawal Teungku Lah versus pasukan TNI dari Ton-2 Kompi Yonif Linud 330 yang dipimpin Serka I Ketut Muliastra semakin sengit.

Teungku Lah mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki Jala. Lalu, Teungku Lah membubuhkan ie babah (air dari mulut) pada luka kaki Jala. “Bek moe lee,” kata Teungku Lah pada Jala.

Jala merasakan kondisinya mulai membaik. Ia kembali menembak, membantu rekannya membalas gempuran pasukan pemerintah.

Tak lama berselang, tiba-tiba Teungku Lah kena tembak. Jala yang menempel Teungku Lah mencoba membantu Panglima Komando Pusat Teuntra Neugara Atjeh ini. Jala ingin memapah Teungku Lah untuk ke luar dari arena kontak tembak.

Bek (jangan),” Teungku Lah melarang. “Nyoe ka troh nyang lon lakee, ka troh watee nyang lon preh-preh (kini sudah tiba waktunya yang saya tunggu-tunggu)”.

Dalam kondisi sekarat, Teungku Lah memerintahkan Jala segera lari, menyelamatkan diri. Jala menolak, ia tidak ingin meninggalkan panglimanya. Teungku Lah kembali memerintahkan Jala untuk kabur. Jala akhirnya menurut, lari dari medan tempur.

“Saat lari, Jala menemukan sebuah sumur. Dia masuk ke sumur itu, lalu menutup sumur dengan tumpukan jerami,” kata Puteh Binti Abbas,73 tahun, ketika ditemui The Atjeh Post di Desa Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kamis 1 September 2011.

 mertua Teungku Lah. Ia mendengar cerita itu langsung dari mulut Jala tak lama setelah kejadian itu. Jala selamat setelah masuk ke sumur. Sedangkan Teungku Lah, meninggal di tempat. Dari foto yang diperlihat pasukan TNI setelah peristiwa itu, Teungku Lah tewas dengan luka menganga di dada. 

“Anak saya, Fatimah (istri Teungku Lah) yang sedang hamil tujuh bulan, bersama para  pengawal Teungku Lah, juga tertembak dalam kejadian itu, mereka meninggal. Hanya dua orang yang selamat, salah satunya, Jala,” kata Nek Teh.

Usman Basyah, warga Desa Blang Sukon memperoleh informasi yang sama tentang kronologis meninggalnya Teungku Lah seperti yang diceritakan Nek Teh. “Teungku Lah, Fatimah, Muhammad dan Teungku Daud dimakamkan berdampingan. Yang lainnya (juga pengawal Teungku Lah) dikebumikan di kampung kelahirannya masing-masing,” katanya.

Makam Teungku Lah, Fatimah, Muhammad dan Tgk Daud berada di belakang rumah Tgk Lah. Saat ini ditempati Nek Teh, di Desa Blang Sukon. Makam tersebut sedang dipugar atas inisiatif Bupati Aceh Jaya Ir. Azhar Abdurahman, juga mantan kombatan GAM.

Saat Lebaran seperti sekarang, makam Teungku Lah ramai dikunjungi warga. Ada yang sekedar menuntaskan rasa  penasaran, ada juga yang peulheueh kaoy atau melepas hajat.

* * *

Teungku Lah telah tiada. Sembilan tahun berlalu. Namun karakter sosok Panglima Angkatan GAM kelahiran Matang Glumpang Dua, Bireuen itu masih melekat erat dalam ingatan warga Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya.

Desa Blang Sukon berjarak sekitar tujuh kilometer dari Jalan Medan-Banda Aceh, kawasan Keude Paru, Kecamatan Bandar Baru. Saat ini jalan penghubung Keude Paru ke Desa Blang Sukon telah beraspal. Suasana kawasan perbukitan itu teduh, nyaman. Pepohonan di pekarangan rumah warga tampak rindang.

Sebagian rumah berkonstruksi permanen. Dari bangunannya bisa dipastikan rumah-rumah itu belum lama dibangun. Sisanya, masih rumah-rumah berkonstruksi kayu, peninggalan masa lalu, termasuk rumah almarhum Teungku Lah.

“Suatu waktu, saat Teungku Lah masih hidup, pernah ada yang minta untuk membangun rumah beliau, rumah besar. Tapi Teungku Lah menolak,” kata Usman Basyah.

Kata Usman, ketika itu Teungku Lah dengan tegas menyatakan, “menyoe mantong na rumoh ureung gampong nyang hana layak tinggai, bek peugot rumoh meugah keu lon (kalau masih ada rumah warga desa yang tidak layak huni, jangan bangun rumah megah untuk saya)”.

Makanya, Usman melanjutkan, sampai Teungku Lah meninggal, rumahnya masih berkonstruksi alakadar. Jauh dari kesan mewah.

Semasa memimpin perang gerilya, Teungku Lah juga banyak menerima kedatangan pihak-pihak yang membawa uang berlimpah. “Teungku Lah langsung bertanya, uang itu untuk siapa”. Yang membawa uang menjawab, “uang untuk nanggroe”.

Mendengar itu, Teungku Lah menyatakan, “kalau untuk nanggroe (biaya perjuangan GAM) jangan kasih ke saya, serahkan kepada yang berhak pegang uang itu”.

“Begitulah sifat Teungku Lah, beliau tidak mau menerima yang bukan haknya,” kata Usman Basyah. Nek Teh membenarkan.

Usman Basyah bilang, “meunye mantong na droe geuh Teungku Lah, mungken Aceh uroe nyoe ji-oh leubeh jroh (kalau masih ada Teungku Lah, mungkin Aceh hari ini jauh lebih baik)”.

Dalam pandangan Usman Basyah, Nek Teh dan warga lainnya, Teungku Lah betul-betul seorang panglima, pemimpin yang memberi contoh teladan kepada pasukannya. Juga sangat peduli dengan nasib masyarakat miskin.

Tak heran, banyak kalangan di Aceh merindukan sosok pemimpin seperti Teungku Lah. Teramat rindu.[]


www.ikhwanesia.com


Tuesday, September 6, 2011

Dibalik Misteri Kulah Wudhuk Paloh Dayah

Bak tampungan air untuk berwudhuk yang ada di setiap meunasah dan mesjid di seluruh Aceh memiliki tiga model yang masing-masing mewakili zamannya. Namun model terlama tak banyak yang masih tersisa.

Struktur dan langgam-bangun tempat berwudhuk model lama adalah, kolam yang digali menyorok ke dalam tanah, berdinding semen-batu yang pada umumnya berbentuk undakan-undakan memanjang sekeliling dinding kolam yang berfungsi sebagai tangga-turun untuk mencapai permukaan air kolam, dengan sumber air dari mata air di dalam tanah.

Umumnya kata orang tua, bahwa hal itu bisa dimaklumi di mana kulah ie (bak air) tempat wudhuk zaman dulu sebenarnya sebuah sumur yang digali seluas kolam renang. “Kalau tak digali sedalam sumur, dari mana sumber airnya. Zaman itu pompa air belum diciptakan. Jadi tak mungkin membangun tempat ambil air wudhuk dalam bentuk bak tampungan air seperti sekarang ini,” kata seorang narasumber.

Dalam beberapa kunjungan di sejumlah kawasan, Harian Aceh pernah mendapati di beberapa kampung yang masih memelihara kulah ie tempat berwudhuk model terlama di meunasah mereka, kendati tak jauh dari situ tempat mengambil air sembahyang termodern telah dibangun pula.

Artinya, “Masih banyak yang suka mengambil wudhuk di ‘kulah zaman’ dulu, makanya kami tetap memeliharanya dengan baik sebagaimana orang-orang dulu menjaganya,”  kata Jamaluddin, 25 tahun, warga Gampong Paloh Dayah, Muara Satu, Lhokseumawe kepada Harian beberapa waktu lalu.

Menurut pemuda ini, tempat berwudhuk seluas sekira duabelasan meter persegi dan berada tepat di halaman depan meunasah Paloh Dayah itu dibangun sekitar awal abad 19. Dan di seputar desa tersebut masih ada beberapa kampung yang masih menjaga dengan baik model kulah lama ini. Tetapi, sambung Jamal, kulah yang ada di kampungnya itu memiliki misteri dan keanehan.

Tiap sore anak-anak desa setempat bermandian di sini, tapi kata Jamal, “No problem.” Namun kalau ada orang baru dari luar kampung yang mandi, itu harus dikawal. Soalnya tak berapa lama kemudian ia akan mengalami lemas tubuh dan tak sadarkan diri hingga badannya akan terapung atau tenggelam ke dasar kulah.
“Seingat saya peristiwa ini telah terjadi tiga kali beberapa tahun lalu. Yang terakhir seorang pemuda buruh bangunan yang sedang bekerja di kampung kami, mandi di kolam itu sendirian. Terakhir didapati oleh temannya ia telah terapung di permukaan kolam. Ketika diangkat ke pinggir, ya, Allah, pemuda itu sudah tak bernyawa.”

Menurut Jamaluddin, kata orang-orang tua desanya, kolam tempat wudhuk yang sudah berusia ratusan tahun itu ada penunggu semacam jin atau makhluk halus. Bila orang tak dikenal datang dari luar kampung dan mandi di situ, sang penunggu akan menghisap darah orang tersebut hingga mati lamas.

Namun, sambung pemuda lajang berpendidikan tamat sekolah menengah atas itu, menurut sejumlah sumber, mata air di kedalaman kulah itu ikut mengeluarkan semacam gas beracun dengan kadar bahaya rendah.
Artinya, kata dia, bagi orang atau anak-anak yang sudah terbiasa mandi di situ, gas tersebut tidak lagi mempengaruhi keberadaan oksigen dalam paru-paru atau darah. Tapi bagi orang luar yang baru pertama kali datang dan langsung terjun mandi, gas itu akan segera bekerja di dalam paru-paru dan darah dengan daya pengaruh yang sangat lembut, bahkan tak terasa bagi calon korban, karena gejala pertama serangan adalah dalam bentuk lemah tubuh yang menimbulkan halusinasi tertentu hingga tanpa sadar si korban telah koma.

Dan koma di dalam air, lanjut sumber itu yang diulang kembali oleh Jamaluddin kepada Harian Aceh, dalam tempo kurang dari satu menit tanpa bantuan, korban akan meninggal. “Tapi selebihnya, ya, wallahu a’lam.”
Kata pemuda itu, perusahaan sebonafid PT. Arun LNG yang letakknya tak jauh dari kampung Paloh Dayah itu, seharusnya menganggarkan sedikit dana untuk para pakar melakukan penelitian di kulah ie tersebut hingga bisa diketahui dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, ada apa di balik tiga kematian orang luar kampung beberapa tahun lalu itu, sementara anak-anak desa setempat malah bisa mandi sambil melompat-lompat hingga berjam-jam tapi sebagaimana datang, pulangnya juga masih sehat walafiat.[]

Harian Aceh

Sunday, August 21, 2011

Abu Syik Bustanul Ulum Langsa Meninggal, disholatkan Ribuan Orang

Tengku H. Abdul Wahab Hasan
LANGSA –Kepergian ulama Aceh Tengku H. Abdul Wahab Hasan atau sering disebut Abu Syik Bustanul Ulum Langsa ke tempat peristirahatan terakhir diwarnai cucuran air mata dan rasa haru ribuan pelayat.

Abu Syik Bustanul Ulum meninggal dunia pada Sabtu (20/8) pukul 05.30 wib di Rumah sakit Umum (RSU) Langsa tutup usia 83 tahun karena penyakit stroke bagian kanan selama sebulan. Berita meninggalnya ulama besar itu langsung tersebar ke seluruh penjuru Aceh, terutama ke pesantren-pesantren dan alumni Bustanul Ulum  dan pejabat pemerintah. Dalam belasan menit rumah almarhum di Gampong Blang Pase kecamatan Langsa Kota langsung dipenuhi ribuan pelayat sebelum diberangkatkan ke kampung halamannya untuk disemayamkan di Gampong Teupin Gapeuh kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara.

Sebelumnya, jenazah almarhum disholatkan hingga 4 kali berjamaah bergantian oleh ribuan santri, ulama, pejabat pemerintah, dan pelayat dari berbagai daerah di Provinsi Aceh di rumah duka gampong Blang Pase Kota Langsa, selanjutnya jenazah almarhum diberangkatkan ke kampung halaman di kecamatan tanah Pasir, dan disana juga disholatkan 2 kali berjamaah di mesjid, ujar Safwati, S.Ag anak perempuannya Abu.
“Semasa hidupnya almarhum juga pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh Timur, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Langsa, Ketua Mahkamah Syariah Kota Langsa” jelas Muhammadan Akhyar, SH anak kandung beliau, seraya menambahkan Tengku Abdul Wahab terkenal idealis dalam menjalankan ajaran agama. Selain memimpin Pesantren Bustanul Ulum Langsa. (Del)


Asal Mula Nama Aceh

Aceh adalah nama sebuah Bangsa yang mendiami ujung paling utara pulau sumatera yang terletak di antara samudera hindia dan selat malaka. 
Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda. Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh yang dirangkum dari berbagai catatan lama dan di kutip dari berbagai Sumber.
1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk.
Muhammad Said mengutip keterangan dari catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.
Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.
2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.
3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mante (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.
Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah.
Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho dan Tangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya.
Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri.
Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.
4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.
5. Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.
6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).
Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu), Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.
7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.
8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi. Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum.”
Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik. Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).
9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamai pohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.
10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.
11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.
12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.
13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Aceh adalah dari suku Mantir (Manteu, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.| 
Aceh Traffic

Thursday, August 18, 2011

Khanduri Apam, tradisi masyarakat Aceh

Khanduri Apam (Kenduri Serabi) adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh berupa pada bulan ke tujuh (buleun Apam) dalam kalender Aceh. Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh” yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan, dan Apam adalah sejenis makanan yang mirip serabi.

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apam pada buleun Apam. Tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie sehingga dikenal dengan sebutan Apam Pidie. Selain di Pidie, tradisi ini juga dikenal di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh.

Kegiatan toet apam (memasak apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok. Pertama sekali yang harus dilakukan untuk memasak apam adalah top teupong breuh bit (menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung tersebut lalu dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya (periuk besar). Campuran ini direndam paling kurang tiga jam, agar apam yang dimasak menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepung inilah yang diambil dengan aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni neuleuek berupa cuprok tanoh (pinggan tanah).

Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho (daun kelapa kering. Malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on “ue tho ini. Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlubang-lubang , sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata(tidak bopeng).

Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut kuah tuhe, berupa masakan santan dicampur pisang klat barat(sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang alergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya (gurih), kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan yang memakan Apam saja (seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut Apam beb. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebut Apam Leu'eop. Setelah semua kuahnya habis dihisap barulah Apam itu dimakan.

Apam yang telah dimasak bersama kuah tuhe siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan Khanduri Apam ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meunasah (surau di Aceh) serta kepada para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara toet Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam(bulan Rajab) sebulan penuh.

Sejarah Khanduri Apam
Tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. Keadaan yang menghibakan/menyedihkan hati itu; ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah ikutan tradisi toet Apam (memasak Apam) yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh.

Selain pada buleuen Apam (bulan Rajab), kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (dilhok ngon u)
Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat– seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004. Tujuannya adalah sebagai upacara Tepung Tawar (peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar; boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu; disamping memohon rahmat bagi si mati, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa latar belakang pelaksanaan kenduri apam pada mulanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum'at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah. Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat jumat.

Sunday, July 17, 2011

Bukan "Ratu Safiatuddin" Tetapi "Sultanah Safiatuddin"


Aceh Besar - Penulisan “Ratu Safiatuddin” yang bertempat di simpang empat lamprit yang berbentuk pintu gerbang yang dibuat dalam bentuk taman itu salah dalam kepenulisan. Karena istilah dalam bahasa Aceh, kalau untuk menyebutkan seorang raja perempuan, maka yang benar “Sultanah” bukan “Ratu”.

Demikian disampaikan Kepala Museum Aceh, Nurdin AR, di Sare School kepada The Globe journal, Minggu(17/7).

“Orang Aceh banyak membaca buku karangan dari barat, sementara dari barat kalau untuk menyebutkan raja perempuan itu Queen yang berarti ratu, nah, orang Aceh saat ini menerjemahkan kata-kata daripada Queen, padahal mereka tidak tahu itu salah,”ungkap Nurdin.

Lanjut Nurdin, yang di Taman Ratu safiatuddin Lamprit itu saat dibangun itu oleh Ibu Marlinda, istrinya Abdullah Puteh yang menjabat sebagai gubernur Aceh saat itu, tidak pernah bertanya kepada dirinya kerena marah kepada Nurdin akibat sering mengkritik kesalahan dalam penulisan sejarah.

“Namun saat dilaksanakan Pekan Kebudayaan Aceh(PKA) kemarin, saya sudah menyuruh panitia untuk mengubah tulisan itu. Karena menurut saya itu tidak ada sumber, Cuma suber dari barat saja yang menulis seperti itu,”ujarnya.

Namun sampai saat ini tidak diubah kata Nurdin, karena Surat Keputusan (SK) dari presiden, maka tidak bisa diubah lagi, padahal yang benar menurut Nurdin itu bukan Ratu, akan tetapi Sultanah, kalau masyarakat tidak percaya kata Nurdin maka masyarakat bisa melihat buku-buku yang ditulis pada masa Sultanah Aceh, dan lihat juga mata-mata uang pada masa itu sering tertulis “Paduka Sultanah Safiatuddin”. Bukan ratu.

“ Gunakan sumber yang primer, kenapa harus diambil yang tidak primer,”tukas Nurdin.

Dengan kesalahan tersebut katanya menyebar ke mana-mana, sehingga gampong-gampong pun sudah mengikuti kesalahan tersebut.


Tuesday, July 12, 2011

Irwandi : Nama Malikussaleh jangan jadi simbolis

LHOKSEUMAWE -
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, mengatakan nama Malikussaleh yang dikenal sebagai pemersatu umat Islam kala jaya Kerajaan Samudera Pasai, jangan hanya dipakai sebagai sombolis, baik lembaga pendidikan maupun nonpendidikan.

Seperti Unimal, STAIN dan Dayah Malikussaleh. Tetapi bagaimana spirit kepemimpinan dan keislaman Malikussaleh bisa dikembangkan kepada generasi penerus bangsa, sehingga pelajaran hidup Malikussaleh tumbuh abadi di Bumi Serambi Mekkah.
 
Irwandi mengatakan, kalau mengunjungi makam Malikussaleh 20 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe di Desa Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, seolah-olah tidak ada yang terkesan, sehingga puluhan tahun nyaris tidak tersentuh pembangunan.
 
Makam Malikussaleh direnovasi pasca hadirnya BRR 2005 lalu. “Banyak pelajaran hidup yang bisa kita peroleh dari seorang tokoh bernama Sultan Malikussaleh, dengan nama asli Meurah Silue. Beliau tidak hanya seorang pemimpin yang dikagumi masyarakat dan dunia internasional pada masanya, tapi juga mampu mewarnai watak dan spirit bangsa ini hingga sekarang,” ujarnya, tadi malam.
 
Kata gubernur, banyaknya pengunjung luar daerah seperti dari Malaysia dan Brunai Darussalam, mendorong masyarakat dan pemerintah daerah bekerja keras untuk merawat dan menjaga situs dan cagar budaya di makam.
 
Sesuai tema konferensi Malikussaleh, past, present and future, masyarakat memberi apresiasi kepada Malikussalehuntuk meluruskan sejarah Islam di Nusantara dan Asia Tenggara, menjadikan Makam Malikussaleh sebagai Cagar Budaya dunia, sebagai langkah awal menjadikan Pasai sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage City), dan menjadikan Pasai Pusat Peradaban Islam Dunia.

waspada.co.id

Sunday, May 8, 2011

Museum Tsunami Segera Dibuka Kembali untuk Masyarakat

Banda Aceh - Museum Tsunami Aceh yang selama setahun terakhir ditutup untuk pelaksanaan renovasi setelah selesai dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, dalam waktu dekat akan segera dibuka kembali untuk masyarakat (umum).
Sebelumnya, museum yang berada di sekitar lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut masih kosong, dan saat ini telah diisi dengan berbagai jenis benda peninggalan bencana tsunami oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta dilengkapi foto-foto display bersejarah.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Jumat (6/5) melakukan peninjauan langsung ke lokasi Museum Tsunami tersebut menjelang dibuka secara resmi untuk masyarakat pada 8 Mei 2011. Ia juga menyatakan, pengelolaan museum akan dilakukan langsung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dengan membentuk sebuah UPTD Khusus.
"Pengelolaan Museum Tsunami ini ada kecenderungannya oleh pemerintah provinsi, semacam UPTD Khusus nanti. Sedangkan untuk dana operasional sementara ini dibantu oleh Kementerian ESDM dan juga untuk perawatannya selama empat tahun ke depan," ujar Irwandi Yusuf, kepada wartawan di sela-sela peninjauan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga didampingi Anggota DPR-RI asal Aceh, Drs M.Nasir Djamil, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Rasyidah M Dallah dan beberapa staf Kementerian ESDM. Diakui, isi museum tersebut belum begitu representatif karena kebanyakan hanya menampilkan berupa foto-foto yang diabadikan saat tsunami, begitupun dinilai untuk sementara sudah mewakili.
"Kita bisa lihat beberapa gambarnya dengan display tadi yang ditampilkan secara berurutan melalui layar LCD. Juga ada informasi tentang bencana gempa bumi dan tsunami yang bisa kita lihat di dalamnya," jelas Irwandi.
Profesional
Gubernur berharap pengelolaan Museum Tsunami harus dilakukan secara profesional, sehingga keberadaannya memberi manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Aceh umumnya, dan Kota Banda Aceh khususnya."Bagi kami, yang penting museum itu harus dikelola dengan baik, sehingga aset wisata itu selalu terjaga," ujarnya.
Museum Tsunami dibangun dekat Blang Padang, yakni lapangan terbuka di pusat ibukota Banda Aceh dengan dilengkapi berbagai fasilitas. Museum dibangun semasa BRR Aceh-Nias dengan anggaran mencapai Rp70 miliar.
Selain sebagai tempat memamerkan barang peninggalan tsunam 26 Desember 2004 lalu, gedung itu juga memiliki fasilitas seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi dan kafe. Rencananya pembukaannya dilaksanakan bertepatan dengan ivent Aceh Fair 2011 di lapangan Blang Padang 8-15 Mei 2011.
Museum ini terdiri dari tiga lantai dan satu lantai dasar. Uniknya, lantai satu merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan untuk duduk santai. Letaknya juga sangat dekat dengan inti kota, yakni di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah mengungkapkan, museum ini tidak didesain mencerminkan penderitaan dan kedukaan masyarakat Aceh ketika bencana, melainkan sebagai bukti peringatan bahwa Aceh pernah dilanda bencana yang banyak menelan korban dan kini sudah bangkit berdiri kembali membenahi diri. Museum lebih dekat dengan fungsi wisata.dan akan menjadi obyek sejarah, menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami serta sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana maha dahsyat itu.
"Museum ini dibuat sebagai warisan kepada generasi mendatang dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi bencana gelombang tsunami dan untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia patut untuk terus diwaspadai," ujarnya.

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan