Wednesday, August 17, 2011

Laskar Cut Nyak Dhien dan Damai Aceh (2)

Raibah bukan satu-satunya kombatan perempuan yang enggan berkecimpung di dunia politik dan membicarakan kembali masa lalu konflik Aceh. Adalah Bunyani (31), warga Desa Alay, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan.

Kedua perempuan ini lebih memilih terus bergelut dalam aktivitas sosial kemasyarakatan, terutama kegiatan penguatan dan peningkatan sumber daya manusia, di desa mereka masing-masing.

Hampir tak ada waktu luang bagi Bunyani saat ini. Aktivitasnya sebagai kader Pos Yandu dan anggota Tuha Peut (Lembaga Petua desa) di Desanya membuat Bunyani larut dalam kesehariannya. “Bagi saya hidup dengan aktivitas sosial sudah menjadi bagian diri saya, bahkan sejak saya belum bergabung dengan pasukan Cut Nyak Dhien,” kenang Bunyani.

Bunyani mengaku, keinginan untuk bisa membangun kesejahteraan rakyat ini pula yang mendasari dirinya memutuskan mau untuk menjadi bagian dari pasukan Cut Nyak Dhien.

“Saya bergabung sekitar tahun 2002, ikut latihan fisik dan pernah juga latihan memegang senjata, walau tidak pernah mengoperasionalkannya. Karena saya dinilai aktif akhirnya saya dipilih dan dilantik menjadi pelatih,” ujar perempuan kelima dari enam bersaudara ini.

Hanya setahun Bunyani bergelut dengan aktivitas latihan militer, kemudian dia memutuskan untuk kembali ke desanya dan hidup dengan keluarganya. “Sempat lebih dari enam bulan saya berdiam di Kota Banda Aceh karena dicari-cari oleh aparat keamanan, dan kemudian saat saya kembali ke kampung. Saya dikenakan wajib lapor ke pos aparat, dan ini sangat tidak mengenakkan, apalagi saya juga menerima berbagai intimidasi,” katanya.
Saya bergabung sekitar tahun 2002, ikut latihan fisik dan pernah juga latihan memegang senjata
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3126491' border='0' alt='' /></a>
Kalau diingat-ingat, kata Bunyani, kondisi masa lalu ini selalu membuatnya trauma. Bunyani mengaku tak bangga menjadi anggota pasukan, tapi ia mengaku bangga bisa mendapat pengalaman dalam membimbing dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat, walau saat ini kesejahteraan itu belum terpenuhi.

“Masih banyak masyarakat yang miskin, karena Pemerintah dan orang-orang yang berkuasa hanya mementingkan kepentingan mereka semata,” katanya.

Bagi Raibah dan Bunyani, proses damai yang sudah memasuki tahun keenam di Aceh ini bukanlah sekadar keinginan mereka dan masyarakat Aceh, melainkan harapan dan cita-cita anak cucu dimasa yang akan datang.

“Mungkin saat inilah perjuangan yang sebenarnya harus dilakukan, yakni mempertahankan damai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta berpikir maju, dan Pemerintah harus bisa menjadi pemimpin bagi rakyatnya, apa yang menjadi hak rakyat, hendaknya dipenuhi,” tambah Bunyani.

Ruh perdamaian Aceh tidak akan berjalan dengan baik, jika masih ada kesenjangan yang tajam antara perkembangan sektor perkotaan dan pedesaan, masih tingginya tingkat kemiskinan dan jumlah pengangguran. Karena hakikat perjuangan rakyat Aceh adalah untuk keadilan, kesejahteraan dan demokrasi.

Bunyani dan Raibah hanya segelintir masyarakat di Aceh yang menginginkan Perdamaian Aceh berlangsung hingga seumur hidup... 

kompas.com


 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan