Banda Aceh — Sejumlah Calon Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota yang naik melalui jalur independen menuding bahwa partai politik di Aceh sudah menjadi tukang teror rakyat Aceh. Peran Parpol melalui statementnya di media juga dituduh sebagai salah satu cara untuk menghancurkan dan merusak damai di Aceh.
Calon Independen dihimbau jangan terusik oleh situasi tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh sejumlah kalangan saat membedah pernyataan sikap calon independen yang sudah disiapkan panitia, Senin (18/7) di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh
Salah seorang Calon Bupati Nagan Raya dari independen Juhri, kepada The Globe Journal mengatakan kondisi Aceh sekarang sudah aman. Namun statement Parpol di media telah banyak membuat masyarakat was-was. Seolah-olah statement orang di Parpol itu mengancam. Menurutnya dengan memberikan gambaran yang belum tentu terjadi pada orang banyak itu namanya adalah teror.
Ditambahkannya orang yang sudah berkomitmen dalam Partai Politik itu sudah menggambarkan situasi politik yang panas kepada Jakarta. Kalau sudah menakutkan orang banyak, itu termasuk dalam teror. Kini diakuinya, masyarakat Nagan Raya sudah mulai merasa was-was dengan Parpol akibat polemik independen dan tidak independen.
Masyarakat merasa resah dengan pernyataan seperti statement Juru Bicara Partai Aceh, Fakhrurazi yang menyatakan “membangunkan singa tidur”. Kemudian ada statemen Parpol yang mengancam akan boikot Pemilukada. Seharusnya orang yang duduk di lembaga Parpol menjernihkan pemahaman yang benar.
“Jangan mengeluarkan statement yang menakutkan masyarakat,” kata Juhri, putra Sibreh yang pindah ke Alue Bile Kec. Darul Makmur, Nagan Raya itu.
Hal yang hampir sama juga dikatakan oleh salah seorang Calon Bupati Aceh Besar dari Independen, Rusli Muhammad. Kepada The Globe Journal, ia mengatakan kondisi Aceh yang sudah aman, jangan mengkambing-hitamkan rakyat. Ia menganggap Partai Politik di Aceh sudah panaskan situasi. Pasalnya Partai Politik sudah mengatakan Pemilukada ditunda dengan alasan situasi sudah terganggu damai.
Bahkan Juru Bicara Partai Aceh, Fakhrurazi pernah mengeluarkan statement perihal “membangkitkan singa yang tidur”. “Inilah yang buat Aceh hancur lagi, jangan buat lagi konflik,” kata Rusli putra Montasik, yang pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Besar.
Akmal Ibrahim yang kini sebagai Bupati Aceh Barat Daya juga naik menjadi Calon Bupati Abdya dari Independen dalam Pemilukada 2011 ini, dihadapan anggota forum persaudaraan calon independen mengatakan ancaman Parpol yang tidak ikut Pemilukada di Aceh tidak perlu ditakuti. Menurutnya ikut atau tidak ikutnya Parpol itu bukan wajib tapi sebagai hak Parpol. Sementara Pemilukada jalan terus.
“ini bukan negeri keinginan,” kata Akmal sembari mengatakan “bek gabuk lam hal yang hana pereule” (jangan sibuk dengan hal yang tidak perlu-red).
Koordinator Persaudaraan Calon Perseorangan, Ghazali Abas Adan ketika membuka acara tersebut menyampaikan awal penolakan Pemilukada ini mulai dari kelompok tertentu yang kepalanya panas. Kemudian kelompok itu bergerilya, ingin bertemu MK hasilnya ditolak oleh Ketua MK, kedua bertemu KPU tepat pada prinsip yang berpegang pada aturan main.
Berikutnya ketemu Mendagri juga tidak ada hasil. Terakhir bertemu Presiden RI tidak tercapai, sehingga kelompok itu hanya bertemu Wakil Mensesneg, Dipo Alam. Lalu kelompok itu memobilisasi masyarakat atas nama rakyat hingga menunda Pemilukada dengan alasan Aceh tidak aman.
“Ini provokator dan ujung-ujungnya mengganggu rakyat yang ada di gampong,” kata Ghazali yang juga mantan Anggota DPR RI.
Calon Independen dihimbau jangan terusik oleh situasi tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh sejumlah kalangan saat membedah pernyataan sikap calon independen yang sudah disiapkan panitia, Senin (18/7) di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh
Salah seorang Calon Bupati Nagan Raya dari independen Juhri, kepada The Globe Journal mengatakan kondisi Aceh sekarang sudah aman. Namun statement Parpol di media telah banyak membuat masyarakat was-was. Seolah-olah statement orang di Parpol itu mengancam. Menurutnya dengan memberikan gambaran yang belum tentu terjadi pada orang banyak itu namanya adalah teror.
Ditambahkannya orang yang sudah berkomitmen dalam Partai Politik itu sudah menggambarkan situasi politik yang panas kepada Jakarta. Kalau sudah menakutkan orang banyak, itu termasuk dalam teror. Kini diakuinya, masyarakat Nagan Raya sudah mulai merasa was-was dengan Parpol akibat polemik independen dan tidak independen.
Masyarakat merasa resah dengan pernyataan seperti statement Juru Bicara Partai Aceh, Fakhrurazi yang menyatakan “membangunkan singa tidur”. Kemudian ada statemen Parpol yang mengancam akan boikot Pemilukada. Seharusnya orang yang duduk di lembaga Parpol menjernihkan pemahaman yang benar.
“Jangan mengeluarkan statement yang menakutkan masyarakat,” kata Juhri, putra Sibreh yang pindah ke Alue Bile Kec. Darul Makmur, Nagan Raya itu.
Hal yang hampir sama juga dikatakan oleh salah seorang Calon Bupati Aceh Besar dari Independen, Rusli Muhammad. Kepada The Globe Journal, ia mengatakan kondisi Aceh yang sudah aman, jangan mengkambing-hitamkan rakyat. Ia menganggap Partai Politik di Aceh sudah panaskan situasi. Pasalnya Partai Politik sudah mengatakan Pemilukada ditunda dengan alasan situasi sudah terganggu damai.
Bahkan Juru Bicara Partai Aceh, Fakhrurazi pernah mengeluarkan statement perihal “membangkitkan singa yang tidur”. “Inilah yang buat Aceh hancur lagi, jangan buat lagi konflik,” kata Rusli putra Montasik, yang pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Besar.
Akmal Ibrahim yang kini sebagai Bupati Aceh Barat Daya juga naik menjadi Calon Bupati Abdya dari Independen dalam Pemilukada 2011 ini, dihadapan anggota forum persaudaraan calon independen mengatakan ancaman Parpol yang tidak ikut Pemilukada di Aceh tidak perlu ditakuti. Menurutnya ikut atau tidak ikutnya Parpol itu bukan wajib tapi sebagai hak Parpol. Sementara Pemilukada jalan terus.
“ini bukan negeri keinginan,” kata Akmal sembari mengatakan “bek gabuk lam hal yang hana pereule” (jangan sibuk dengan hal yang tidak perlu-red).
Koordinator Persaudaraan Calon Perseorangan, Ghazali Abas Adan ketika membuka acara tersebut menyampaikan awal penolakan Pemilukada ini mulai dari kelompok tertentu yang kepalanya panas. Kemudian kelompok itu bergerilya, ingin bertemu MK hasilnya ditolak oleh Ketua MK, kedua bertemu KPU tepat pada prinsip yang berpegang pada aturan main.
Berikutnya ketemu Mendagri juga tidak ada hasil. Terakhir bertemu Presiden RI tidak tercapai, sehingga kelompok itu hanya bertemu Wakil Mensesneg, Dipo Alam. Lalu kelompok itu memobilisasi masyarakat atas nama rakyat hingga menunda Pemilukada dengan alasan Aceh tidak aman.
“Ini provokator dan ujung-ujungnya mengganggu rakyat yang ada di gampong,” kata Ghazali yang juga mantan Anggota DPR RI.
4:10 PM
Fadel Aziz Pase

Posted in:
