Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Monday, September 10, 2012

Jangan Sampai Alasan Menjadi Atasan


Dalam sebuah acara bedah buku "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, seorang pengunjung bertanya. Apakah untuk sukses itu harus merasakan miskin terlebih dahulu? Mungkin bagi Anda yang sudah pernah membaca novel best-seller tersebut, akan merasakan betapa hidup serba kekurangan dan keterbatasan yang dihadapi oleh sang penulis bersama anak-anak Laskar Pelangi yang lain. Namun, nyatanya, Andrea Hirata berhasil bertahan dalam kondisi tidak menyenangkan tersebut, lalu sukses sebagai penulis fiksi terkenal hingga saat ini. Selain itu, dia berhasil ke Perancis dan berkeliling Eropa sampai ke Afrika sesuai dengan impiannya. Dia berhasil mewujudkan impian besarnya!

Lalu, apa jawab Andrea Hirata dengan pertanyaan itu? Dia menjawab dengan cukup bijak, "Kalau saya terlahir menjadi orang kaya, maka saya akan lebih bisa meraih impian yang lebih tinggi lagi." Dalam arti yang lain, kalau orang itu berada dalam kondisi yang mapan dan berada, maka dia akan memiliki fasilitas-fasilitas yang bisa membuatnya meraih keinginannya. Dalam kondisi miskin saja bisa, apalagi kalau kaya! Jadi segala keadaan bukan menjadi masalah. Muncul berbagai alasan yang menghambat, tetap menjalankan tekad. Sungguh luar biasa!

Nah, seringkali kita mendasarkan hidup pada alasan-alasan yang kita buat sendiri. Mau menjadi penulis misalnya. Harus menunggu dahulu ide. Harus menanti dahulu komputer. Sudah punya komputer, masih tidak nyaman. Inginnya memiliki laptop. Akhirnya, malah dia tidak jadi menulis. Dia tidak melahirkan karya satu tulisan pun. Mengapa begitu? Karena alasan yang lebih didahulukan. Bahkan alasan-alasan itu dijadikan "atasan". Artinya, kalau dijadikan atasan, maka alasan akan lebih diutamakan. Akan ditaati. Akan dipatuhi. Persis kalau kita memiliki atasan berwujud orang.

Kita memang dilengkapi dengan akal pikiran yang sangat luar biasa, pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pikiran bisa kita gunakan sesuai keinginan. Mau berpikir positif atau negatif, itu terserah kepada kita. Nah, yang menjadi masalah adalah ketika kita selalu berpikir untuk mencari alasan dari setiap usaha yang akan kita lakukan. Mau mendaftar perguruan tinggi negeri, tidak jadi dilakukan. Alasannya, saingannya banyak. Kemampuan kita terbatas. Bahkan ada ketakutan nanti kalau sudah kuliah, biayanya akan mahal. Padahal masalah biaya adalah masalah kecil selama kita pintar. Bukankah ditawarkan banyak beasiswa?

Lalu dalam hal mencari pekerjaan. Kita sudah mendasarkan diri pada alasan banyaknya orang yang mendaftar. Kita takut akan tersingkir nantinya. Akhirnya, belum memasukkan formulir saja, kita sudah mundur. Apakah kita tidak percaya mengenai kekuatan peluang? Padahal di dunia ini selalu ada peluang, baik berhasil maupun gagal. Kalau kita sudah mundur, bukankah kita telah gagal sebelum gagal? Kalah sebelum bertanding? Lalu di mana harga diri kita sebagai makhluk yang paling sempurna di dunia ini?

Alasan memang bisa kita cari dan kita pikirkan. Jika orangnya negatif, maka tentu saja, alasan-alasan yang ada di pikirannya juga negatif. Akan tetapi, beda halnya dengan orang yang positif dan orang yang luar biasa. Alasan yang dikemukakan adalah alasan yang dahsyat, membangun dan berorientasi sukses. Misalnya, jika dia harus sukses di dunia ini dengan alasan: umur manusia itu pendek, semakin sukses di usia muda semakin baik, ingin membuktikan diri bahwa dia bisa benar-benar berhasil, ingin mengangkat derajat diri dan keluarga dan karena memang sudah diberikan bekal untuk sukses dari Tuhan Yang Maha Berkehendak. Jadi, dia tetap berjalan juga dengan alasan. Hanya, alasan-alasannya tidak sebagaimana orang negatif.

Bahkan, kalau orang yang lebih luar biasa lagi, dia tidak perlu mencari alasan, baik positif maupun negatif. Pokoknya, yang ada dalam pikirannya adalah dia harus sukses, dia harus sukses, dia harus sukses! Sebab, dia memang terlahir ke dunia ini untuk menjadi orang yang sukses luar biasa! Salam sukses luar biasa!

Time To Write


Pesan seorang sahabat yang masih menjadi perenungan hari ini: "Di pikiran kita, ada hak orang lain untuk tahu." Maka beritahulah hal yang terbaik yang Anda miliki dalam sebuah TULISAN. Pesan terbaik, walau (misalnya) hanya 2,5% saja yang bermanfaat bagi orang lain, tapi setidaknya kita sudah memberikan yang terbaik dalam hidup ini.

MENULIS adalah bahasa komunikasi lisan yang disusun kembali ke dalam bahasa tulisan, dimana pesan yang disampaikan penulis dapat diterima, dipahami, diartikan sama dengan apa yang ditulis, dipikirkan, dan disampaikan oleh penulis.

Bahasa lisan dengan sangat mudah dipahami oleh penerima pesan. Apalagi bahasa lisan yang langsung diterima oleh penerima pesan, di mana kata-kata yang diucapkan dan ekspresi mimik muka, bahasa tubuh, ekspresi seseorang dengan jelas dapat terlihat, diamati, dan diartikan
sama sesuai dengan apa yang diucapkan pengirim pesan.

Berbeda dengan bahas lisan, bahasa tulisan menggunakan tanda baca untuk mengekspresikan mimik muka dan bahasa tubuh pengirim pesan. Satu contoh pungtuasi ini, kita dapati pada tanda "!" untuk mengungukapkan seruan, perintah, atau emosi. Misalnya, "KELUAR! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi barang sedetik pun." Tanda baca lainnya seperti tanda tanya (?), garis miring, huruf tebal, huruf kapital, tanda kutip, garis bawah, dan lainnya, mewakili sejuta ekspresi.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah ketika kita ingin menuangkan bahasa lisan ke dalam goresan tinta, sehingga ide yang disampaikan bisa diterima sama dengan apa yang dipikirkan penulis; yang terpenting adalah: TIME.

TIME merupakan akronim dari :

1) Tulis saja, nanti di tengah jalan bisa diperbaiki. Tidak seperti komunikasi LISAN, bahasa tulisan, merupakan bahasa yang TIDAK LANGSUNG disampaikan oleh pengirim pesan ke penerima pesan. Maka rangkaian kata, pilihan kata, dan penyusunan kalimat yang dibuat oleh pengirim pesan ditulis sesuai dengan APA YANG DIPIKIRKAN, lalu baru di akhir penulisan dapat diperbaiki, ditambah, "dibumbui," dan dibaca kembali apakah tulisan tersebut sudah dapat menyampaikan GAGASAN POKOK apa yang ingin diungkapkan.

2) Jika kita menggunakan bahasa lisan, pembicaraan dapat keluar dari mulut, terkadang tidak dipikirkan tata bahasanya -- words come out from our mouth automatically without thinking. Biarpun begitu, saat akan menulis, tulis saja. Inspirasi akan datang bersaamaan saat kita menulis atau merancang tulisan.

3) Mulai dari apa yang dipikirkan. Langsung tuangkan apa yang ada di benak pikiran kita, ke dalam kata-kata. Gunakan "kata" yang memang milik kita, ada di dalam pikiran kita. Buatlah kalimat dari kata-kata itu, tulis saja apa yang dipikirkan. Biarkan tulisan itu mengalir seperti bahasa lisan, seperti "ngobrol" apa adanya.

4) Energi. Menulis perlu tenaga, pikiran, dan waktu. Luangkan waktu, barang sebentar saja. Bisa di pagi hari, di sela-sela waktu istirahat, atau menjelang malam hari, di saat diri ingin beristirahat di malam hari.

Mereka yang berlabel profesional, hanya perlu waktu 1 sampai 2 jam untuk mem-blocking TIME, menggunakannya untuk menuangkan ide ke dalam tulisan. Setelah itu, jadilah sebuah artikel berdasarkan inspirasi, pengalaman, dan referensi dari buku yang pernah dibaca.

***

Time to WRITE - Ayo MENULIS!

TULIS apa yang dipikirkan. Jangan khawatir kehabisan inspirasi, karena inspirasi akan datang di sela-sela kegiatan menulis. Mulai dari apa yang ada di pikiran Anda dan curahkan energi untuk itu.

Anda perlu meluangkan usaha dan waktu sejenak, untuk meninggalkan "KARYA" yang bisa dijejak rekam oleh orang lain, dalam bentuk karya maha tinggi, yaitu artikel atau buku yang bermanfaat bagi banyak orang; dan yang terpenting adalah sebagai amal jariah, INVESTASI jangka panjang menuju ILMU YANG BERMANFAAT. 

Mengajar Dengan Cinta


Adakah cinta guru kepada siswanya melebihi cintanya kepada anak kandungnya? Pertanyaan tersebut hanya untuk menggambarkan bahwa guru perlu menumbuhkan dan memelihara cinta tulusnya kepada siswa di kelas. Seberapa besar jumlah siswa di kelas, sebesar itu pula cinta tulus dibalutkan dalam alam pikiran siswa. Malam hari menjelang tidur, sang guru berdoa untuk diri, keluarga, dan siswa-siswa yang tadi pagi dijumpai di kelas. Pagi hari, semangat berangkat kerja adalah semangat para siswa yang tersenyum lembut pertanda masih membutuhkan cinta guru. 

Saat masuk kelas, senyum tulus guru menebar ke semua diri siswa. Tidak satupun anak yang terlewatkan dari sorot tulus dan jangkauan kasih sayang dari guru. Guru langsung membenamkan diri dalam suasana anak secara alami. Cara seperti itu menurut Quantum Learning, disebut bawalah dunia kita ke dunia mereka dan tariklah dunia mereka ke dunia kita.

Guru mengenali tipikal dan ciri khas siswa satu per satu sebagai bahan untuk mengemas materi.Kemudian, materi disajikan dengan kemasan yang menarik sesuai dengan kemampuan dan pemahaman siswa. Suatu saat materi dikemas dalam cerita dongeng yang menarik karena siswa pada tahun itu, setelah diidentifikasi di awal tahun, didominasi dengan kecerdasan linguistik. Padahal, materi pelajaran yang disajikan berupa matematika. Tahun berikutnya, materi yang sama, oleh guru dikemas dalam gerakan simbolis karena siswa pada tahun itu berciri kecerdasan kinestetis. Begitulah seterusnya, guru mengganti-ganti kemasan materi dan metodenya. Tiap tahun ada upaya sang guru untuk berpikir dan berinovasi meskipun tidak diperintahkan oleh atasannya.

Cinta guru adalah cinta yang seutuhnya yang keluar dari pori-pori keikhlasan dan ketulusan. Semua daya dan upaya hanya semata untuk menumbuhkembangkan siswanya. Tidak ada kerinduan yang paling hebat bagi diri kecuali rindu pada siswanya. Mata batin guru adalah mata batin siswa yang menapaki alam untuk meneruskan perjuangan kehidupan berikutnya.

Andai terdapat guru yang mempunyai ketulusan dan keikhlasan tinggi, dialah guru yang hidup pada zaman ini berdasarkan hidup diri Mahatma Ghandi. Andai ada guru yang mempunyai motivasi tinggi dan semangat bergairah, dialah wujud Sukarno yang menjelma dalam guru itu. Andai ada guru yang sabar dengan kasih sayang, dialah kesabaran yang membuncah dalam diri guru berjiwa Bunda Theresa. 

Padang yang harus dilewati untuk menjadi guru penuh cinta adalah padang yang terjal dan tandus. Di ceruk padang itu, terdapat bebatuan yang sering mengganjal perjalanan guru untuk mencpai telaga kesegaran dirinya. Kemudian, dalam padang itu, terdapat duri yang meski kecil menyakitkan. Belum lagi suasana saat melewati padang itu sangat panas karena belum ada perlindungan yang pantas untuk guru agar tidak kepanasan dan gundah berkeringat.

Namun, seganas apapun padang yang harus dilewati, jika guru itu bertekad kuat sekuat matahari menyinari bumi, tidak ada jalan yang tidak dapat ditempuh. Modal dasarnya adalah niat dalam diri, cinta sejatinya, dan ketulusan. Siswa ada dalam diri guru dan guru menyatu dalam kerling siswa yang menawan.

Sunday, May 8, 2011

Museum Tsunami Segera Dibuka Kembali untuk Masyarakat

Banda Aceh - Museum Tsunami Aceh yang selama setahun terakhir ditutup untuk pelaksanaan renovasi setelah selesai dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, dalam waktu dekat akan segera dibuka kembali untuk masyarakat (umum).
Sebelumnya, museum yang berada di sekitar lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut masih kosong, dan saat ini telah diisi dengan berbagai jenis benda peninggalan bencana tsunami oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta dilengkapi foto-foto display bersejarah.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Jumat (6/5) melakukan peninjauan langsung ke lokasi Museum Tsunami tersebut menjelang dibuka secara resmi untuk masyarakat pada 8 Mei 2011. Ia juga menyatakan, pengelolaan museum akan dilakukan langsung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dengan membentuk sebuah UPTD Khusus.
"Pengelolaan Museum Tsunami ini ada kecenderungannya oleh pemerintah provinsi, semacam UPTD Khusus nanti. Sedangkan untuk dana operasional sementara ini dibantu oleh Kementerian ESDM dan juga untuk perawatannya selama empat tahun ke depan," ujar Irwandi Yusuf, kepada wartawan di sela-sela peninjauan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga didampingi Anggota DPR-RI asal Aceh, Drs M.Nasir Djamil, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Rasyidah M Dallah dan beberapa staf Kementerian ESDM. Diakui, isi museum tersebut belum begitu representatif karena kebanyakan hanya menampilkan berupa foto-foto yang diabadikan saat tsunami, begitupun dinilai untuk sementara sudah mewakili.
"Kita bisa lihat beberapa gambarnya dengan display tadi yang ditampilkan secara berurutan melalui layar LCD. Juga ada informasi tentang bencana gempa bumi dan tsunami yang bisa kita lihat di dalamnya," jelas Irwandi.
Profesional
Gubernur berharap pengelolaan Museum Tsunami harus dilakukan secara profesional, sehingga keberadaannya memberi manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Aceh umumnya, dan Kota Banda Aceh khususnya."Bagi kami, yang penting museum itu harus dikelola dengan baik, sehingga aset wisata itu selalu terjaga," ujarnya.
Museum Tsunami dibangun dekat Blang Padang, yakni lapangan terbuka di pusat ibukota Banda Aceh dengan dilengkapi berbagai fasilitas. Museum dibangun semasa BRR Aceh-Nias dengan anggaran mencapai Rp70 miliar.
Selain sebagai tempat memamerkan barang peninggalan tsunam 26 Desember 2004 lalu, gedung itu juga memiliki fasilitas seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi dan kafe. Rencananya pembukaannya dilaksanakan bertepatan dengan ivent Aceh Fair 2011 di lapangan Blang Padang 8-15 Mei 2011.
Museum ini terdiri dari tiga lantai dan satu lantai dasar. Uniknya, lantai satu merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan untuk duduk santai. Letaknya juga sangat dekat dengan inti kota, yakni di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah mengungkapkan, museum ini tidak didesain mencerminkan penderitaan dan kedukaan masyarakat Aceh ketika bencana, melainkan sebagai bukti peringatan bahwa Aceh pernah dilanda bencana yang banyak menelan korban dan kini sudah bangkit berdiri kembali membenahi diri. Museum lebih dekat dengan fungsi wisata.dan akan menjadi obyek sejarah, menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami serta sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana maha dahsyat itu.
"Museum ini dibuat sebagai warisan kepada generasi mendatang dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi bencana gelombang tsunami dan untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia patut untuk terus diwaspadai," ujarnya.

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan