Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Wednesday, August 10, 2011

Masyarakat Aceh Jual Emas Untuk Berhaji

Banda Aceh - Gonjang-ganjing Kurs Mata Uang Dollar Amerika Serikat yang cenderung merosot tajam beberapa pekan ini,nilai tukar Dollar Amerika terhadap Rupiah adalah Rp.8535/USD, sementara harga emas produksi PT.Aneka Tambang Tbk, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rabu (10/08) berkisar 473.000 rupiah per gram. Paradoks ini membuat sebagian masyarakat berfikir ulang mencari solusi Alternatif berinvestasi. Harga Emas yang cenderung stabil dipandang sebagai salah satu bentuk investasi yang aman,selain tanah dan property.

Khusus dalam urusan 'Tabungan Haji' ternyata hal ini telah diselenggarakan orang-orang tua zaman di Aceh. Makanya kalau mau pergi ke Mekkah mulai saat ini menabunglah dengan Emas, seperti melamar Dara Baroe dengan beberapa Manyam Meuh.Jika ada cita-cita naik haji, maka tabunglah dengan beli Emas, jangan tabung ke bank' demikian petuah bijak seorang tua di Aceh. Nurdin AR,Kepala Museum Aceh, yang dihubungi The Globe Journal, Rabu (10/8) via telepon mengungkapkan, " 30 - 40 % masyarakat di kampung saya yakin masih melakukan hal itu, setahu saya sampai dengan tahun 90-an masyarakat yang berangkat haji menjual emas terlebih dahulu," ujarnya

Dilanjutkannya, " sebagai salah satu alat tukar, emas yang dikumpulkan satu gram - dua gram itu sampai dengan mencukupi, dijual dan pergi haji (Tabungan orang tua-tua di perkampungan di Aceh-red) meskipun kini perbankan merambah hingga pelosok Kecamatan, saya pikir masih saja ada masyarakat yang menabung dengan emas sebagai bekal berangkat haji mereka. karena Emas Aman dan untung selalu, uang susut terus seperti dollar." tegasnya serius

Muslim (45 Tahun) penduduk Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, mengatakan, " saya baru sadar ternyata 'endatu geutanyoe' telah memberikan contoh konkrit dengan menabung emas untuk berangkat haji, ternyata sejarah tidak bisa disembunyikan bagaimana Dirham Aceh yang terbuat dari emas dahulu bisa menjadi alat tukar hingga ke wilayah Khilafah Islam di Turki" Angguknya serius.


Sunday, July 17, 2011

Bukan "Ratu Safiatuddin" Tetapi "Sultanah Safiatuddin"


Aceh Besar - Penulisan “Ratu Safiatuddin” yang bertempat di simpang empat lamprit yang berbentuk pintu gerbang yang dibuat dalam bentuk taman itu salah dalam kepenulisan. Karena istilah dalam bahasa Aceh, kalau untuk menyebutkan seorang raja perempuan, maka yang benar “Sultanah” bukan “Ratu”.

Demikian disampaikan Kepala Museum Aceh, Nurdin AR, di Sare School kepada The Globe journal, Minggu(17/7).

“Orang Aceh banyak membaca buku karangan dari barat, sementara dari barat kalau untuk menyebutkan raja perempuan itu Queen yang berarti ratu, nah, orang Aceh saat ini menerjemahkan kata-kata daripada Queen, padahal mereka tidak tahu itu salah,”ungkap Nurdin.

Lanjut Nurdin, yang di Taman Ratu safiatuddin Lamprit itu saat dibangun itu oleh Ibu Marlinda, istrinya Abdullah Puteh yang menjabat sebagai gubernur Aceh saat itu, tidak pernah bertanya kepada dirinya kerena marah kepada Nurdin akibat sering mengkritik kesalahan dalam penulisan sejarah.

“Namun saat dilaksanakan Pekan Kebudayaan Aceh(PKA) kemarin, saya sudah menyuruh panitia untuk mengubah tulisan itu. Karena menurut saya itu tidak ada sumber, Cuma suber dari barat saja yang menulis seperti itu,”ujarnya.

Namun sampai saat ini tidak diubah kata Nurdin, karena Surat Keputusan (SK) dari presiden, maka tidak bisa diubah lagi, padahal yang benar menurut Nurdin itu bukan Ratu, akan tetapi Sultanah, kalau masyarakat tidak percaya kata Nurdin maka masyarakat bisa melihat buku-buku yang ditulis pada masa Sultanah Aceh, dan lihat juga mata-mata uang pada masa itu sering tertulis “Paduka Sultanah Safiatuddin”. Bukan ratu.

“ Gunakan sumber yang primer, kenapa harus diambil yang tidak primer,”tukas Nurdin.

Dengan kesalahan tersebut katanya menyebar ke mana-mana, sehingga gampong-gampong pun sudah mengikuti kesalahan tersebut.


Sunday, May 8, 2011

Museum Tsunami Segera Dibuka Kembali untuk Masyarakat

Banda Aceh - Museum Tsunami Aceh yang selama setahun terakhir ditutup untuk pelaksanaan renovasi setelah selesai dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, dalam waktu dekat akan segera dibuka kembali untuk masyarakat (umum).
Sebelumnya, museum yang berada di sekitar lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut masih kosong, dan saat ini telah diisi dengan berbagai jenis benda peninggalan bencana tsunami oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta dilengkapi foto-foto display bersejarah.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Jumat (6/5) melakukan peninjauan langsung ke lokasi Museum Tsunami tersebut menjelang dibuka secara resmi untuk masyarakat pada 8 Mei 2011. Ia juga menyatakan, pengelolaan museum akan dilakukan langsung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dengan membentuk sebuah UPTD Khusus.
"Pengelolaan Museum Tsunami ini ada kecenderungannya oleh pemerintah provinsi, semacam UPTD Khusus nanti. Sedangkan untuk dana operasional sementara ini dibantu oleh Kementerian ESDM dan juga untuk perawatannya selama empat tahun ke depan," ujar Irwandi Yusuf, kepada wartawan di sela-sela peninjauan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga didampingi Anggota DPR-RI asal Aceh, Drs M.Nasir Djamil, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Rasyidah M Dallah dan beberapa staf Kementerian ESDM. Diakui, isi museum tersebut belum begitu representatif karena kebanyakan hanya menampilkan berupa foto-foto yang diabadikan saat tsunami, begitupun dinilai untuk sementara sudah mewakili.
"Kita bisa lihat beberapa gambarnya dengan display tadi yang ditampilkan secara berurutan melalui layar LCD. Juga ada informasi tentang bencana gempa bumi dan tsunami yang bisa kita lihat di dalamnya," jelas Irwandi.
Profesional
Gubernur berharap pengelolaan Museum Tsunami harus dilakukan secara profesional, sehingga keberadaannya memberi manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Aceh umumnya, dan Kota Banda Aceh khususnya."Bagi kami, yang penting museum itu harus dikelola dengan baik, sehingga aset wisata itu selalu terjaga," ujarnya.
Museum Tsunami dibangun dekat Blang Padang, yakni lapangan terbuka di pusat ibukota Banda Aceh dengan dilengkapi berbagai fasilitas. Museum dibangun semasa BRR Aceh-Nias dengan anggaran mencapai Rp70 miliar.
Selain sebagai tempat memamerkan barang peninggalan tsunam 26 Desember 2004 lalu, gedung itu juga memiliki fasilitas seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi dan kafe. Rencananya pembukaannya dilaksanakan bertepatan dengan ivent Aceh Fair 2011 di lapangan Blang Padang 8-15 Mei 2011.
Museum ini terdiri dari tiga lantai dan satu lantai dasar. Uniknya, lantai satu merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan untuk duduk santai. Letaknya juga sangat dekat dengan inti kota, yakni di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah mengungkapkan, museum ini tidak didesain mencerminkan penderitaan dan kedukaan masyarakat Aceh ketika bencana, melainkan sebagai bukti peringatan bahwa Aceh pernah dilanda bencana yang banyak menelan korban dan kini sudah bangkit berdiri kembali membenahi diri. Museum lebih dekat dengan fungsi wisata.dan akan menjadi obyek sejarah, menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami serta sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana maha dahsyat itu.
"Museum ini dibuat sebagai warisan kepada generasi mendatang dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi bencana gelombang tsunami dan untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia patut untuk terus diwaspadai," ujarnya.

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan