Showing posts with label Sosok. Show all posts
Showing posts with label Sosok. Show all posts

Sunday, August 28, 2011

Junita, Memaknai Persahabatan Dalam Tulisan

Junita Amalia Wulandari, gadis kelahiran Langsa Juni 1990 silam memaknai ketulusan dalam bersahabat ibarat menulis, kali ini beliau yang juga mahasiswa Fakultas Pertanian Unsam Langsa mencoba memberikan perumpamaan persahabatan yang hakiki melalui sepucuk tulisannya, ini isinya :
Menulis di Atas Pasir

Kisah tentang dua orang sahabat karib, yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya.

Orang yang kena tampar merasa sakit hati. Tapi dengan tanpa. berkata-kata, dia menulis di atas pasir :

"Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku."

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba untuk mencoba menyejukkan galaunya.

Mereka terus berjalan sampai menemukan sebuah oasis, dimana orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, memutuskan berenang untuk menyejukkan galaunya. Namun, oasis itu ternyata cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam. Dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.

Ketika ia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu.

"Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku."

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir? Dan sekarang kamu menulis di batu?"

Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila antara sahabat terjadi suatu kebajikan sekecil apapun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang, tidak hilang tertiup waktu."

Dalam hidup ini, sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya, cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masa lalu.

Marilah kita belajar menulis di atas pasir



Saturday, August 27, 2011

Hasan Tiro, Sang Ideolog Aceh Merdeka

Oleh : Taufik Al Mubarak
Saya tak pernah bertemu dan bertatap muka langsung dengan Teungku Hasan di Tiro (selanjutnya disingkat Tiro saja). Tapi saya cukup menikmati menelaah pemikiran sosok yang dikenal dengan Wali Nanggroe itu, baik melalui buku-buku, pidato maupun surat-surat dia. Bagi saya, Tiro adalah penulis revolusioner Aceh. Dia juga seorang ideolog dengan pengetahuan yang cukup luas.

Maka, kematian arsitek nasionalisme Aceh modern ini tentu saja sebuah kehilangan besar bagi bangsa Aceh (mungkin juga bagi Indonesia dan Negara-negara beradab). Jujur kita katakan, Tiro bukan hanya aset Aceh dan Indonesia, melainkan bagi dunia-dunia beradab lainnya.

Dalam pengantar buku Hasan Tiro; Dari Imajinasi Negara Islam ke Imajinasi Etno-Nasionalis (Ahmad Taufan Damanik, 2011), staf FES Indonesia menceritakan bagaimana seorang sopir taxi asal Kurdistan di Jerman sangat bergembira begitu tahu bahwa penumpangnya dari Aceh. “Tiro, Ja Tiro aus Aceh” (Tiro dari Aceh). Menurut dia, bangsa Kurdistan sangat terispirasi dengan ide seorang Hasan Tiro. Hasilnya, sang sopir itu menolak menerima bayaran ketika tiba di  tempat tujuan (rumah makan Turki) sebagai penghormatan dia terhadap Hasan Tiro.

Untuk konteks Aceh belakangan ini, saya berani bertaruh, tak ada sosok yang patut disepadankan dengan dia, termasuk dari internal GAM sendiri. Tiro sangat karismatik, teguh pendirian, pintar, pekerja keras dan tentu saja pejuang sejati. Dalam rentang 50 tahun, belum tentu Aceh bisa melahirkan sosok seperti dia (semoga saja anggapan saya salah).

Jauh sebelum mengobarkan perang total dengan Indonesia, Tiro sebenarnya seorang pemikir kebangsaan Indonesia. Sosok dia dapat kita sandingkan dengan Tan Malaka, perintis kemerdekaan Indonesia, yang kemudian coba dihilangkan dari sejarah Indonesia. Tan Malaka sangat terkenal dengan visinya yang menembusi sekat-sekat nasionalisme sempit, tak sekedar mencita-citakan kemerdekaan teritorial, tapi juga manusia yang bernaung di bawahnya. Tan Malaka menyerukan kemerdekaan Indonesia seratus persen. Sebuah tujuan yang sulit dicapai (setidaknya hingga hari ini).

Sementara Tiro, sejak 1958 sudah menawarkan konsep pemerintahan federal untuk Indonesia. Tiro sangat yakin, bahwa masing-masing wilayah tak mungkin disatukan dan kemudian dipimpin oleh sebuah suku dominan. Negara harus menghormati kekhasan wilayah seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Aceh (sebagian wilayah itu malah perlu diizinkan menjadi Negara sendiri).

Tiro mengusulkan ide tersebut setelah melihat perlawanan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan Permesta/PRRI di Sumatera dan Sulawesi. Namun, ide itu sama sekali tak mendapat tanggapan positif dari pemerintah pusat di Jakarta. Malah, Tiro dipandang sebagai musuh yang diharamkan menginjak kaki di Indonesia.

Tiro sudah sejak dulu ingin mengubah Indonesia dari Negara kesatuan menjadi Negara federal. Namun, keinginan tersebut tak tercapai. Dia pun kemudian menawarkan solusi yang jauh lebih radikal dengan memperjuangkan kemerdekaan Aceh, lepas dari Indonesia.

Terus terang, sejak membaca buku Demokrasi untuk Indonesia, rasa kagum saya kepada cucu Teungku Chik di Tiro ini memuncak. Tiro dapat ditempatkan sejajar dengan pemikir sekaliber Muhammad Hatta, Syahrir, Soekarno atau Marx dan Lenin sekalipun. Semangat patriotisme Tiro bisa menempatkan dia sebanding dengan Fidel Castro, Nelson Mandela atau George Washington.

Kenapa saya begitu terkagum-kagum dengan Tiro? Ini pertanyaan sulit dijawab. Saya ingin sampaikan, rasa kagum saya bukan karena sosok dia digambarkan secara militan, karismatis atau seorang pejuang Aceh, oleh para pengikutnya atau dari buku-buku. Rasa kagum itu bukan datang karena membaca buku-buku yang ditulis para penulis tentang dia. Malah, buku-buku itu bagi saya belum begitu mampu menggambarkan sosok dia sesungguhnya.

Rasa kagum saya sepenuhnya justru karena pemikiran-pemikiran dia yang terhimpun dalam sejumlah tulisan, utamanya The Price of the Freedom (The Unfinished History of Teungku Hasan di Tiro), Aceh di Mata Donya atau Perkara dan Alasan Aceh Merdeka atau bahkan Demokrasi untuk Indonesia. Empat buku (sebagian tulisan) ini menurut saya sudah mewakili buku atau tulisan-tulisan lain untuk mengetahui pemikiran-pemikiran dia secara utuh.

Sebagai anak yang besar di tengah suasana konflik dan perang, nama Tiro tak asing di telinga saya saat itu. Nama Tiro sering disandingkan dengan Husaini Hasan, Daud Paneuk, Robert atau Arjuna. TNI atau Brimob yang sempat bermukim di kampung saya juga sering menyebut nama-nama itu dan melabelnya dengan penjahat atau pengacau. Saat itu para Camat (termasuk Keuchik) juga ikut-ikutan mengikuti sikap TNI itu.
Sejak itu, saya makin bertanya-tanya soal nama-nama ‘pemberontak’ atau ‘pengacau’ versi pemerintah tersebut. Beruntung, saya hidup di lingkungan orang-orang yang bersimpati pada perjuangan orang ini. Sehingga, informasi yang saya peroleh cenderung balance dan tak terpengaruh dengan stigma yang dilabelkan sepihak oleh TNI.

Saya masih ingat, bagaimana orang-orang tua berbicara setengah berbisik jika menyangkut Tiro atau pengikutnya yang sering disebut ‘awak ateuh’. Mereka seperti ingin menyembunyikan pembicaraan itu dari kami yang masih kecil. Dari guru sejarah saya di bangku MTs, saya mendengar Tiro sudah meninggal. (Belakangan saya jadi tahu bahwa guru saya terpengaruh dengan propaganda pemerintah). Saya tentu sedih sekali. Saya sempat berpikir, jika Tiro masih hidup, dia tentu bisa mengembalikan kejayaan Aceh.

Memori itu pula menuntun saya memburu tulisan Tiro. Saat duduk di bangku Aliyah (MA), saya beruntung mendapat foto kopi tulisan “Perkara dan Alasan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka.” Anehnya, di sampul itu tercetak penulisnya dengan nama Jean Hara. Buku ini masih sangat rahasia dan beredar di kalangan terbatas. Saya beruntung seorang teman memberi izin untuk memfoto copy. Dalam semalam saya lahap habis isinya.
Buku stensilan tersebut benar-benar mempengaruhi saya. Saya mulai yakin bahwa perjuangan AM (dulu saya mendengar sebuah untuk pejuang GAM dengan sebutan AM atau awak ateuh) berada di pihak yang benar. Saya pun tak pernah absen menghadiri ceramah-ceramah GAM yang mulai digelar secara diam-diam di seluruh Aceh. Ceramah ini biasanya dilakukan tanpa pengumuman terlebih dulu, melainkan beredar dari mulut ke mulut.

Itulah sekelumit kisah pertemuan saya dengan Tiro (tapi bukan dalam artian pertemuan fisik). ‘Pertemuan’ ini pula membuat saya tertarik mempelajari lebih jauh pemikiran pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini. Sebagiannya justru memengaruhi saya untuk memikirkan kembali soal identitas kebangsaan saya.
Lalu, bagaimana Tiro mendoktrin pengikutnya? Dalam Aceh Bak Mata Donja (Aceh di Mata Dunia), saya membaca pikiran-pikiran Tiro soal Nanggroe Aceh. Saya yakin pengikut beliau yang pernah berlatih di Libya pernah mendapatkan pelajaran ini secara langsung dari beliau.

Tiro cukup fasih berbicara soal Neugara Aceh. Aceh, sebutnya, salah satu bangsa yang tegak di atas bumi ini. Bangsa selalu hidup meski satu persatu anggotanya meninggal. Satu bangsa selalu tak berubah, meski keturunannya terus berganti.

“Saboh bansa hana tuha, sabé muda, bah that pih sidroë-droë angèëta djeuët keu tuha.”
Karena itu, simpulnya, bangsa Aceh hari ini masih sama dengan bangsa Aceh pada masa 100 atau 1000 tahun yang lalu atau pada masa mendatang. Keturunan tersebut terus bersambung-sambung dan tak pernah putus.
“Endatu geutanjoë njang ka maté ka ta gantoë lé geutanjoë; geutanjoë akan djigantoë lé aneuk-tjutjo njang akan lahé, meunankeuh trôk'an akhé dônja.”

Menurut Tiro, darah para indatu Aceh yang sudah meninggal mengalir dalam tubuh generasi Aceh yang masih hidup ini. Generasi sekarang juga masih berbicara dengan bahasa yang sudah diajarkan oleh para indatu tersebut.
Tiro memulai pendidikan Aceh (Acehnese Education) kepada dengan para pengikutnya dengan neuduk (kedudukan) Aceh dalam sejarah dunia. Tiro berharap, melalui pendidikan tersebut, pengikutnya merasa lebih percaya diri seperti ditunjukkan para endatu sebelumnya. Terlihat, betapa cerdik Tiro merekonstruksi kembali imaji nasionalisme Aceh yang telah koyak.  [bersambung]

Keterangan:
1. Awak ateuh: sebutan untuk pengikut Hasan Tiro yang bergerilya di hutan-hutan Aceh.
2. “Saboh bansa hana tuha, sabé muda, bah that pih sidroë-droë angèëta djeuët keu tuha.” (satu bangsa tidak pernah tua, tapi selalu muda, meski satu persatu keturunannya jadi tua).
3. “Endatu geutanjoë njang ka maté ka ta gantoë lé geutanjoë; geutanjoë akan djigantoë lé aneuk-tjutjo njang akan lahé, meunankeuh trôk'an akhé dônja.” (Indatu kita yang sudah meninggal sudah kita gantikan. Kita nantinya akan digantikan oleh anak-cucu yang akan lahir, selalu begitu  hingga akhir zaman).
    Note: Tulisan seri pemikiran Hasan Tiro ini saya rencanakan terbit berseri. Mohon ditunggu kelanjutannya.

http://jumpueng.blogspot.com

Foto Pacuan Kuda Tradisional Gayo Hasil Jepretan Budi Fatria Menangkan Lomba Piala Presiden Indonesia

Budi Fatria tak pernah menyangka hasil jepretannya akan membawanya berbuka puasa bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu di Jakarta. Berawal dari hobi, pria lajang asal Suak Timah, Aceh Barat ini menjadikan fotografi sebagai pilihan hidupnya.

Tanggal 18 Agustus 2011, boleh jadi menjadi hari tak terlupakan dalam hidup Budi. Itulah untuk pertama kalinya pria berusia 28 tahun ini mendapat kesempatan berbuka puasa dengan Presiden Indonesia. Memang, Presiden SBY datang selepas Magrib, namun bagi Budi itu tak mengurangi maknanya.

Budi Fatria mendapat kesempatan langka itu setelah karya fotonya "Pacuan Kuda Tradisional Gayo" meraih Juara Harapan I Lomba Foto Kebudayaan Indonesia 2011 yang diumumkan di Jakarta, 18 Agustus lalu. Lomba foto dengan tema Keindahan Indonesia (Wonderful Indonesia) itu memperebutkan Piala Presiden Indonesia.

"Saya tidak membayangkan dapat penghargaan seperti ini, seperti mimpi saya bersaing dengan fotografer nasional. Pengalaman memotret juga belum lama. secara ilmu fotografi juga belum ada apa-apanya," ujarnya.
Foto pacuan kuda di kota dingin Takengon itu dijepret tahun lalu. Selama dua hari, Budi memotret acara pacuan kuda dari berbagai sisi. Hari terakhir, ia mendapatkan momen menarik ketika empat kuda berpacu dalam posisi sejajar, bersaing memperebutkan posisi terdepan. Ada 250 frame foto yang berhasil direkam. "Tapi hanya 2 frame yang bagus, salah satunya yang memenangkan penghargaan ini," kata Budi.

Belakangan, dari Arbain Rambey, salah satu juri lomba, Budi diberitahu fotonya berhasil menangkap ekspresi joki dan kuda pada saat bersamaan. Selain itu, komposisi dan pencahayaan juga menarik dari sisi fotografi.
Bagi Budi, penghargaan itu ada prestasi terbesarnya selama menggeluti fotografi profesional sejak 2008. Sebelumnya, pada 2010, ia meraih juara II Lomba Foto Budaya se-Aceh. Dua hari lalu, ia kembali menggondol juara III Lomba Foto Lingkungan WALHI Aceh.

Fotografer Harian Serambi Indonesia ini memulai karirnya sebagai wartawan magang di koran terbesar di Aceh ini. Lulus tahapan ujicoba tiga bulan, ia pun diterima sebagai fotografer tetap di koran harian ini.  Ketika diterima di Serambi Indonesia, Budi masih duduk di semester tujuh Fakultas Hukum Unsyiah. Terlalu asyik bekerja, ia pun dihadapkan pada pilihan tetap bekerja atau melanjutkan kuliah. "Karena saya juga butuh pekerjaan, akhirnya saya memilih tetap bekerja sambil meneruskan kuliah di Universitas Muhammadiyah," ujarnya.

Sebenarnya, Budi mulai bersentuhan dengan kamera sejak 2006. Ketika itu, ia bekerja sebagai staf dokumentasi di sebuah LSM yang beroperasi di Lamno. Bermodal sebuah kamera poket, ia pun jepret sana-sini merekam aktivitas masyarakat korban tsunami. Saat itu, ia sama sekali buta dengan teknik fotografi. Prinsipnya, yang penting ada dokumentasi untuk laporan kegiatan kantor.

Rupanya, Budi mulai kepincut dengan pekerjaan itu. Setahun kemudian dia membeli kamera analog yang masih memakai film. Kurang puas, akhirnya dia menggantinya dengan kamera digital Canon 400D.
Di Banda Aceh, Budi yang sering nongkrong di warung kopi Solong Ulee Kareng, sering terkagum-kagum melihat para fotografer yang datang ke sana dengan kamera besar di bahu. Diam-diam, dia memendam keinginan menjadi fotografer.

Sejak itu, ia mulai serius belajar fotografi. Ia pun sempat memotret acara-acara kawinan atau pre wedding. Sesekali, ia hunting foto-foto human interest tentang kehidupan sehari-hari orang-orang kecil seperti nelayan, petani, da pedagang di pasar.

Hasil jepretannya kemudian diposting di fotografer.net, sebuah situs komunitas fotografer Indonesia. Banyak fotografer handal Indonesia berkumpul di sini seperti Arbain Rambey, bahkan Darwis Triadi sekalipun.

Rupanya, hasil jepretan Budi banyak disukai fotografer lain. Dari sanalah, pria lajang kelahiran 24 juli 1983 ini kian yakin untuk menekuni fotografi.

Kecintaannya terhadap dunia potret-memotret ini kian menebal ketika ia ikut traing fotografer yang diasuh oleh sejumlah fotografer senior di Aceh. "Setelah itu saya makin merasa mantap ingin menggeluti dunia fotografi," ujarnya.

Budi juga sering meminta saran dan masukan dari sejumlah fotografer yang lebih duluan berkecimpung di dunia fotografi seperti Tarmizy Harza (fotografer Kantor Berita Reuters yang pernah dapat penghargaan World Press Photo), M. Anshar (redaktur foto Serambi Indonesia), Yo Fauzan (fotografer freelance),  Chaedeer Mahyudin (peraih penghargaan Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2010), dan beberapa fotografer senior lain di Aceh.

"Saya sering diskusi teknik memotret dengan mereka. Banyak masukan dan kritik yang saya dapatkan. Dan itu memacu saya untuk terus menghasilkan foto yang lebih baik," ujarnya.

Meskipun memenangkan lomba foto tingkat nasional, Budi tak lantas besar kepala. Ia merasa belum puas dengan hasil jepretannya. "Masih banyak hal yang harus saya benahi. Menang belum tentu sempurna, yang tak menang pun belum berarti tidak bagus," kata anak tunggal ini.

Bagi Budi, memotret acara kawinan, jauh berbeda dengan foto jurnalistik. "Kalau foto wedding kita cuma mendokumentasikan saja, bahkan bisa mengatur posisi orang yang di foto. Tapi kalau foto jurnalistik, harus bercerita apa yang ingin kita tonjolkan dari foto itu,  dan berkejaran dengan momen karena dalam hitungan detik momen bagus bisa berlalu," ujarnya.

Itu sebabnya, kata Budi, seorang fotografer jurnalistik dituntut untuk tekun, sabar menunggu momen dan tidak malu bertanya dari orang-orang yang lebih berpengalaman.

Kini, Budi Fatria menyimpan satu cita-cita. Itu pun tak muluk-muluk. "Saya ingin suatu saat nanti dunia fotografi kita lebih maju. Dan saya ingin menjadi pengajar fotografi di Aceh. Ya, hanya di Aceh," tegasnya.[]

the atjeh post

Friday, August 26, 2011

Hasballah M Saad In Memories

HARI masih pagi ketika saya ditelepon seorang teman. "Bang, abang di undang ketemu Pak Hasballah." Karena yang mengundang seorang yang saya kenal dan memiliki kepedulian terhadap Aceh saya merasa tidak harus bertanya lagi soal keperluan dan dalam konteks apa saya di undang. Saya langsung mengiyakan dan segera meluncur ke lokasi yang dimaksud. Dengan motor saya menelusuri jalan-jalan di Jakarta dan tidak butuh waktu terlalu lama saya pun tiba.

Di motor saya sempat berdialog kira-kira apa yang akan dibicarakan yang saya yakin pasti seputar masalah Aceh khususnya terkait tsunami khususnya lagi soal rehabilitasi dan rekontruksi Aceh. Sebelumnya saya juga kerap berjumpa dengan beliau dalam kaitannya dengan konflik Aceh khususnya dalam kapasitas beliau sebagai salah seorang anggota board di TIFA, sebuah lembaga yang memiliki perhatian dan memberi dukungan terhadap program-program perdamaian di Aceh.

"Silahkan, sudah ditunggu." Di ruangan saya melihat beberapa orang Aceh yang saya kenal dari wajah dan bahasa percakapan mereka. Saya langsung mengambil tempat duduk untuk mengikuti rapat bersama.

"Risman, kamu cocok untuk menjadi koordinator Aceh Wacth." Ini kalimat yang paling jelas saya dengar. Selebihnya saya justru melalangbuana pada pikiran sendiri sehingga tidak fokus lagi pada apa yang disampaikan. Pertanyaan pertama yang muncul dibenak saya adalah apakah saya bisa dan mampu dan jika saya menyatakan kesediaan apa bayangan kerja yang akan saya lakukan terkait agenda pengawasan rehabilitasi dan rekontruksi Aceh. "Rasanya, saya tidak mungkin sanggup menerima amanah ini," bisik hati saya.

Sebelum menyampaikan keberatan saya kembali mencoba meraba kira-kira apa pandangan seorang Hasballah M Saad terkait agenda pembangunan Aceh kembali. Dari sejumlah pertemuan informal dengan beliau dan dari apa yang pernah disampaikan saya menduga bahwa beliau menginginkan agar agenda pembangunan Aceh paska tsunami tidak melulu diletakkan pada pembangunan fisik saja. Menurutnya, orang Aceh tidak bisa hidup tenang manakala pembangunan budaya diabaikan. Menurut mantan Menteri HAM itu Aceh butuh pandangan baru dalam pembangunannya yakni pada pembangunan karakter. Karena itu sangat penting memberi kesempatan kepada rakyat Aceh untuk mencapai kehidupan yang lebih beradab, respek terhadap sesama manusia, dan berpegang pada akar tradisi dan nilai-nilai kebudayaan menuju kehidupan modern.

"Ini tugas berat." Begitu bisik hati saya dan atas dasar itu saya tidak menerima amanah itu.

***

Saya tidak tahu siapa yang salah.Tapi, satu tahun kemudian saya justru berkerja di Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) di bidang yang dulu saya anggap berat, yakni bidang kerja budaya. Akhirnya, saya yang dulu diminta untuk mengkoordinir kerja-kerja pengawasan terhadap kerja rehabilitasi dan rekontruksi Aceh agar berjalan di atas perspektif kebudayaan justru menjadi sasaran kritik beliau melalui The Aceh Cultural Institute atau Institut Kebudayaan Aceh yang didirikan akibat prihatin atas desain pembangunan yang berorientasi pada pembangunan fisik. Menurut Hasballah inilah kealfaan BRR yang perlu diingatkan, diluruskan dan ikut dibantu dengan melibatkan berbagai komponen. Dari ACI lah ia kemudian melakukan ragam kegiatan kebudayaan, yang salah satunya adalah menerbitkan buku cerita rakyat yang oleh tsunami sudah banyak hilang, termasuk hilangnya orang-orang yang mampu mampu bercerita melalui hikayat.

Pagi kemarin, ketika saya membuka hp sejumlah informasi tentang kepulangan sosok yang dulu dipanggil Pak Ballah terbaca. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kini, sosok yang peduli pada budaya itu sudah meninggal dunia, Selasa (23/8). Almarhum meninggal karena serangan jantung di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat, sekitar pukul 01.00 WIB di usia genap 63 tahun dan kabarnya akan disemayamkan di kampung halamannya di Gampong Lameu, Kota Bakti, Pidie, Aceh yang juga menjadi lokasi Universitas Jabal Ghafur dimana ia juga pernah menjabat sebagai rektor.

Selamat Jalan Menuju Gampong Abadi semoga Allah merahmati dengan menjadikannya sebagai salah satu penghuni surga. Amin

the atjeh post

Friday, July 15, 2011

12 Tahun Menulis Kamus Bahasa Aceh

Tgk. Bukhary Budiman, penulis Kamus Bahasa Aceh dengan 14 ribu lebih entry heading, belum termasuk kata penjelasannya. Model kamus ini terinspirasi dari kamus List Van Aceh Vocabulary yang disusun oleh Tony Dias (1879).

Kamus setebal 730 halaman tersebut dicetak Unimal Press, Lhokseumawe. Namun sayang hanya setengah jadi, satu buah saja sebagai sampel. Memang ada rencana mencetak lebih banyak, tentunya jika sudah ada dana. “Saya berharap ada sponsor,” katanya.

Menurut Bukhary, keunggulan kamus ini kerena murni dalam bahasa Aceh. Inilah websternya Aceh, setiap kata diterangkan dalam bahasa Aceh. Mirip Kamus William Webster Dictionary, Amerika. Dalam kamus ini juga terdapat petunjuk penggunaan kamus yang disusun secara simpel dan sistematik.

Tentang suka duka selama 12 tahun (1995-2007) menyelesaikan kamus ini, lelaki paruh baya asal Gampong Lagang, Krueng Mane, Aceh Utara bertamsil: ibarat orang yang ingin berkebun, tetapi tidak mengerti caranya. Ia mengaku tidak mahir menulis, tapi mencoba menulis.

Berkat keyakinan dan ketekunannya, apapun kendala dan masalah, dianggap tak ada olehnya. Ia menuturkan, ketika ia berangkat dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh mencari bahan-bahan di PDIA, Pustaka Unsyiah, Pustaka Wilayah dan tempat lain. “Setelah dapat saya fotocopy, bahkan pernah saya mencatat bahan dari pagi sampai sore,” kisah ayah empat anak ini.

Mantan Koordinator Alat Berat PT Exon Mobil ini, juga turun ke gampong-gampong menemui orang tua yang masih hidup satu dua orang. Mereka diwawancarai dan hasil wawancara ia cocokkan dengan berbagai referensi.

Suami dari Hajjah Nilawati Abdul Aziz ini menuturkan, motivasinya menulis karena rasa prihatin terhadap putra-putri bangsa Aceh yang tidak lagi dapat membaca hikayat-hikayat dalam bahasa Aceh. Apalagi hikayat Aceh itu ditulis dalam bahasa Arab-Aceh. Contohnya Riwayat Akhbarul Karim atau Hikayat Hasan-Husein.

“Kalau saya wariskan harta, saya tak punya harta. Kalau saya tinggalkan jasa, saya bukan pahlawan. Ingin saya tinggalkan karangan, saya bukan pengarang yang piawai, namun demikian saya cobalah berbuat dengan menulis kamus,” tutur Bukhary.



Thursday, July 14, 2011

Meutia Halida, Bikin Novel Berawal Dari Ngeblog

Meutia Halida Khairani/Dok. Pribadi
Jakarta – Menjadi seorang blogger memang bukan sesuatu yang sulit, menulis berbagai cerita dan pengalaman, aktivitas lintas blog dan masih sangat banyak lainnya ternyata akan membuat hasil yang patut dibanggakan jika ditekuni dengan baik.

Meutia Halida Khairani atau akrab disapa Meutia, blogger cewek asal Aceh ini baru saya menerbitkan novel terbarunya. Novel terbarunya yang mengambil latar dunia fantasy diberi judul “Crush”.
Cewek asal kota kuliner Sate Matang yang kini bekerja disalah satu perusahaan swasta di Jakarta mempunyai cerita menarik seputar aktivitasnya ngeblog. Pemilik blog http://rancupid.blogspot.com, sudah melanglang buana selama dua tahun dengan label blog Rancupid.

Menurut Meutia, novel “Crush” yang punya arti kehancuran tersebut adalah hasil inspirasinya selama bermain game Final Fantasy di Playstation. “Saya suka main game, karena ketularan sama game akhirnya jadi suka berhayal, ingin bikin cerita sekeren game itu,” tegas Mutia ketika dihubungi lewat Facebook.

Tidak hanya itu, dalam novelnya tersebut Meutia juga mengangkat sosok kakak cowoknya yang diberinama Haikal. “Karakter Haikal dalam novel tersebut sama persis seperti karakter Abang (panggilan kakak cowok di Aceh) saya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Terbitnya novel berjudul Crush ini juga menjadi inspirasi pertama bagi Meutia untuk menerbitkan novel lewat jalur mandiri alias indie.

Selain sibuk ngeblog, sampai saat ini Meutia masih masih fokus dengan masalah label “Rancupid” nama blognya sendiri yang akan dibuat sebagai media dan nama penerbit juga kedepannya. Lewat aktivitas ngeblog yang hampir dua tahun belakangan ini, berbagai pengalaman pun banyak didapat Meutia lewat berbagai event besar yang diikutinya, seperti dari Blackberry, tampil di majalah CHIC, bahkan diundang ke berbagai acara dan talkshow.

Tidak lupa, Meutia juga memberikan sedikit tips untuk blogger yang suka nulis dan ingin menerbitkan buku dan sering terkendala urusan modal, Meutia menyarakan lewat nulisbuku.com. “Lewat situs itu, kita tidak perlu modal sama sekali, apalagi mereka juga sudah terkenal lewat jaringan worldwide-nya. Tapi, kalau yang punya modal pilih saja untuk menerbitkan sendiri, ya hitung-hitung bisa dapat untung lebih,” tambahnya sambil tertawa.

Meutia juga memberi pesan bagi blogger, untuk tetap setia mengelola baik blog dengan membuat kategori sesuai tema-temanya. Siapa tahu, kedepan blog yang dikelola bisa jadi sebuah buku dengan kreasi Anda.

Sumber : seputar aceh.com

Sunday, May 8, 2011

Museum Tsunami Segera Dibuka Kembali untuk Masyarakat

Banda Aceh - Museum Tsunami Aceh yang selama setahun terakhir ditutup untuk pelaksanaan renovasi setelah selesai dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, dalam waktu dekat akan segera dibuka kembali untuk masyarakat (umum).
Sebelumnya, museum yang berada di sekitar lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut masih kosong, dan saat ini telah diisi dengan berbagai jenis benda peninggalan bencana tsunami oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta dilengkapi foto-foto display bersejarah.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Jumat (6/5) melakukan peninjauan langsung ke lokasi Museum Tsunami tersebut menjelang dibuka secara resmi untuk masyarakat pada 8 Mei 2011. Ia juga menyatakan, pengelolaan museum akan dilakukan langsung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dengan membentuk sebuah UPTD Khusus.
"Pengelolaan Museum Tsunami ini ada kecenderungannya oleh pemerintah provinsi, semacam UPTD Khusus nanti. Sedangkan untuk dana operasional sementara ini dibantu oleh Kementerian ESDM dan juga untuk perawatannya selama empat tahun ke depan," ujar Irwandi Yusuf, kepada wartawan di sela-sela peninjauan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga didampingi Anggota DPR-RI asal Aceh, Drs M.Nasir Djamil, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Rasyidah M Dallah dan beberapa staf Kementerian ESDM. Diakui, isi museum tersebut belum begitu representatif karena kebanyakan hanya menampilkan berupa foto-foto yang diabadikan saat tsunami, begitupun dinilai untuk sementara sudah mewakili.
"Kita bisa lihat beberapa gambarnya dengan display tadi yang ditampilkan secara berurutan melalui layar LCD. Juga ada informasi tentang bencana gempa bumi dan tsunami yang bisa kita lihat di dalamnya," jelas Irwandi.
Profesional
Gubernur berharap pengelolaan Museum Tsunami harus dilakukan secara profesional, sehingga keberadaannya memberi manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Aceh umumnya, dan Kota Banda Aceh khususnya."Bagi kami, yang penting museum itu harus dikelola dengan baik, sehingga aset wisata itu selalu terjaga," ujarnya.
Museum Tsunami dibangun dekat Blang Padang, yakni lapangan terbuka di pusat ibukota Banda Aceh dengan dilengkapi berbagai fasilitas. Museum dibangun semasa BRR Aceh-Nias dengan anggaran mencapai Rp70 miliar.
Selain sebagai tempat memamerkan barang peninggalan tsunam 26 Desember 2004 lalu, gedung itu juga memiliki fasilitas seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi dan kafe. Rencananya pembukaannya dilaksanakan bertepatan dengan ivent Aceh Fair 2011 di lapangan Blang Padang 8-15 Mei 2011.
Museum ini terdiri dari tiga lantai dan satu lantai dasar. Uniknya, lantai satu merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan untuk duduk santai. Letaknya juga sangat dekat dengan inti kota, yakni di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah mengungkapkan, museum ini tidak didesain mencerminkan penderitaan dan kedukaan masyarakat Aceh ketika bencana, melainkan sebagai bukti peringatan bahwa Aceh pernah dilanda bencana yang banyak menelan korban dan kini sudah bangkit berdiri kembali membenahi diri. Museum lebih dekat dengan fungsi wisata.dan akan menjadi obyek sejarah, menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami serta sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana maha dahsyat itu.
"Museum ini dibuat sebagai warisan kepada generasi mendatang dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi bencana gelombang tsunami dan untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia patut untuk terus diwaspadai," ujarnya.

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan