Aceh Besar - Penulisan “Ratu Safiatuddin” yang bertempat di simpang empat lamprit yang berbentuk pintu gerbang yang dibuat dalam bentuk taman itu salah dalam kepenulisan. Karena istilah dalam bahasa Aceh, kalau untuk menyebutkan seorang raja perempuan, maka yang benar “Sultanah” bukan “Ratu”.
Demikian disampaikan Kepala Museum Aceh, Nurdin AR, di Sare School kepada The Globe journal, Minggu(17/7).
“Orang Aceh banyak membaca buku karangan dari barat, sementara dari barat kalau untuk menyebutkan raja perempuan itu Queen yang berarti ratu, nah, orang Aceh saat ini menerjemahkan kata-kata daripada Queen, padahal mereka tidak tahu itu salah,”ungkap Nurdin.
Lanjut Nurdin, yang di Taman Ratu safiatuddin Lamprit itu saat dibangun itu oleh Ibu Marlinda, istrinya Abdullah Puteh yang menjabat sebagai gubernur Aceh saat itu, tidak pernah bertanya kepada dirinya kerena marah kepada Nurdin akibat sering mengkritik kesalahan dalam penulisan sejarah.
“Namun saat dilaksanakan Pekan Kebudayaan Aceh(PKA) kemarin, saya sudah menyuruh panitia untuk mengubah tulisan itu. Karena menurut saya itu tidak ada sumber, Cuma suber dari barat saja yang menulis seperti itu,”ujarnya.
Namun sampai saat ini tidak diubah kata Nurdin, karena Surat Keputusan (SK) dari presiden, maka tidak bisa diubah lagi, padahal yang benar menurut Nurdin itu bukan Ratu, akan tetapi Sultanah, kalau masyarakat tidak percaya kata Nurdin maka masyarakat bisa melihat buku-buku yang ditulis pada masa Sultanah Aceh, dan lihat juga mata-mata uang pada masa itu sering tertulis “Paduka Sultanah Safiatuddin”. Bukan ratu.
“ Gunakan sumber yang primer, kenapa harus diambil yang tidak primer,”tukas Nurdin.
Dengan kesalahan tersebut katanya menyebar ke mana-mana, sehingga gampong-gampong pun sudah mengikuti kesalahan tersebut.
Demikian disampaikan Kepala Museum Aceh, Nurdin AR, di Sare School kepada The Globe journal, Minggu(17/7).
“Orang Aceh banyak membaca buku karangan dari barat, sementara dari barat kalau untuk menyebutkan raja perempuan itu Queen yang berarti ratu, nah, orang Aceh saat ini menerjemahkan kata-kata daripada Queen, padahal mereka tidak tahu itu salah,”ungkap Nurdin.
Lanjut Nurdin, yang di Taman Ratu safiatuddin Lamprit itu saat dibangun itu oleh Ibu Marlinda, istrinya Abdullah Puteh yang menjabat sebagai gubernur Aceh saat itu, tidak pernah bertanya kepada dirinya kerena marah kepada Nurdin akibat sering mengkritik kesalahan dalam penulisan sejarah.
“Namun saat dilaksanakan Pekan Kebudayaan Aceh(PKA) kemarin, saya sudah menyuruh panitia untuk mengubah tulisan itu. Karena menurut saya itu tidak ada sumber, Cuma suber dari barat saja yang menulis seperti itu,”ujarnya.
Namun sampai saat ini tidak diubah kata Nurdin, karena Surat Keputusan (SK) dari presiden, maka tidak bisa diubah lagi, padahal yang benar menurut Nurdin itu bukan Ratu, akan tetapi Sultanah, kalau masyarakat tidak percaya kata Nurdin maka masyarakat bisa melihat buku-buku yang ditulis pada masa Sultanah Aceh, dan lihat juga mata-mata uang pada masa itu sering tertulis “Paduka Sultanah Safiatuddin”. Bukan ratu.
“ Gunakan sumber yang primer, kenapa harus diambil yang tidak primer,”tukas Nurdin.
Dengan kesalahan tersebut katanya menyebar ke mana-mana, sehingga gampong-gampong pun sudah mengikuti kesalahan tersebut.
9:08 PM
Fadel Aziz Pase

Posted in:
