Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, mengatakan nama Malikussaleh yang dikenal sebagai pemersatu umat Islam kala jaya Kerajaan Samudera Pasai, jangan hanya dipakai sebagai sombolis, baik lembaga pendidikan maupun nonpendidikan.
Seperti Unimal, STAIN dan Dayah Malikussaleh. Tetapi bagaimana spirit kepemimpinan dan keislaman Malikussaleh bisa dikembangkan kepada generasi penerus bangsa, sehingga pelajaran hidup Malikussaleh tumbuh abadi di Bumi Serambi Mekkah.
Irwandi mengatakan, kalau mengunjungi makam Malikussaleh 20 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe di Desa Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, seolah-olah tidak ada yang terkesan, sehingga puluhan tahun nyaris tidak tersentuh pembangunan.
Makam Malikussaleh direnovasi pasca hadirnya BRR 2005 lalu. “Banyak pelajaran hidup yang bisa kita peroleh dari seorang tokoh bernama Sultan Malikussaleh, dengan nama asli Meurah Silue. Beliau tidak hanya seorang pemimpin yang dikagumi masyarakat dan dunia internasional pada masanya, tapi juga mampu mewarnai watak dan spirit bangsa ini hingga sekarang,” ujarnya, tadi malam.
Kata gubernur, banyaknya pengunjung luar daerah seperti dari Malaysia dan Brunai Darussalam, mendorong masyarakat dan pemerintah daerah bekerja keras untuk merawat dan menjaga situs dan cagar budaya di makam.
Sesuai tema konferensi Malikussaleh, past, present and future, masyarakat memberi apresiasi kepada Malikussalehuntuk meluruskan sejarah Islam di Nusantara dan Asia Tenggara, menjadikan Makam Malikussaleh sebagai Cagar Budaya dunia, sebagai langkah awal menjadikan Pasai sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage City), dan menjadikan Pasai Pusat Peradaban Islam Dunia.
waspada.co.id
6:00 PM
Fadel Aziz Pase

Posted in:
