Lhokseumawe - Biaya tidak langsung Pemkab Aceh Utara pada tahun 2012 mencapai Rp 677 milyar lebih, sementara untuk biaya langsung sebesar Rp 352,2 miliar.
Angka tersebut tertuang dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) ABPBK Aceh Utara dan Prioritas dan Platfon Anggaran Sementara (PPAS) yang disampaikan Bupati Ilyas A Hamid diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Syahbuddin Usman, Selasa (12/7) di Gedung DPRK setempat.
Disebutkan, total belanja tidak langsung senilai Rp677 miliar lebih, sedangkan belanja langsung Rp352,2 miliar lebih.
Bupati mengatakan, pendapatan daerah pada tahun 2012 secara umum mengalami peningkatan, tetapi pada posisi Pendapatan Asli Daerah (PAD), terjadi penurunan yang signifikan, karena ada beberapa pos pendapatan yang ditargetkan pada tahun 2011 tidak akan terealisasi pada tahun 2012.
Proyeksi pendapatan daerah pada tahun 2012 sebesar Rp990 miliar lebih terdiri dari PAD Rp40,4 miliar lebih, dana perimbangan Rp936,6 miliar lebih serta lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp13,8 miliar lebih. Rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRK Aceh Utara Jamaluddin Jalil didampingi dua Wakil Ketua DPRK, Misbahul Munir dan Ida Suryana dan dihadiri anggota dewan .
Secara rinci dijelaskan, kebijakan belanja daerah terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung. Total belanja tidak langsung Rp677 miliar lebih meliputi belanja pegawai, belanja bunga, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten kota dan pemerintahan gampong serta belanja tidak terduga. Sedangkan belanja langsung Rp352,2 miliar lebih.
Untuk kebijakan belanja langsung, dialokasikan pada lima prioritas pembangunan yang meliputi peningkatan aksesibilitas pendidikan, kesehatan dan budaya, percepatan pembangunan infrastruktur, revitalisasi pertanian dan gampong, peningkatan investasi, industri, perdagangan dan koperasi serta pengembangan syiar Islam.
PPAS tahun 2012 pada sisi penerimaan pembiayaan diperkirakan Rp285 miliar lebih, terdiri dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Daerah tahun sebelumnya (Silpa) dana deposito pada Bank Mandiri Rp217,7 miliar dan Silpa Rp25,9 miliar lebih serta penerimaan pinjaman daerah Rp41,3 miliar lebih. Pada sisi pengeluaran pembiayaan diperkirakan Rp29 miliar yaitu untuk pembayaran pokok utang Rp25 miliar dan penyertaan modal Rp4 miliar, sehingga pembiayaan netto menjadi Rp256 miliar lebih.
1:00 PM
Fadel Aziz Pase


Posted in:
