| Krueng Simpo |
Sasaran pemerasan oknum warga itu adalah kalangan supir bus umum maupun bus sekolah yang mengantar rombongan warga atau rombongan anak sekolah yang berwisata di sungai itu. Oknum warga mematok biaya parkir untuk satu bus dengan jumlah yang tidak logis mencapai ratusan ribu rupiah.
“Setiap bus yang mengantar rombongan dan parkir di sana diminta seratus lima puluh ribu rupiah dengan alasan macam-macam, karena alasan keamanan dan tidak menimbulkan masalah saya berikan saja,” ujar seorang supir bus dari Kabupaten Aceh Utara yang enggan namanya dikorankan, Minggu (10/7).
Dia mengatakan sejumlah supir bus luar Bireuen yang pernah mengantar rombongan wisata ke Krueng Simpo sering memperbincangkan kutipan yang dinilai sangat memberatkan itu. Diakuinya praktik pemerasan oleh oknum warga itu enggan dilaporkan ke polisi.
Untuk siasati kutipan itu, kini para supir bus umum dan bus sekolah terpaksa mengutip dana kepada penumpang yang akan berwisata ke sana. Tetapi terkadang penumpang juga enggan mengumpulkan uang dengan alasan hal itu tanggungjawab awak bus. “Kondisi lokasi wisata itu sudah tidak nyaman,” katanya.
Selain kerap memeras supir bus, oknum petugas parkir di Krueng Simpo juga mengutip biaya parkir yang tidak masuk akal. Kalau mobil diparkir di tempat jauh dikutip Rp5 ribu. Kalau diparkir dekat kios jualan harus bayar dua kali alias Rp10 ribu. “Aturannya sangat aneh,” ujar Hasan, warga Bireuen.
Pengalamannya Minggu (10/7), dia bersama keluarga berwisata ke Krueng Simpo. Dia membawa tikar untuk dibentang di tebing sungai sebagai alas duduk. Itu juga tidak boleh kalau tidak mau membayar Rp30 ribu. “Padahal tikar dibentang di rumput, bukan di pondok yang disediakan,” katanya.
Atas sejumlah keanehan yang terjadi di lokasi wisata itu. Kalangan supir bus dan pengunjung berharap kepada perangkat desa setempat untuk memperjelas berapa kutipan yang seharusnya sehingga tidak mengorbankan pengunjung. Lalu kepada Muspika Juli diharapkan melakukan pengawasan.
harian-aceh
3:27 PM
Fadel Aziz Pase

Posted in:
