| Nurul Husna | The Atjeh Post |
Meski sibuk menekuni studi sebagai mahasiswa semester 5 di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, dara kelahiran Tapaktuan ini, masih sempat meluangkan waktu untuk berlatih, meski tak lagi aktif di sanggar tari Cut Nyak Dhien, tempat ia menimba ilmu tari.
Saat masih aktif di sanggar tari itu, Nurul sempat beberapa kali tampil mementaskan tarian dalam acara lauching produk beberapa perusahaan perbankan dan juga telekomunikasi di Aceh. Malah, gadis yang juga punya hobi menyanyi ini ditugaskan sebagai penjemput tamu-tamu penting.
Menurut Nurul, tarian Aceh masih tetap menjadi primadona. Apalagi tarian Aceh punya karakter yang khas. Saat diundang ke kantor redaksi The Atjeh Post, Jumat lalu, dara kelahiran 11 Maret 1992 ini banyak berkisah soal harapannya terhadap dunia seni tari di Aceh, termasuk bagi kaum pria Aceh.
Berikut petikan perbincangannya.
Sejak kapan mulai menjadi penari?
Dari kecil memang Nurul sudah suka menari. Di sekolah juga Nurul sering ikut lomba menari mewakili sekolah, juga waktu Nurul masuk SMP. SMA Nurul mulai masuk sanggar Cut Nyak Dhien. Di situ mulai fokus dan tampil di beberapa acara penyambutan tamu. Sekarang sudah jarang latihan, karena sekarang sedang fokus kuliah.
Bagaimana proses latihannya?
Kalau belajar dasar ya waktu masih di SD, waktu masuk sanggar Nurul diajarkan lebih jauh soal gaya dan bagaimana gerakan-gerakan dari masing-masing tarian yang kami pelajari. Kami latihan tiga hari dalam seminggu. Waktu di sanggar itu Nurul sangat menikmati ya, karena semuanya kita seperti saudara sendiri.
Sudah pernah membawakan tarian apa saja?
Lebih seringnya Ranuep Lampuan. Tarian Aceh kan banyak. Ada Ranuep Lampuan, Prang Sabil, Tari Likok Pulo dan beberapa tarian lainnya. Nurul juga lebih sering jadi pagar ayunya, yang tugasnya seperti mengalungkan bunga dan menjemput tamu.
Apa yang membuat Nurul suka menari?
Bagi nurul menari itu khususnya tarian Aceh itu bisa membangkitkan semangat, baik bagi kita sendiri dan juga bagi para penonton. Apalagi ketika kita tampil didepan banyak orang, kita berusaha menghadirkan penampilan yang sebaik mungkin. Itu yang membuat Nurul tertantang dan menyukai dunia tari.
Bagaimana Nurul melihat perkembangan tarian Aceh sekarang?
Memang tarian Aceh itu sudah dikenal banyak orang. Waktu masih aktif di sanggar, kami juga sering mendapatkan undangan tampil di beberapa acara di luar negeri. Jadi menurut Nurul perkembangan seni tari di Aceh cukup baik dan prospeknya cukup bagus. Tarian Aceh insyaallah ke depannya masih tetap disenangi banyak orang.
Agar seni tari Aceh lebih baik lagi bagaimana?
Yang perlu dikembangkan mungkin minat remaja-remaja sekarang untuk mencintai dan melestarikan tarian Aceh. Sebab Nurul lihat sudah banyak remaja Aceh yang tak suka menari. Dengan begitu, kedepannya tarian Aceh itu ada yang melanjutkan.
Apalagi cowok. Sekarang jarang sekali cowok mau ikut menari. Takut dibilang banci. Padahal tidak, karena banyak juga tarian Aceh yang melibatkan cowok sebagai penarinya. Mungkin persepsi takut dibilang banci itu perlu diubah, dan cowok-cowok Aceh bisa lebih terlibat di seni tari.[]
atjehpost.com
3:14 PM
Fadel Aziz Pase

Posted in:
