Wednesday, August 17, 2011

Laskar Cut Nyak Dhien dan Damai Aceh (1)

" Raibah, mantan anggota pasukan Cut Nyak Dhien tengah menggerai daun-daun nilam yang sedang dijemurnya di halaman rumahnya di Desa Kemumu Hulu, Kecamatan Labuhan Haji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (12/8/2011) lalu."
Semerbak wewangian yang ditebarkan daun-daun nilam menjadi ucapan selamat datang di rumah mungkil berukuran 42 meter persegi itu. Bangunan sederhana semi permanen tersebut terlihat sepi, menunjukkan penghuninya semua sedang beraktivitas di luar rumah.

Raibah, sang pemilik rumah, sibuk menggerai daun-daun nilam yang sedang dijemurnya di halaman. Terik matahari lumayan menyengat hari itu. “Cuma ada sedikit daun nilam, setelah sekian lama kebun terlantar dan tak ada yang menangani di kebun,” ujarnya sambil menjulurkan tangan menyambut kedatangan Kompas.com di kediamannya, di Desa Kemumu Hulu, Kecamatan Labuhan Haji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (12/8/2011) lalu.

Tak ada yang berbeda antara Raibah dan perempuan lainnya di desa ini. Tak terlihat pula tanda-tanda bahwa perempuan berkulit gelap ini sebenarnya adalah mantan kombatan perempuan yang tergabung dalam pasukan Cut Nyak Dhien pada masa konflik Aceh bergolak, lebih enam tahun lalu.

Ah, itu hanya masa lalu, sebenarnya tak ingin saya menceritakannya lagi, itu masa tersakit yang pernah saya lalui sepanjang hidup saya hingga saat ini,” ucapnya lirih.

Awalnya, kata Raibah, rumahnya yang ada di ujung desa dan berbatasan langsung dengan kebun dan hutan, memang sering didatangi oleh pasukan kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Selain meminta logistik, juga sekaligus tempat beristirahat dan transit.

“Kemudian mereka meminta saya untuk bergabung karena mereka memang membutuhkan anggota lebih banyak, termasuk perempuan, dan suami saya pun mengizinkannya. Tentunya dengan niat, mudah-mudahan dengan bergabungnya saya ke dalam kelompok kombatan ini bisa memberi perubahan di masyarakat,” kenangnya.
Bunyani dan Raibah hanya segelintir masyarakat di Aceh yang menginginkan Perdamaian Aceh berlangsung hingga seumur hidup
Alhasil, melalui beberapa latihan fisik, Raibah pun menjadi bagian dari pasukan Cut Nyak Dhien. Namun Raibah tak terlibat dalam aktivitas militer, apalagi pertempuran. Raibah hanya bagian dari pasukan logistik dan kesehatan.

Saat perang pecah, Raibah kembali ke kediamannya. Dia memutuskan untuk kembali dan tidak terlibat pertempuran. Namun keberadaan Raibah tercium aparat, hingga Raibah ditahan dan mendapat intimidasi.

“Saat itu, saya dipisahkan dari anak keempat saya yang berusia 15 hari, berkali-kali saya minta dipertemukan namun tak diijinkan, dan saya berkata, jika tak diijinkan sebaiknya saya ditembak saja, mungkin ini sudah takdir saya. Tapi sebelum ditembak, saya meminta agar bisa dipertemukan dengan anak saya,” kata Raibah.

Tak lama berada di tahanan, Raibah pun akhirnya diperbolehkan pulang dengan catatan wajib lapor. Untunglah, perang segera berakhir dengan adanya perjanjian damai antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandai dengan penandatanganan MoU Helsinki, 15 Agustus 2005.

Alhamdulillah sekarang kondisi sudah membaik dan aman, saya hanya ingin meneruskan hidup saya dan keluarga, dan hidup tenang di tengah-tengah masyarakat, dan kembali menanam dan merawat kebun pala kami yang sudah sangat lama terbengkalai, karena hanya itu sumber pendapatan keluarga kami,” ujar Raibah.

Meski mantan kombatan perempuan, Raibah tak canggung berbaur di lingkungannya. “Warga desa dan tetangga saya juga tahu kalau dulu saya pernah ikut pasukan, tapi mereka semua tetap menerima saya dengan baik. Bahkan banyak aktivitas sosial kemasyarakat yang kini saya geluti bersama warga dilakukan di rumah saya, dan alhamdulillah aktitvitas itu berjalan baik,” jelasnya.

Banyak hal yang kini digeluti Raibah di tengah warga. Antara lain, ia menjadi paralegal bagi warga desanya, menjadi anggota forum pala sebuah organisasi petani pala dan menjadi Ketua koperasi sukses di desanya, Desa Kemumu Hulu, Kecamatan Labuhan Haji Timur.

Raibah bukan satu-satunya kombatan perempuan yang enggan berkecimpung di dunia politik dan membicarakan kembali masa lalu konflik aceh. Adalah Bunyani (31), warga Desa Alay, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan...

Bersambung...

kompas.com


 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan