Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Saturday, September 15, 2012

Berkaryalah, Sebelum Kehilangan Semuanya

Oleh: Aliya Nurlela

Ketika seseorang berada dalam kondisi terpuruk, tak memiliki kekuatan, tak juga semangat dan tak memiliki harapan akan hari esok yang cerah. Ketika vonis dari manusia telah menjatuhkan bahwa “kamu tidak akan tertolong”. Ketika tubuh hanya bisa meringkuk, bagai seonggok daging tak berguna. Ketika air mata tak henti mengalir dan menciptakan telaga baru. Ya, telaga air mata sendiri. Dalam kondisi terpuruk seperti itu, apa yang bisa dilakukan seseorang? 
Mungkin, hanya tangis dan kepedihan yang menjadi teman bicara. Akan selalu bertanya, di manakah letak pertolongan itu? Andai aku tahu, letak pertolongan itu, maka akan kuraih dan kugenggam erat. Aku ingin menolong diriku sendiri untuk bangkit dari keterpurukan dan ketidakberdayaan. Aku ingin mendobrak semua kepedihan yang sangat menyayat hati. Aku ingin menunjukkan pada Sang Pencipta takdir ini bahwa aku menerima takdir-Nya dengan lapang. Tidak cengeng, tidak mengeluh dan uring-uringan. Namun, itu sulit kulakukan.

Meskipun ilmu tentang sabar dan syukur sudah kupelajari dan kubaca berulang-ulang, namun ketika kenyataan mengharuskan kita berhadapan dengan kondisi yang menuntut kita bersabar dan bersyukur, ternyata itu sangat berat dilakukan. Menerima kenyataan tak semudah menerima teorinya. Praktik itu lebih sulit. Itulah yang kurasakan.
Ujian itu datang tak pernah diundang. Mengejutkan. Sebuah penyakit yang bercokol di tubuh dan tidak terdeteksi medis. Semua dokter ahli yang menangani, sudah angkat tangan. Menurut mereka, tak ada penyakit dan tak ada obatnya. Hanya disarankan memohon pada Sang Pemberi sakit. Itulah solusi akhir. Seyogyanya, kepasrahan pada Allah memang menjadi kunci awal untuk bersandar diri. Bukan memposisikan di akhir ketika berada di ambang tipisnya harapan. Mendatangi dokter dan mengkonsumsi obat, hanyalah sebagai bentuk usaha untuk memfasilitasi menuju jalan kesembuhan. Bukan dokter atau obat yang menyembuhkan.
Ketika para medis yang ahli dalam bidang kedokteran saja mengatakan tak ada obatnya dan kecil kemungkinan untuk sembuh. Hanya satu pilihan kita. Pengobatan komprehensif lahir bathin! Aku pasrahkan sepenuhnya kesembuhan ini pada Sang Pemberi sakit. Aku memohon padanya melalui cara-cara pengobatan yang telah diajarkan oleh utusan-Nya. Bersandar diri sepenuhnya, bersedekah untuk kesembuhan, berzikir dan membaca ayat-ayat-Nya. Lalu, back to nature. Mengambil obat-obatan dari alam untuk menguatkan fisikku yang lemah.
Kakiku lumpuh. Tak bisa dipakai untuk berjalan. Sekadar menggeser atau membalikkan badan saja, aku tak mampu. Aku harus minta bantuan orang lain. Aku benar-benar berada dalam kondisi tak berdaya. Air mata tak henti meleleh dari pipiku, kala itu. Meskipun, aku menangis hanya pada saat lagi sendiri. Aku takut kejadian lebih buruk akan menimpaku. Betapa sedihnya jika aku harus tergolek selamanya dan meminta uluran tangan orang lain untuk membantu. Benar-benar aku was-was dan khawatir.
Tak ada yang bisa kulakukan di tempat tidur dalam kondisi lumpuh. Aku hanya bisa menangis dan menghibur diri. Agar aku tegar dan menerima ujian darinya. Tapi berat, sungguh berat. Tak bisa kubohongi diri ini. Di hadapan keluarga dan orang-orang yang menjengukku, aku bisa tersenyum meskipun tak sempurna. Namun sesungguhnya, hatiku menangis. Ketika mereka tak ada, mukaku akan bersimbah air mata. Tidak bisa kubendung. Air mata itu seperti air bah yang terus menerjang, menjebol tanggul di mataku. Aku merasa berenang di telaga airmataku sendiri.
Lumpuh tiga bulan! Waktu itu belum mengenal facebook, apalagi email, juga belum memiliki laptop. Jenuh, sangat jenuh. Ketika dalam waktu tiga bulan harus tergolek dan tidak memiliki apapun yang bisa dijadikan jalan untuk mengalihkan rasa sedih dan sakitku. Dalam kondisi lumpuh itu, berat badanku sudah turun 20 kg. Rambutku rontok. Hanya tersisa beberapa helai saja. Muka dan kulitku menghitam. Aku takut melihat mukaku di cermin. Aku menjauhkan cermin. Aku seperti benci cermin sejak aku sakit. Sementara di perutku ada benda yang selalu bergerak-gerak tetapi tidak terdeteksi alat-alat medis. Sudah berulangkali di USG dan rontgen, para medis tak menemukan apapun. Tapi anehnya saat dilihat dan dipegang, sangat jelas benda itu ada. Beberapa bagian tubuhku, seperti disayat-sayat silet dan mengeluarkan darah. Entah bagaimana terjadinya proses sayatan-sayatan itu, aku tak mengerti.
Mengenaskan sekali kondisiku waktu itu. Aku sering terjaga di malam hari dan tidak bisa tidur hingga subuh tiba. Aku menangis, melamun dan merenung. Aku hanya diajarkan untuk selalu menyebut nama-Nya dalam setiap tarikan napasku agar ‘gangguan’ itu segera enyah dari tubuhku. Dan memang hanya menyebut nama-Nya yang bisa kulakukan sambil berbaring. Salat pun kulakukan sambil berbaring. Mengambil wudhu harus minta bantuan. Jika tak ada orang, aku tayamum. Dan hanya berbekal tasbih, usai salat aku zikir semampuku.
Dalam kondisi seperti itu, aku membayangkan hal-hal yang tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benakku. Jika saja aku tidak tertolong, seperti pernyataan para medis itu. Lalu apa yang bisa kutinggalkan untuk keluargaku? Harta aku tak punya dan karya pun tak ada. Tak ada yang bisa diberikan dan tak ada yang pantas untuk dikenang.
Kalaupun Allah masih memberikan pertolongan tetapi dalam kondisi aku tetap lumpuh, lalu apa pula yang bisa menjadi catatan karya dalam hidupku yang bisa kuceritakan pada anak-anak dan cucuku kelak? Tidak sekadar cerita, tetapi yang bisa kubagikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Jika saja aku mengatakan bahwa aku dulu seorang penulis. Lalu, bagaimana jika kelak cucuku bertanya, “Katanya dulu nenek penulis. Tapi mana buku karya nenek?” Wah, benar juga ya. Tak ada jejak sebagai seorang penulis. Hanya cerita dari mulut saja. Cerita itu pun perlahan akan menguap ke udara dan tak ada yang mengingatnya lagi. Kalaupun pernah punya tulisan di koran yang pernah dimuat, itu koran jadul, yang anak cucu tidak mengenalnya. Bahkan, mungkin redaksi koran tersebut sudah tidak menerima naskah lagi, alias sudah buyar.
Jika aku memberikan buku tulis atau diari yang menjadi tempatku menulis setiap hari, apakah mereka tertarik? Jaman semakin maju. Tekhnologi semakin canggih. Anak-anak sekarang lebih suka membaca melalui layar komputer. Bukan buku tulis, apalagi dengan tulisan yang sulit dibaca. Membuat mereka ngantuk. Mungkin tidak akan berlaku pendapat bahwa tulisan yang menarik itu adalah tulisan yang membuat orang tidur menjadi terbangun, orang diam menjadi bergerak, orang berjalan menjadi berlari. Ini sebaliknya, orang bangun menjadi tertidur. Hmm… benar, tak ada jejak yang bisa dikenang dan bermanfaat bagi generasiku berikutnya.
Aku seolah tersadar. Mataku seolah terbuka lebih lebar. Tiba-tiba semangatku mulai tumbuh, menyeruak dan mendorong-dorong agar aku berbuat lebih baik. Menumbuhkan tekad yang kuat agar aku menghentikan tangisku dan mulai berkarya. Sebelum kehilangan semuanya, berkaryalah! Aku telah kehilangan kekuatan kakiku untuk bergerak, tapi bukankah pikiran dan hatiku masih bisa diajak ‘bergerak?’ Aku tidak ingin meringkuk bermandikan tangis dan tak berguna hingga akhir hayatku. Banyak orang cacat sejak lahir, mereka semangat dan berbuat. Mengapa aku yang diberikan kesehatan sekian tahun dan baru diuji beberapa bulan saja, tak mampu menstabilkan semangatku? Aku harus bisa!
Aku tidak mau seperti halnya pohon cemara. Saat hidup terlihat elok meliuk-liuk ditiup angin. Banyak orang mengagumi dan ingin memiliki. Pohonnya pun mahal harganya. Tapi ketika akar-akarnya tercerabut, layu dan mati, siapa yang tertarik padanya? Tak seorang pun peduli. Ia tak berguna sama sekali. Jangankan untuk hiasan, untuk kayu bakar pun tidak. Sungguh ironi. Saat masih sehat berdiri kokoh, disanjung dan diperebutkan banyak orang. Tetapi saat sakit dan mati tak seorang pun peduli.
Tidak! Aku tidak ingin menyia-nyiakan sisa hidupku. Biarlah Allah berbuat sesuai kehendak-Nya atas titipan yang diberikan-Nya padaku. Tapi aku pun harus berbuat dan berusaha sesuai ilmu dan ilham yang dititipkan-Nya. Lumpuh kaki bukan berarti pikiran dan hatiku ikut lumpuh. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Yang bisa mengubah keadaan menjadi bahagia, hanya aku. Semua sumber kesedihan itu sebenarnya ada dalam diriku sendiri. Aku terlalu dibayang-bayangi ketakutan. Hingga membuat kesedihanku tak berujung.  
Jika para wanita sahabatnya Zulaikha, bisa lupa akan sakitnya saat mereka melihat ketampanan Yusuf, berarti aku pun bisa. Para wanita sahabat Zulaikha itu tak sadar dan tak merasakan sakit saat jari jemari mereka terpotong pisau. Sebab, ingatan mereka hanyut dalam pesona ketampanan Yusuf. Dahsyat sekali. Itu artinya, aku harus mengalihkan ingatanku bukan pada penyakitku, tetapi pada sesuatu yang aku sukai. Agar lupa sakitnya dan lupa untuk bersedih. Benar, mulai saat itu aku menjadikan terapi untuk kesembuhanku salahsatunya dengan membaca dan menulis. Itulah hal yang aku sukai sejak kecil. Membaca dan menulis ternyata aktivitas yang cocok dilakukan oleh orang yang tidak bisa berjalan. Aku merasa terhibur. Aku bertambah wawasan meskipun aku tergolek di tempat tidur.
Aku juga bisa menuangkan perasaanku dalam tulisan. Aku menghindari rangkaian kata-kata yang mengundang tangis, yang mengundangku untuk terpuruk lagi. Aku menguatkan diri. Tak seorang pun bisa mengubahnya, kecuali aku sendiri. Ya, aku harus berubah untuk kebaikanku sendiri. Akhirnya, aku enjoy sekali membaca dan menulis. Buku-buku berserakan di tempat tidur. Merekalah temanku berbagi, yang bisa dibuka kapan saja. Kutuliskan kisah sakitku dengan bahasa remaja. Agar ceria dan tak menyeretku pada jatuhnya airmata. Aku berbicara konsep sedekah menjelang fajar. Sedekah sebagai salah satu jalan pengobatan. Kuceritakan kisah sakitku yang menempuh pengobatan salah satunya berobat lewat sedekah.
Aku ingat pesan seorang ustad yang membimbingku, “Apabila sakitnya parah, maka sedekah pun harus sebanding dengan sakitnya. Bukan seribu-dua ribu rupiah, tetapi harus ada niat dan pengorbanan  total untuk kesembuhan sakit itu.” Itu artinya, orang sakit harus benar-benar berniat menyedekahkan hartanya secara pantas untuk kesembuhannya. Seperti kisah-kisah orang saleh pada masa lalu. Saat ditimpa penyakit berat, mereka mengalirkan sumur untuk kepentingan orang banyak, menyedekahkan hasil panennya, memerdekakan budak, menghibahkan perhiasannya dan lain-lain. Dengan izin Allah, mereka mendapat kesembuhan tanpa bantuan medis.
Aku yakin dengan kisah-kisah itu adalah bagian dari keajaiban sedekah. Kuikuti nasehat baik itu. Dalam kondisi kita divonis tak tertolong lagi, yang kita pikirkan adalah benar-benar ingin berbuat yang terbaik. Rasanya kesiapan diri total untuk berkorban harta itu memang munculnya saat kita berada di ambang kematian. Aku berusaha semampuku untuk kesembuhan dan hasilnya aku pasrahkan pada-Nya. Aku yakin pertolongan-Nya akan datang tak terduga.
Allah menghiburku di suatu hari. Meskipun hingga kini aku belum percaya dengan kejadian itu. Tapi aku merasa bersyukur, ada seorang misterius yang datang menghiburku saat sakitku sedang pada titik di puncak kritis.

Sore itu, rombongan ustad dan santrinya datang menjengukku. Aku mendengar suara kendaraan yang mereka bawa di parkir depan rumah. Tiba-tiba seorang perempuan berjilbab putih, bergaun lebar dan berhidung mancung masuk ke kamarku. Lalu menyentuh kakiku dan membelainya lembut. Ia bertanya, “Sakit apa?” Aku bingung harus menjawab apa. Bukankah dokter saja tidak tahu jenis sakitnya. Aku jawab saja, kakiku lemas. Ia bilang, “Kasihan sekali.” Ia memijit-mijit kakiku. Wanita itu pun mengenalkan diri dan mengatakan rombongan ustad. Hanya beberapa menit ada di kamarku, ia pun pamit untuk ke ruang tamu.
Namun, betapa kagetnya saat tak seorang pun dari anggota rombongan itu yang membawa istri atau keluarga perempuan. Rombongan itu semuanya laki-laki. Mereka hanya bengong mendengar penjelasanku. Meskipun bulu kudukku sedikit meriding, tapi aku berhusnudzan saja, semoga itu adalah makhluk baik yang dikirim untuk menghiburku. Bukankah seorang lelaki saleh yang bernama Imron bin Husein, pada saat sakitnya selalu dikunjungi malaikat yang menyapanya setiap hari. Meskipun keimananku tak sehebat keimanan Imron bin Husein, tapi tak ada salahnya aku berharap seperti yang terjadi pada lelaki saleh itu.
Aku membaca dan menulis pada saat sakit itu. Aku tidak mau lagi mengikuti bayangan-bayangan buruk yang kuciptakan sendiri. Aku menghapus tentang vonis, prediksi dan ramalan-ramalan dari manusia. Aku siap mengikuti kehendak-Nya saja. Saat ada keinginan untuk memakai kursi roda, keluarga dan teman-teman menentangku. Sebab, aku tidak akan termotivasi untuk sehat. Selamanya akan tergantung pada alat bantu. Benar, aku tak boleh punya pikiran untuk memakai kursi roda.
Setiap hari, aku selalu menepuk-nepuk kakiku. Membacakan doa dan mengurut sendiri dari atas ke bawah. Usai salat lima waktu aku mengusapnya dengan air putih yang telah kubacakan doa dari ayat-ayat Alquran. Aku menjadi tabib untuk sakitku sendiri. Berulang-ulang kali, aku berkata, “Aku bisa! Aku sembuh! Aku pasti bisa!” Kutepuk kakiku dan mengatakan, “Aku kuat!” “Sembuh dengan ijin Allah.” Aku terus mengatakan seperti itu untuk menguatkan keyakinanku. Aku harus yakin dan husnudzan bahwa Allah akan memberikan kesembuhan. Meskipun adakalanya saat mengatakan, “Aku bisa!” tiba-tiba airmataku menetes lagi.
Pertolongan Allah memang indah dan benar adanya. Dia memberiku kesembuhan. Benda misterius yang ada di perutku hilang. Kulitku yang menghitam, akhirnya mengelupas. Aku berganti kulit. Rambutku tumbuh kembali layaknya rambut seorang bayi. Perlahan kakiku bisa digerakkan. Aku belajar merangkak, berpegangan pada dinding dan benda-benda yang ada di dalam rumah. Lalu belajar melepaskan pegangan tangan saat berjalan. Kebahagiaan pun datang, aku benar-benar bisa berjalan kembali bahkan berlari. Subhanallah, aku merasa terlahir kembali. Memiliki kulit baru, rambut baru, dan semangat hidup yang baru. Tangisku kali ini bercampur dengan senyuman. Alhamdulilah, atas pertolongan-Nya.
Ternyata tulisan yang kubuat saat sakit sudah setebal satu buku tulis. Langsung kuketik. Aku ingat tekadku saat sakit, “Sebelum kehilangan semuanya, berkaryalah!” Ya, aku harus menghasilkan karya. Usiaku 30an tahun waktu itu. Tak  apa, tak ada kata terlambat untuk memulai. Jika sebelum itu aku hanya mengirim tulisan-tulisanku ke media, tapi setelah sakit ini, keinginanku semakin kuat untuk memiliki sebuah buku hasil karya sendiri. Sayang sekali, aku tak memiliki pengetahuan cara mengirim naskah ke penerbit. Aku gaptek sekali. Bahkan yang kudengar, untuk membuat buku kita diterbitkan harus melalui proses seleksi beberapa bulan. Jika naskah tidak diterima, maka penantian berbulan-bulan itu berbuah hampa. Rumit dan kecil harapan bisa diterima. Itu menurutku waktu itu.
Langkah pertamaku, adalah menghubungi seorang penulis yang bukunya pernah kubeli. Kebetulan ia mencantumkan nomor handphone di bukunya. Kabarnya, ia sudah menerbitkan 46 buku nonfiksi. Baiklah, tak ada salahnya aku minta bantuannya menilai tulisanku sebelum mengirimkannya ke penerbit. Alhamdulilah, ia bersedia dan menyuruhku mengirimkan naskah yang sudah kutulis. Karena aku gaptek, belum bisa menggunakan email, maka naskah setebal itu kukirim via pos. Penulis itu berkomentar, “Ya ampun Mbak, kalo dalam bentuk print out kayak gini, bisa dua tahun saya membacanya. Kirim ulang lewat email!” Wah, aku benar-benar tidak paham email. Meskipun sudah dibuatkan kakakku tetapi tak mengerti cara menggunakannya.
Akhirnya, kulupakan saja meminta bantuan penulis itu untuk menilai karyaku. Sebab belum bisa mengirimkan lewat email. Rupanya, penulis itu diam-diam membacanya meskipun naskahku dalam bentuk print out. Ia bilang naskahku layak untuk dikirim ke penerbit. Aku senang sekali seorang penulis yang telah menghasilkan banyak buku, menilai karyaku layak dikirim ke penerbit. Namun, lagi-lagi terbentuk masalah ke’gaptek’an. Aku tidak bisa mengirimnya lewat email. Ya sudah, lagi-lagi kulupakan saja.
Tanpa diduga, suatu hari manager sebuah penerbitan meneleponku. Dengan santun, ia mengenalkan nama dan nama penerbit tempatnya bekerja. Lalu mengatakan tertarik dengan naskahku dan berniat untuk menerbitkan. Tentu saja aku kaget. Aku tidak pernah mengirimnya pada penerbit. Aku kira itu modus penipuan, seperti penipuan-penipuan yang pernah dialamatkan ke nomor handphoneku. Ada penipuan hadiah mobil, sepeda motor, hingga uang tunai.
Namun, manager penerbit itu meyakinkanku bahwa ia benar-benar telah membaca naskahku yang dibawa penulis yang pernah kumintai bantuan menilai sebelumnya. Katanya, tertarik menerbitkannya. Tentu saja aku senang sekali. Benarkah? Rasanya tak percaya. Aku tidak perlu menawarkan naskah ke penerbit, tidak perlu ngantri berbulan-bulan, tidak perlu lobi-lobi. Justru penerbit itu sendiri yang menawarkan untuk menerbitkan karyaku, tanpa ngantri dan tanpa biaya. Bahkan, bukuku dipasarkan ke Toko Buku Gramedia seluruh Indonesia.
Sudah pasti aku tidak menolak. Sebagai penulis pemula, senangnya bukan kepalang ada penerbit yang melamar karyaku. Aku sangat berterima kasih sekali. Bagiku, semua itu semata-mata atas kehendak-Nya. Bukan karena tulisanku yang bagus dan hebat, tetapi semua itu tak lepas dari andil-Nya yang telah tercatat dalam buku desain yang Maha Indah. Inilah salah satu dari berkah sakitku.
Penerbit itu mewujudkan semuanya. Ia memintaku merevisi selama lima hari, agar tulisanku tidak bergenre remaja. Lalu memintaku mengirim lewat email. Kali ini, aku sanggupi. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Atas bantuan penjaga warnet, naskahku sukses terkirim lewat email. Penerbit itu benar-benar memenuhi janjinya. Surat kontrak royalty kutandatangani dan bukuku tersebar di 46 toko buku Gramedia se-Indonesia. Termasuk toko-toko buku besar lainnya.
Aku masih belum percaya dengan semua kejadian itu. Allah seperti memudahkan jalan itu dan memberikan begitu saja apa yang kuinginkan. Disaat aku mulai bertekad untuk menghasilkan karya, dan ada kesungguhan mewujudkannya ternyata Allah telah menyiapkan jawaban yang sangat indah di hadapanku. Luar biasa. Aku bersyukur dan berterima kasih pada tim penerbit itu yang telah menghargai karya sederhana seorang pemula dan menorehkan kebahagiaan di hati seorang manusia yang baru saja terlepas dari keterpurukan.
Ketika angka penjualan bukuku di Gramedia sudah mencapai angka 400 eksemplar lebih dan menerima royalty pertama kalinya, aku semakin yakin bahwa aku harus semangat menghasilkan karya yang bermanfaat, sebelum kehilangan semuanya. Jika karyaku dinilai tak memiliki manfaat bagi pembacanya, setidaknya aku telah berbagi menyebarkan kebaikan. Bukankah menyebar kebaikan sekecil apapun akan dicatat sebagai amal ibadah? Tak ada kebaikan yang sia-sia. Demikian pula, tak ada kata lelah dalam menyebar kebaikan. Itu artinya, harus terus menggelorakan semangat berdakwah bil qalam. Mari kita berkarya, sebelum kehilangan semuanya. Kehilangan waktu, kesempatan, kesehatan dan umur kita.
*) Penulis adalah Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, berdomisili di Malang, Jawa Timur
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Saturday, October 1, 2011

Mendobrak Mahar Di Aceh

Teuku Zulkhairi
Budaya materialistis yang telah mengkristal dalam kehidupan masyarakat Aceh telah membentuk sebuah kultur adat yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam. Anehnya kultur tersebut sengaja terus dilestarikan tanpa ada upaya untuk mengkaji ulang. Sebagai contoh, mas kawin (mahar) di Aceh sekian lama telah menjelma menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar pemuda Aceh yang sudah sampai pada fase nikah.

Tingginya jumlah mas kawin telah menyebabkan seringnya niat menikah dari pemuda kita menjadi tertunda-tunda atau bahkan mungkin gagal sama sekali, dan pada akhirnya berujung kepada seringnya terjadi berbagai kerusakan dan kemaksiatan.

Fakta bahwa sebagian besar pihak mempelai wanita pasti akan mematok mas kawin yang terbilang fantastis dan cukup tinggi adalah hal yang tak terbantahkan, padahal mayoritas masyarakat kita didominasi oleh masyarakat berstatus ekonomi kelas bawah/miskin. Anehnya pola pikir seperti ini oleh sebagian besar pihak mempelai wanita dianggap sebagai sebuah kemestian karena keberhasilannya nanti akan menjadi prestise dan prestasi keluarga. Pada akhirnya fakta tersebut telah membentuk sebuah paradigma berpikir sebagian besar pemuda kita yang cenderung apatis memikirkan urusan pernikahan, paradigma berpikir seperti ini menyebabkan penundaan atau terhambatnya pelaksanaan hal tersebut. Padahal dalam Islam pernikahan adalah hal yang sangat urgen dan mesti disegerakan, karena ia menjadi salah satu kunci ketenangan hati dan kedamaian pikiran. Disamping itu, pernikahan juga merupakan kunci untuk menutupi pintu-pintu kemaksiatan

Meskipun pada faktanya budaya materialistis dan pragmatis sudah sangat rawan menjangkiti masyarakat Aceh, namun demikian disini penulis tidak bermaksud menjustifikasi pihak mempelai wanita dalam kasus ini, baik mempelainya ataupun orang tua mempelai yang bersangkutan, karena mereka hanya mengikuti adat dan pertimbangan lain yang didominasi oleh pengaruh adat, bukan anjuran syariat. Bahkan saya melihat bahwa adat tingginya jumlah mas kawin di Aceh cenderung jauh dari tatanan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi prinsip kesederhanaan. Namun demikian panulis tidak bermaksud agar jumlah mas kawin tersebut diberikan patokan dengan standar yang minimum, jika pihak mempelai laki-laki sanggup memberikan mas kawin dalam jumlah yang maksimum ya silahkan, bukankah itu juga sebuah kebaikan? Namun, pemberian mas kawin dengan jumlah yang maksimum jangan menjadi sebuah adat, karena realitas kita lihat masyarakat Aceh dominannya adalah masyarakat miskin.

Satu sisi, adat tingginya jumlah mas kawin memang menghadirkan kemaslahatan karena menjadi suatu komoditi pasar yang kompetitif dimana hal tersebut akan memotivasi para pemuda Aceh untuk bekerja keras dengan berbagai keterampilan ilmu dan usahanya. Mereka akan mempersiapkan diri dan berupaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya dalam keluarga. Namun disisi yang lain jelas bahwa mafasid atau kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dari kemaslahatan tadi. Islam mengajarkan kita agar tidak membiarkan pintu kemaksiatan terbuka, bahkan Islam memerintahkan kita untuk menutupi potensi semua pintu kemaksiatan yang bisa ditimbulkan.

Ketika adat tadi menjadi faktor penghalang niat seseorang untuk menikah, itu artinya adat tersebut telah membiarkan pintu kemaksiatan terbuka. Hal ini bisa berakibat fatal dengan rusaknya tatanan masyarakat bersyari’at yang sedang dibangun, misalnya, bertambahnya wanita-wanita yang memasuki usia tua tanpa sempat menikah yang berujung pada seringnya terjadi berbagai fitnah, rawannya pacaran dan perzinaan (free sex), kasus-kasus khalwat yang sering kita dengar, ini adalah fenomena yang bisa kita lihat lansung saat ini.

Maka dari itu, diperlukan keberanian dari kedua mempelai dan keluarganya untuk mendobrak adat mas kawin tersebut tanpa ada perasaan takut dengan hukuman adat yang akan menerpanya. Misalnya; malu sama tetangga atau teman-teman, atau contoh hukuman adat yang lain seperti minimnya perolehan dukungan dari keluarga dan kerabat disebabkan patokan jumlah mas kawin yang bisa atau mudah dijangkau oleh pihak mempelai laki-laki –meskipun dia berasal dari masyarakat kalangan ekonomi kelas bawah sekalipun.

Saya kira, patokan tingginya jumlah mas kawin di Aceh juga bukan bukti pemuliaan terhadap wanita, karena dalam Islam disebutkan, bahwa wanita yang baik dan mulia adalah yang meminta mas kawin sedikit meskipun dikasih banyak, dan sebaliknya laki-laki yang baik adalah yang memberi banyak meskipun diminta sedikit. Terhadap argument yang sering penulis dengar, bahwa tngginya nilai mas kawin akan bisa meminimalisr terjadinya kasus-kasu perceraian, saya kira argument ini kurang tepat.

Menurut hemat penulis, penyebab terjadinya perceraian lebih tergantung kepada sosok individu-individu yang bersangkutan, misalnya disebabkan karena kurang intensnya komunikasi individu-individu tersebut dengan Tuhan Sang Pencipta, atau kurang bagusnya manajemen pengelolaan konflik dalam keluarga, atau contoh yang lain misalnya seperti rendahnya etika dan moral yang dimiliki oleh salah satu atau kedua belah pihak yang terlibat dalam perceraian, saya pikir tidak ada sangkut pautnya antara kasus perceraian dengan nilai mas kawin.

Dari pemaparan ini penulis berharap MAA (Mejlis Adat Aceh) yang selama ini aktif melestarikan adat Aceh agar bisa memberikan peran sertanya yang signifikan dalam rangka menyelesaikan persoalan anak bangsa tersebut, sekaligus menjadi saham dan peran serta kita dihadapan Allah kelak dalam upaya penegakan syari’at secara totalitas di Nanggroe Aceh Darussalam ini. Atau mungkin dengan realitas berbagai sisi negative/mafasid dari adat tingginya jumlah mas kawin tersebut haruskah ia tetap terus dilesatarikan? Adakah adat itu sebuah aksioma yang seorang pun tidak boleh menggugat? Ataukah mungkin adat tersebut adalah laksana patung pahatan leluhur kita yang tidak bisa disentuh untuk direkon kembali? Wallahu a’lam

Islam dan Mas kawin

Dalam Islam, mas kawin merupakan pemberian yang wajib dari mempelai lelaki kepada mempelai wanita. Dalil wajibnya mas kawin ditunjukkan antara lain dalam firman Allah SWT surat An-Nisa’ ayat 4, “Berikanlah mas kawin kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”. Dan Rasulullah sebagai unsur yang menjalankan fungsinya sebagai mutabayyin (orang yang menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an) menjelaskan etika pemberian mas kawin ini dalam satu hadist riwayat Abu Dawud, bahwa “Sebaik-baik mas kawin adalah yang paling ringan.” Dalam hadist yang lain Rasulullah juga menjelaskan bahwa, “pernikahan yang paling besar barakahnya adalah yang paling murah mas kawinnya” (HR. Ahmad).

Sahabat Rasulullah Umar bin Khatab juga pernah menasihati para sahabat yang lain, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menetapkan mas kawin para wanita, karena kalau mas kawin itu dianggap sebagai pemuliaan di dunia atau tanda takwa kepada Allah SWT, tentunya Rasulullah SAW lebih dahulu daripada kalian untuk berbuat demikian.” (HR. Abu Dawud).

Maka, menjadi tugas bagi kita semua, khususnya MAA untuk menghadirkan solusi serta merubah paradigma berpikir sebagian besar pemuda kita tersebut agar tidak lagi memandang mas kawin sebagai momok yang menghambat dan menghalangi niat mereka untuk nikah, disamping itu tentunya kita juga berharap kesadaran dari pihak mempelai wanita untuk bisa melihat persolan yang sangat substantif ini secara lebih dalam, sesusi dengan perspektif Islam. Karena dalam Islam, bahkan mengajarkan surah-surah Al-Qur`an-pun dapat dijadikan mas kawin, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Sahl bin Sa’ad.

Seorang wanita dapat pula menerima keislaman calon suaminya yang semula kafir sebagai mas kawin, sebagaimana mas kawin Ummu Sulaim ketika menikah dengan Abu Thalhah. Ini semua adalah kemudahan-kemudahan yang ada dalam Islam, dan hal ini sangatlah wajar mengingat Islam adalah Agama yang memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap pemeluknya. “Permudahkan, jangn persulit!!” pesan Rasul. Wallahu a’lam bis-shawa.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam di Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Organisasi Rabithah Thaliban Aceh (RTA).

Wednesday, September 21, 2011

Kisah Panglima Prang Menolak Rumah Mewah

Menyoe mantong na rumoh ureung gampong nyang hana layak tinggai, bek peugot rumoh meugah keu lon (kalau masih ada rumah warga desa yang tidak layak huni, jangan bangun rumah megah untuk saya)”. –Abdullah Syafie 

Letusan senjata mengoyak hening Subuh di areal persawahan Alue Mon, Cubo, Kecamatan Bandar Dua, Pidie. Subuh itu, 22 Januari 2002, Teungku Abdullah Syafie dan pengawalnya turun ke Alue Mon. Rupanya, pergerakan sang Panglima Prang AGAM itu tercium pasukan TNI yang sedang mengintai.

Perang pun meletus. Laga ‘timah panas’ dari moncong senjata AK kontra SS1 dan M16 membahana memecah sunyi.

Auuu... Jala menjerit. Kakinya kena tembak. Jala menangis. Kombatan GAM dari Panteu Breuh, Desa Abah Lueng ini terus saja merintih, menahan rasa sakit.

Jala adalah nama panggilan untuk Jalaluddin, pengawal Tengku Abdullah Syafi’ei, akrab disapa Teungku Lah.
Pertempuran antara pasukan pengawal Teungku Lah versus pasukan TNI dari Ton-2 Kompi Yonif Linud 330 yang dipimpin Serka I Ketut Muliastra semakin sengit.

Teungku Lah mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki Jala. Lalu, Teungku Lah membubuhkan ie babah (air dari mulut) pada luka kaki Jala. “Bek moe lee,” kata Teungku Lah pada Jala.

Jala merasakan kondisinya mulai membaik. Ia kembali menembak, membantu rekannya membalas gempuran pasukan pemerintah.

Tak lama berselang, tiba-tiba Teungku Lah kena tembak. Jala yang menempel Teungku Lah mencoba membantu Panglima Komando Pusat Teuntra Neugara Atjeh ini. Jala ingin memapah Teungku Lah untuk ke luar dari arena kontak tembak.

Bek (jangan),” Teungku Lah melarang. “Nyoe ka troh nyang lon lakee, ka troh watee nyang lon preh-preh (kini sudah tiba waktunya yang saya tunggu-tunggu)”.

Dalam kondisi sekarat, Teungku Lah memerintahkan Jala segera lari, menyelamatkan diri. Jala menolak, ia tidak ingin meninggalkan panglimanya. Teungku Lah kembali memerintahkan Jala untuk kabur. Jala akhirnya menurut, lari dari medan tempur.

“Saat lari, Jala menemukan sebuah sumur. Dia masuk ke sumur itu, lalu menutup sumur dengan tumpukan jerami,” kata Puteh Binti Abbas,73 tahun, ketika ditemui The Atjeh Post di Desa Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kamis 1 September 2011.

 mertua Teungku Lah. Ia mendengar cerita itu langsung dari mulut Jala tak lama setelah kejadian itu. Jala selamat setelah masuk ke sumur. Sedangkan Teungku Lah, meninggal di tempat. Dari foto yang diperlihat pasukan TNI setelah peristiwa itu, Teungku Lah tewas dengan luka menganga di dada. 

“Anak saya, Fatimah (istri Teungku Lah) yang sedang hamil tujuh bulan, bersama para  pengawal Teungku Lah, juga tertembak dalam kejadian itu, mereka meninggal. Hanya dua orang yang selamat, salah satunya, Jala,” kata Nek Teh.

Usman Basyah, warga Desa Blang Sukon memperoleh informasi yang sama tentang kronologis meninggalnya Teungku Lah seperti yang diceritakan Nek Teh. “Teungku Lah, Fatimah, Muhammad dan Teungku Daud dimakamkan berdampingan. Yang lainnya (juga pengawal Teungku Lah) dikebumikan di kampung kelahirannya masing-masing,” katanya.

Makam Teungku Lah, Fatimah, Muhammad dan Tgk Daud berada di belakang rumah Tgk Lah. Saat ini ditempati Nek Teh, di Desa Blang Sukon. Makam tersebut sedang dipugar atas inisiatif Bupati Aceh Jaya Ir. Azhar Abdurahman, juga mantan kombatan GAM.

Saat Lebaran seperti sekarang, makam Teungku Lah ramai dikunjungi warga. Ada yang sekedar menuntaskan rasa  penasaran, ada juga yang peulheueh kaoy atau melepas hajat.

* * *

Teungku Lah telah tiada. Sembilan tahun berlalu. Namun karakter sosok Panglima Angkatan GAM kelahiran Matang Glumpang Dua, Bireuen itu masih melekat erat dalam ingatan warga Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya.

Desa Blang Sukon berjarak sekitar tujuh kilometer dari Jalan Medan-Banda Aceh, kawasan Keude Paru, Kecamatan Bandar Baru. Saat ini jalan penghubung Keude Paru ke Desa Blang Sukon telah beraspal. Suasana kawasan perbukitan itu teduh, nyaman. Pepohonan di pekarangan rumah warga tampak rindang.

Sebagian rumah berkonstruksi permanen. Dari bangunannya bisa dipastikan rumah-rumah itu belum lama dibangun. Sisanya, masih rumah-rumah berkonstruksi kayu, peninggalan masa lalu, termasuk rumah almarhum Teungku Lah.

“Suatu waktu, saat Teungku Lah masih hidup, pernah ada yang minta untuk membangun rumah beliau, rumah besar. Tapi Teungku Lah menolak,” kata Usman Basyah.

Kata Usman, ketika itu Teungku Lah dengan tegas menyatakan, “menyoe mantong na rumoh ureung gampong nyang hana layak tinggai, bek peugot rumoh meugah keu lon (kalau masih ada rumah warga desa yang tidak layak huni, jangan bangun rumah megah untuk saya)”.

Makanya, Usman melanjutkan, sampai Teungku Lah meninggal, rumahnya masih berkonstruksi alakadar. Jauh dari kesan mewah.

Semasa memimpin perang gerilya, Teungku Lah juga banyak menerima kedatangan pihak-pihak yang membawa uang berlimpah. “Teungku Lah langsung bertanya, uang itu untuk siapa”. Yang membawa uang menjawab, “uang untuk nanggroe”.

Mendengar itu, Teungku Lah menyatakan, “kalau untuk nanggroe (biaya perjuangan GAM) jangan kasih ke saya, serahkan kepada yang berhak pegang uang itu”.

“Begitulah sifat Teungku Lah, beliau tidak mau menerima yang bukan haknya,” kata Usman Basyah. Nek Teh membenarkan.

Usman Basyah bilang, “meunye mantong na droe geuh Teungku Lah, mungken Aceh uroe nyoe ji-oh leubeh jroh (kalau masih ada Teungku Lah, mungkin Aceh hari ini jauh lebih baik)”.

Dalam pandangan Usman Basyah, Nek Teh dan warga lainnya, Teungku Lah betul-betul seorang panglima, pemimpin yang memberi contoh teladan kepada pasukannya. Juga sangat peduli dengan nasib masyarakat miskin.

Tak heran, banyak kalangan di Aceh merindukan sosok pemimpin seperti Teungku Lah. Teramat rindu.[]


www.ikhwanesia.com


Saturday, September 17, 2011

Andai Hasan Tiro Masih Bisa Marah

oleh : Taufik Almubarak

Andai saya boleh berandai-andai, ya…andai boleh berandai, Saya lebih suka berandai jika Wali Neugara Teungku Hasan di Tiro masih hidup. Sebab, jika dia masih hidup tentu akan marah dan sangat kecewa. Apa pasal?

Ceritanya dimulai sejak lima bulan lalu. Sudah kebiasaan jika sedang mengakses internet, saya selalu mencari-cari informasi atau sesuatu terkait dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sesekali saya membuka situs organisasi perlawanan itu http://asnlf.com meski saya tahu pasca penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 silam makin jarang ada posting terbaru. Malah, belakangan saat riuh politik Pilkada 2006 dan Pemilu Legislatif 2009 menghangat, praktis tak ada lagi posting terbaru.

Padahal, untuk ukuran organisasi sebesar GAM, memiliki website yang sering terupdate dengan informasi up to date sangatlah penting. Dia menjadi corong komunikasi dengan pihak lain. Melalui website pula, orang jadi tahu apa dan bagaimana organisasi tersebut, apa yang sedang dilakukan dan bagaimana pandangannya terkait perkembangan terbaru.
Awalnya, ketika perdamaian belum tercipta, website yang dikelola Teuku Hadi (Perwakilan GAM di Jerman) dan Teungku Yusra Habib Abdul Gani (GAM di Denmark) saat itu cukup aktif, terutama dalam menyuarakan aspirasi GAM, termasuk melaporkan kejadian di lapangan (laporan dari medan perang). Website itu pula jadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengenal lebih dekat dengan GAM.

Trafik kunjungan ke website tersebut sering membludak saat menjelang Milad (peringatan ulang tahun GAM 4 Desember). Dulu, wartawan (lokal, nasional maupun asing) rela menunggu hanya untuk mendapatkan amanat Wali Neugara Hasan Tiro setiap perayaan 4 Desember, biasanya dalam dua bahasa: Aceh dan Inggris. Dalam amanat itu, sering berisi kecaman terhadap tindakan refresih militer Indonesia serta seruan kepada masyarakat internasional untuk memediasi perdamaian.

Bagi orang GAM di lapangan, amanat tersebut biasanya sudah diterima 2-3 hari sebelum pelaksanaan Milad. Mereka biasanya mendapatkannya dari perwakilan GAM di Kuala Tripa (awal 2000 GAM terlibat perundingan dengan RI dalam bentuk joint of understanding for humanitarian pause dan punya perwakilan yang berkantor di Hotel Kuala Tripa). Saya pernah membaca amanat Wali pada saat Milad GAM tahun 2002 dua hari sebelum acara tersebut digelar. Saat itu seorang perwakilan GAM, Teungku Amni Ahmad Marzuki meminta saya membaca pidato tersebut  yang baru diterimanya dari Stockholm. Saya sering bertemu dengan beliau dan beberapa tokoh GAM lainnya.

Itu dulu, saat kondisi Aceh tak menentu. Saat GAM masih kuat dan berwibawa (secara ideologis). Melalui sebuah website mereka mengampanyekan ide merdeka ke seluruh dunia. Selain itu, GAM juga masih disiplin soal menjaga arsip dan risalah nanggroe. Orang yang ingin membaca pemikiran Hasan Tiro bisa mendownloadnya di website ASNLF (Acheh Sumatera National Liberation Front) tersebut.

Bagi GAM di lapangan saat itu, keberadaan website tersebut juga menjadi penjaga semangat. Soalnya, mereka bisa mengetahui apa yang terjadi dengan diplomasi mereka di luar negeri, apa yang dikerjakan para petinggi, dan aktivitas GAM di belahan dunia. Mereka pun tak ragu mengobar perang karena sangat yakin hal itu membantu bargaining GAM di mata internasional dan Indonesia.

Tapi apa yang terjadi kini? Sangat menyedihkan. Satu persatu hal terkait Aceh yang bernilai sejarah hilang. Dulu, rumah kediaman Wali Nanggroe di Stockholm dijual. Kita pun tak tahu dimana arsip-arsip yang disimpan cukup rapi oleh beliau semasa hidup. Sekarang, kita juga kehilangan website http://asnlf.com dan semua arsip di dalamnya entah di mana. Jika di alam nyata keberadaan GAM perlahan-lahan dilemahkan dan bakal menghilang, maka di dunia maya GAM sudah hilang sama sekali.

Tak percaya? Coba buka situs http://asnlf.com, kita tak lagi disapa dengan simbol Bouraq-Singa dan bendera Bintang Buluen, dan tak ada lagi gambar pemimpin GAM Teungku Hasan Tiro. Kita juga tak lagi melihat title ‘Welcome to Acheh Sumatera National Liberation Front website. Pasalnya, website tersebut kini sudah dimiliki sebuah perusahaan developer rumah; Meridian Greenfield. LLC. Di menu about us kita dapat membaca dengan jelas:
We are a group of young, energetic individuals who each share a passion for building homes and low impact communities of unparalleled quality, value and distinction.  We improve people’s lives by building homes deeply rooted in, and respectful of, their natural surroundings and designed to withstand the test of time.
 Uncommon attention to detail, superior sustainable materials and handcrafted custom accents are the foundation of every home we build.
Karena itu, kalau seandainya Teungku Hasan Tiro masih hidup, dia akan panggil Malik Mahmud, Zaini Abdullah atau para petinggi GAM dan tentu saja memarahi mereka. Pasalnya, meski GAM kini punya akses terhadap ekonomi Aceh dan sebagian petingginya sudah sejahtera tapi sebuah website yang harga domain dan hostingnya tak lebih Rp1 juta tersebut tak mampu dijaga dan pelihara. Sepertnya menjadi benar kata kawan saya, “Merdeka ka ie raya ba.”[]


Thursday, September 1, 2011

Manfaat Marah Menangis Dan Tertawa

Ini dia beberapa fakta tentang marah yang perlu Anda ketahui:

1. Menurut Charles Spielberger, Ph.D., seorang ahli psikologi yang mengambil spesialisasi studi tentang marah. Marah adalah suatu perilaku yang normal dan sehat yakni sebagai salah satu bentuk ekspresi emosi manusia. Seperti bentuk emosi lainnya, marah juga diikuti dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika Anda marah, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, begitu juga dengan level hormon, adrenalin dan noradrenalin.

2. Mark Gorkin—seorang konsultan pencegahan stres dan kekerasan— membagi marah dalam empat kategori; marah yang disengaja, marah spontan (marah yg dilakukan secara tiba-tiba), marah konstruktif (marah yang disertai ancaman terhadap orang lain) dan marah destruktif (marah yang ditumpahkan tanpa rasa bersalah).

3. Marah juga merupakan satu bentuk komunikasi. Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika kita marah. Bentuk penyampaian marah bisa berbeda-beda bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Berbeda dengan orang Amerika yang lebih berterus terang mengungkapkan perasaannya atau sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.

4. Marah adalah manusiawi. Marah yang bisa berdampak buruk adalah marah yang tidak dikelola. Sebaliknya bila Anda mampu mengelola amarah dengan tepat, maka ekspresi kemarahan Anda justru akan menyehatkan. Hal ini sudah terbukti pada sebuah penelitian yang menyatakan marah akan lebih baik daripada memendam perasaan jengkel.

5. Bagaimana marah yang menyehatkan itu? Yakni marah yang beralasan yang bukan karena faktor subjektif semata. Lontarkan kemarahan atau kejengkelan Anda sewajarnya saja. Sampaikan, penyebab utama kejengkelan itu. Bukan marah yang sekadar menuruti emosi yang meledak-ledak, kemudian melampiaskannya melalui kata-kata, ekspresi dan perlakuan yang kasar karena dapat merugikan orang lain. Untuk itu, dalam keadaan marah kita harus mengedepankan rasio. Sehingga kemarahan itu jadi lebih terkendali.

6. Bagi Anda yang selama ini kerap mengumbar marah tanpa alasan kuat, ada 4 langkah yang dapat dilakukan:

- Mengidentifikasi kesalahan sikap dan pendirian yang memengaruhi seseorang menjadi marah secara berlebihan. Bila telah diketahui dan diperbaiki kesalahan ini, umumnya Anda bakal lebih mudah mengendalikan marah.

- Mengidentifikasi faktor-faktor dari masa kecil yang menghambat kemampuan untuk mengekspresikan amarah. Faktor-faktor ini termasuk ketakutan, penolakan dan ketidaktahuan.

- Mempelajari cara tepat untuk mengekspresikan kemarahan sehingga tetap dapat menguasai situasi yang menimbulkan kemarahan itu, bahkan secara lebih efektif.

- Menutup luka-luka yang mungkin tertinggal oleh pengaruh emosional dari kemarahan yang menghancurkan.

MENANGIS

1. Menangis adalah ekspresi dari emosi yang dipercaya dapat meningkatkan kesehatan. Hal ini dipicu karena air mata yang keluar saat menangis mengandung zat mangan dan hormon prolaktin yang cenderung meningkat ketika seseorang dilanda frustrasi/depresi. Keluarnya kedua zat tersebut dari tubuh secara otomatis menurunkan depresi yang tengah diderita.

2. Ada 3 jenis air mata. Pertama, air mata basal yang diproduksi untuk melubrikasi mata secara teratur. Kedua adalah air mata yang keluar secara refleks karena dipicu oleh iritasi yang dapat terjadi oleh pengaruh bawang atau lainnya. Yang ketiga adalah air mata yang keluar karena pengaruh emosi. Jenis air mata terakhir inilah yang memiliki zat mangan dan hormon prolaktin tertinggi. Jadi, ketika seseorang menangis karena emosi yang melanda dirinya, keluarnya air mata tersebut secara naluriah mengurangi perasaan depresi yang ada hingga tubuh mencapai kondisi stabil.

3. Menangis yang sehat adalah menangis sepuasnya hingga rasa sedih atau beban emosi yang membebani terasa berkurang. Dengan begitu, usai menangis akan timbul perasaan nyaman.

TERTAWA

1. Tertawa bermanfaat untuk kesehatan. Tertawa melepaskan energi positif yang menstimulasi otak untuk melepaskan pemikiran-pemikiran negatif maupun depresi yang dialami tubuh. Menurunnya tingkat depresi pada tubuh menyebabkan sistem kekebalan tubuh pun meningkat secara otomatis sehingga tubuh terasa lebih segar dan sehat.

2. Ketika tertawa, tubuh akan menghasilkan hormon endorphine yang memberikan rasa nyaman bagi tubuh (sebagai penenang alami). Tertawa dapat meredakan stres bahkan dipercaya dapat membuat orang lebih awet muda.

3. Tertawa juga dipercaya dapat bermanfaat untuk membantu proses penyembuhan atas suatu penyakit yang tengah diderita. Dengan tertawa peredaran darah dalam tubuh akan lancar, kadar oksigen dalam darah meningkat. Selain itu, tekanan darah akan normal.

4. Tertawa yang sehat adalah yang lepas, gembira dan dilakukan dengan sepenuh hati. Ketika tertawa, otot-otot di sekitar wajah pun mendapatkan stimulasi. Sehingga dapat sekaligus untuk senam wajah, mengendurkan ketegangan otot-otot di wajah.Sumber
 Manfaat Marah Menangis Dan Tertawa

Sunday, August 28, 2011

PNS, Kerajaan Terburuk di Indonesia

JAKARTA - Pegawai negeri sipil adalah kerajaan terburuk di Indonesia. Kinerjanya dalam pelayanan publik buruk setiap tahunnya tetapi anggaran negara yang tersedot kepentingan mereka terus membengkak setiap tahunnya. 

"Pegawai negeri adalah kerajaan terburuk di negeri ini. Dalam survei internasional tentang iklim investasi, ranking Indonesia berada di urutan ke-115. Pelayanan birokrasi kita tergolong paling buruk di dunia walaupun anggarannya naik terus setiap tahunnya," kata Ekonom Didik J Rachbini, Kamis (18/8/2011).

Menurut Didik, tidak semua pegawai negeri sipil buruk. A da sejumlah lembaga yang mulai profesional seperti Bank Indonesia. Namun may oritas lembaga birokrasi, kinerjanya masih buruk.

Pada RAPBN 2012 yang total belanjanya Rp 1418,5 triliun, menurut Didik, belanja untuk keperluan p egawai negeri sipil yang meliputi belanja barang dan belanja pegawai, besarnya Rp 353 triliun. Hal ini tidak masuk akal dan menunjukkan rakusnya birokrasi pusat.

Hal sama, Didik melanjutkan, terjadi pada birokrasi di daerah. Transfer dana dari pusat ke daerah , mayoritas juga dihabiskan untuk kepentingan birokrasi seperti membangun gedung-gedung pemerintah. Modus serupa diperkirakan akan terjadi pada RAPBN 2012 di mana transfer ke daerah besarnya Rp 464,4 triliun.

KOMPAS.com

Saturday, August 27, 2011

Hasan Tiro, Sang Ideolog Aceh Merdeka

Oleh : Taufik Al Mubarak
Saya tak pernah bertemu dan bertatap muka langsung dengan Teungku Hasan di Tiro (selanjutnya disingkat Tiro saja). Tapi saya cukup menikmati menelaah pemikiran sosok yang dikenal dengan Wali Nanggroe itu, baik melalui buku-buku, pidato maupun surat-surat dia. Bagi saya, Tiro adalah penulis revolusioner Aceh. Dia juga seorang ideolog dengan pengetahuan yang cukup luas.

Maka, kematian arsitek nasionalisme Aceh modern ini tentu saja sebuah kehilangan besar bagi bangsa Aceh (mungkin juga bagi Indonesia dan Negara-negara beradab). Jujur kita katakan, Tiro bukan hanya aset Aceh dan Indonesia, melainkan bagi dunia-dunia beradab lainnya.

Dalam pengantar buku Hasan Tiro; Dari Imajinasi Negara Islam ke Imajinasi Etno-Nasionalis (Ahmad Taufan Damanik, 2011), staf FES Indonesia menceritakan bagaimana seorang sopir taxi asal Kurdistan di Jerman sangat bergembira begitu tahu bahwa penumpangnya dari Aceh. “Tiro, Ja Tiro aus Aceh” (Tiro dari Aceh). Menurut dia, bangsa Kurdistan sangat terispirasi dengan ide seorang Hasan Tiro. Hasilnya, sang sopir itu menolak menerima bayaran ketika tiba di  tempat tujuan (rumah makan Turki) sebagai penghormatan dia terhadap Hasan Tiro.

Untuk konteks Aceh belakangan ini, saya berani bertaruh, tak ada sosok yang patut disepadankan dengan dia, termasuk dari internal GAM sendiri. Tiro sangat karismatik, teguh pendirian, pintar, pekerja keras dan tentu saja pejuang sejati. Dalam rentang 50 tahun, belum tentu Aceh bisa melahirkan sosok seperti dia (semoga saja anggapan saya salah).

Jauh sebelum mengobarkan perang total dengan Indonesia, Tiro sebenarnya seorang pemikir kebangsaan Indonesia. Sosok dia dapat kita sandingkan dengan Tan Malaka, perintis kemerdekaan Indonesia, yang kemudian coba dihilangkan dari sejarah Indonesia. Tan Malaka sangat terkenal dengan visinya yang menembusi sekat-sekat nasionalisme sempit, tak sekedar mencita-citakan kemerdekaan teritorial, tapi juga manusia yang bernaung di bawahnya. Tan Malaka menyerukan kemerdekaan Indonesia seratus persen. Sebuah tujuan yang sulit dicapai (setidaknya hingga hari ini).

Sementara Tiro, sejak 1958 sudah menawarkan konsep pemerintahan federal untuk Indonesia. Tiro sangat yakin, bahwa masing-masing wilayah tak mungkin disatukan dan kemudian dipimpin oleh sebuah suku dominan. Negara harus menghormati kekhasan wilayah seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Aceh (sebagian wilayah itu malah perlu diizinkan menjadi Negara sendiri).

Tiro mengusulkan ide tersebut setelah melihat perlawanan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan Permesta/PRRI di Sumatera dan Sulawesi. Namun, ide itu sama sekali tak mendapat tanggapan positif dari pemerintah pusat di Jakarta. Malah, Tiro dipandang sebagai musuh yang diharamkan menginjak kaki di Indonesia.

Tiro sudah sejak dulu ingin mengubah Indonesia dari Negara kesatuan menjadi Negara federal. Namun, keinginan tersebut tak tercapai. Dia pun kemudian menawarkan solusi yang jauh lebih radikal dengan memperjuangkan kemerdekaan Aceh, lepas dari Indonesia.

Terus terang, sejak membaca buku Demokrasi untuk Indonesia, rasa kagum saya kepada cucu Teungku Chik di Tiro ini memuncak. Tiro dapat ditempatkan sejajar dengan pemikir sekaliber Muhammad Hatta, Syahrir, Soekarno atau Marx dan Lenin sekalipun. Semangat patriotisme Tiro bisa menempatkan dia sebanding dengan Fidel Castro, Nelson Mandela atau George Washington.

Kenapa saya begitu terkagum-kagum dengan Tiro? Ini pertanyaan sulit dijawab. Saya ingin sampaikan, rasa kagum saya bukan karena sosok dia digambarkan secara militan, karismatis atau seorang pejuang Aceh, oleh para pengikutnya atau dari buku-buku. Rasa kagum itu bukan datang karena membaca buku-buku yang ditulis para penulis tentang dia. Malah, buku-buku itu bagi saya belum begitu mampu menggambarkan sosok dia sesungguhnya.

Rasa kagum saya sepenuhnya justru karena pemikiran-pemikiran dia yang terhimpun dalam sejumlah tulisan, utamanya The Price of the Freedom (The Unfinished History of Teungku Hasan di Tiro), Aceh di Mata Donya atau Perkara dan Alasan Aceh Merdeka atau bahkan Demokrasi untuk Indonesia. Empat buku (sebagian tulisan) ini menurut saya sudah mewakili buku atau tulisan-tulisan lain untuk mengetahui pemikiran-pemikiran dia secara utuh.

Sebagai anak yang besar di tengah suasana konflik dan perang, nama Tiro tak asing di telinga saya saat itu. Nama Tiro sering disandingkan dengan Husaini Hasan, Daud Paneuk, Robert atau Arjuna. TNI atau Brimob yang sempat bermukim di kampung saya juga sering menyebut nama-nama itu dan melabelnya dengan penjahat atau pengacau. Saat itu para Camat (termasuk Keuchik) juga ikut-ikutan mengikuti sikap TNI itu.
Sejak itu, saya makin bertanya-tanya soal nama-nama ‘pemberontak’ atau ‘pengacau’ versi pemerintah tersebut. Beruntung, saya hidup di lingkungan orang-orang yang bersimpati pada perjuangan orang ini. Sehingga, informasi yang saya peroleh cenderung balance dan tak terpengaruh dengan stigma yang dilabelkan sepihak oleh TNI.

Saya masih ingat, bagaimana orang-orang tua berbicara setengah berbisik jika menyangkut Tiro atau pengikutnya yang sering disebut ‘awak ateuh’. Mereka seperti ingin menyembunyikan pembicaraan itu dari kami yang masih kecil. Dari guru sejarah saya di bangku MTs, saya mendengar Tiro sudah meninggal. (Belakangan saya jadi tahu bahwa guru saya terpengaruh dengan propaganda pemerintah). Saya tentu sedih sekali. Saya sempat berpikir, jika Tiro masih hidup, dia tentu bisa mengembalikan kejayaan Aceh.

Memori itu pula menuntun saya memburu tulisan Tiro. Saat duduk di bangku Aliyah (MA), saya beruntung mendapat foto kopi tulisan “Perkara dan Alasan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka.” Anehnya, di sampul itu tercetak penulisnya dengan nama Jean Hara. Buku ini masih sangat rahasia dan beredar di kalangan terbatas. Saya beruntung seorang teman memberi izin untuk memfoto copy. Dalam semalam saya lahap habis isinya.
Buku stensilan tersebut benar-benar mempengaruhi saya. Saya mulai yakin bahwa perjuangan AM (dulu saya mendengar sebuah untuk pejuang GAM dengan sebutan AM atau awak ateuh) berada di pihak yang benar. Saya pun tak pernah absen menghadiri ceramah-ceramah GAM yang mulai digelar secara diam-diam di seluruh Aceh. Ceramah ini biasanya dilakukan tanpa pengumuman terlebih dulu, melainkan beredar dari mulut ke mulut.

Itulah sekelumit kisah pertemuan saya dengan Tiro (tapi bukan dalam artian pertemuan fisik). ‘Pertemuan’ ini pula membuat saya tertarik mempelajari lebih jauh pemikiran pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini. Sebagiannya justru memengaruhi saya untuk memikirkan kembali soal identitas kebangsaan saya.
Lalu, bagaimana Tiro mendoktrin pengikutnya? Dalam Aceh Bak Mata Donja (Aceh di Mata Dunia), saya membaca pikiran-pikiran Tiro soal Nanggroe Aceh. Saya yakin pengikut beliau yang pernah berlatih di Libya pernah mendapatkan pelajaran ini secara langsung dari beliau.

Tiro cukup fasih berbicara soal Neugara Aceh. Aceh, sebutnya, salah satu bangsa yang tegak di atas bumi ini. Bangsa selalu hidup meski satu persatu anggotanya meninggal. Satu bangsa selalu tak berubah, meski keturunannya terus berganti.

“Saboh bansa hana tuha, sabé muda, bah that pih sidroë-droë angèëta djeuët keu tuha.”
Karena itu, simpulnya, bangsa Aceh hari ini masih sama dengan bangsa Aceh pada masa 100 atau 1000 tahun yang lalu atau pada masa mendatang. Keturunan tersebut terus bersambung-sambung dan tak pernah putus.
“Endatu geutanjoë njang ka maté ka ta gantoë lé geutanjoë; geutanjoë akan djigantoë lé aneuk-tjutjo njang akan lahé, meunankeuh trôk'an akhé dônja.”

Menurut Tiro, darah para indatu Aceh yang sudah meninggal mengalir dalam tubuh generasi Aceh yang masih hidup ini. Generasi sekarang juga masih berbicara dengan bahasa yang sudah diajarkan oleh para indatu tersebut.
Tiro memulai pendidikan Aceh (Acehnese Education) kepada dengan para pengikutnya dengan neuduk (kedudukan) Aceh dalam sejarah dunia. Tiro berharap, melalui pendidikan tersebut, pengikutnya merasa lebih percaya diri seperti ditunjukkan para endatu sebelumnya. Terlihat, betapa cerdik Tiro merekonstruksi kembali imaji nasionalisme Aceh yang telah koyak.  [bersambung]

Keterangan:
1. Awak ateuh: sebutan untuk pengikut Hasan Tiro yang bergerilya di hutan-hutan Aceh.
2. “Saboh bansa hana tuha, sabé muda, bah that pih sidroë-droë angèëta djeuët keu tuha.” (satu bangsa tidak pernah tua, tapi selalu muda, meski satu persatu keturunannya jadi tua).
3. “Endatu geutanjoë njang ka maté ka ta gantoë lé geutanjoë; geutanjoë akan djigantoë lé aneuk-tjutjo njang akan lahé, meunankeuh trôk'an akhé dônja.” (Indatu kita yang sudah meninggal sudah kita gantikan. Kita nantinya akan digantikan oleh anak-cucu yang akan lahir, selalu begitu  hingga akhir zaman).
    Note: Tulisan seri pemikiran Hasan Tiro ini saya rencanakan terbit berseri. Mohon ditunggu kelanjutannya.

http://jumpueng.blogspot.com

Sunday, May 8, 2011

Museum Tsunami Segera Dibuka Kembali untuk Masyarakat

Banda Aceh - Museum Tsunami Aceh yang selama setahun terakhir ditutup untuk pelaksanaan renovasi setelah selesai dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, dalam waktu dekat akan segera dibuka kembali untuk masyarakat (umum).
Sebelumnya, museum yang berada di sekitar lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut masih kosong, dan saat ini telah diisi dengan berbagai jenis benda peninggalan bencana tsunami oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta dilengkapi foto-foto display bersejarah.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Jumat (6/5) melakukan peninjauan langsung ke lokasi Museum Tsunami tersebut menjelang dibuka secara resmi untuk masyarakat pada 8 Mei 2011. Ia juga menyatakan, pengelolaan museum akan dilakukan langsung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dengan membentuk sebuah UPTD Khusus.
"Pengelolaan Museum Tsunami ini ada kecenderungannya oleh pemerintah provinsi, semacam UPTD Khusus nanti. Sedangkan untuk dana operasional sementara ini dibantu oleh Kementerian ESDM dan juga untuk perawatannya selama empat tahun ke depan," ujar Irwandi Yusuf, kepada wartawan di sela-sela peninjauan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga didampingi Anggota DPR-RI asal Aceh, Drs M.Nasir Djamil, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Rasyidah M Dallah dan beberapa staf Kementerian ESDM. Diakui, isi museum tersebut belum begitu representatif karena kebanyakan hanya menampilkan berupa foto-foto yang diabadikan saat tsunami, begitupun dinilai untuk sementara sudah mewakili.
"Kita bisa lihat beberapa gambarnya dengan display tadi yang ditampilkan secara berurutan melalui layar LCD. Juga ada informasi tentang bencana gempa bumi dan tsunami yang bisa kita lihat di dalamnya," jelas Irwandi.
Profesional
Gubernur berharap pengelolaan Museum Tsunami harus dilakukan secara profesional, sehingga keberadaannya memberi manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Aceh umumnya, dan Kota Banda Aceh khususnya."Bagi kami, yang penting museum itu harus dikelola dengan baik, sehingga aset wisata itu selalu terjaga," ujarnya.
Museum Tsunami dibangun dekat Blang Padang, yakni lapangan terbuka di pusat ibukota Banda Aceh dengan dilengkapi berbagai fasilitas. Museum dibangun semasa BRR Aceh-Nias dengan anggaran mencapai Rp70 miliar.
Selain sebagai tempat memamerkan barang peninggalan tsunam 26 Desember 2004 lalu, gedung itu juga memiliki fasilitas seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi dan kafe. Rencananya pembukaannya dilaksanakan bertepatan dengan ivent Aceh Fair 2011 di lapangan Blang Padang 8-15 Mei 2011.
Museum ini terdiri dari tiga lantai dan satu lantai dasar. Uniknya, lantai satu merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan untuk duduk santai. Letaknya juga sangat dekat dengan inti kota, yakni di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah mengungkapkan, museum ini tidak didesain mencerminkan penderitaan dan kedukaan masyarakat Aceh ketika bencana, melainkan sebagai bukti peringatan bahwa Aceh pernah dilanda bencana yang banyak menelan korban dan kini sudah bangkit berdiri kembali membenahi diri. Museum lebih dekat dengan fungsi wisata.dan akan menjadi obyek sejarah, menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami serta sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana maha dahsyat itu.
"Museum ini dibuat sebagai warisan kepada generasi mendatang dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi bencana gelombang tsunami dan untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia patut untuk terus diwaspadai," ujarnya.

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan