Monday, December 5, 2011

"Hachiko" Anjing Saja Bisa Begitu Setia

Film yang tak pernah bosan aku melihatnya meskipun sudah berkali-kali judulnya Hachiko: A Dog's Story yang dibintangi oleh Richard Gere. Sebuah film yang sangat berkesan, mengharukan dan penuh arti. Mengajarkan arti pertemanan dan kesetiaan. Jaman sekarang susah menemukan orang yang benar-benar setia. Jika anjing saja bisa begitu setia dan tepat janji mengapa kita sebagai manusia sering telat dan ingkar janji..????

SEBUAH KISAH NYATA
 

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api.
Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan. Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”

“Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”

Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.


Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulan lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.

Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemu dian , dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemu dian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.
 Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.


Sunday, December 4, 2011

Fadel Aziz Pase Terpilih Sebagai Ketua Umum IMN

ACEH UTARA – Ikatan Mahasiswa Nibong (IMN) Kabupaten Aceh Utara kembali melaksanakan pemilihan ketua baru, berhubung masa kepemimpinan ketua lama sudah berakhir. Pemilihan tersebut berlangsung di aula kantor Camat Nibong, Minggu (27/11).

Fadhil Mulya Nanda yang lebih dikenal Fadel Aziz Pase dikalangan aktivis mahasiswa terpilih sebagai ketua umum Ikatan Mahasiswa Nibong (IMN) Aceh Utara setelah mengalahkan 2 pasangan rivalnya yakni, Sanusi yang berpasangan dengan Ismuhar dan Fauzan yang berpasangan dengan M.Khalis.

Kemenangan Mantan Sekretaris Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unsam Langsa ini sudah diprediksi sejak awal, lantaran sosok Fadel Pase yang berpasangan dengan Fakhrizal didukung oleh semua kalangan mahasiswa di Kecamatan Nibong.

Dalam pemilihan itu, Fadel menyisihkan dua pasangan kandidat lain yakni Sanusi yang berpasangan dengan Ismuhar mengantongi 23 suara dan Fauzan yang berpasangan dengan M.Khalis hanya mengantongi 2 suara, sedangkan pasangan pemenang mengantongi 35 suara, total pemilih semua berjumlah 60 mahasiswa, ungkap ketua panitia penyelenggara M. Fadhil Abta.

“Internal IMN kedepan harus lebih aktif sebagai wadah penampung aspirasi mahasiswa, harus berperan aktif dalam upaya menjadi lembaga social control ditengah masyarakat” ungkap Ketua terpilih.

Semoga ketua terpilih dapat melanjutkan dan mengisi kekurangan pada masa sebelumnya sebagai penerus tongkat estafet, harap salah seorang mahasiswa. Terpilihnya Fadel Pase sebagai ketua umum yang baru menggantikan ketua lama Zulbahraini yang telah habis masa kepemimpinannya, demikian M. Fadhil Abta.

Milad GAM ke-35 Dipusatkan di Meureue Indrapuri

Banda Aceh – Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Partai Aceh (PA) akan memperingati hari ulang tahun (milad) Gerakan Aceh Mardeka (GAM) di Meureue, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, hari ini (4/12).

“Perayaan milad GAM ke-35 dipusatkan di kompleks kuburan Wali Nanggroe Tengku Hasan Tiro pada Minggu (4/12), kami berharap seluruh komponen masyarakat untuk ikut dalam acara ini,” kata juru bicara PA Fachrul Razi di Banda Aceh, Sabtu (3/12).

Pada perayaan milad GAM tersebut seluruh anggota KPA dan simpatisan PA akan gelar doa bersama untuk kemakmuran masyarakat dan terwujudnya perdamaian Aceh yang abadi.

Selain di Meureue, perayaan milad GAM dengan menggelar doa bersama dan kenduri untuk anak yatim itu juga akan dilaksanakan di Pidie, Batei Iliek dan beberapa tempat lainnya.

“Seluruh masyarakat dan berbagai elemen yang hadir akan mendoakan perdamaian di Aceh jangan tercemar oleh politik dan ada pesan-pesan khusus yang akan disampaikan Pemangku Wali Nanggroe Tengku Malek Mahmud,” katanya.

Fachrul Razi juga menyampaikan agar masyarakat Aceh untuk bersatu menjaga perdamaian di Aceh, apalagi sejak beberapa bulan terakhir mulai muncul upaya mengganggu perdamaian di Bumi Aceh.
Menurut dia, perayaaan milad GAM di Meureue tersebut akan dihadiri petinggi mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) seperti Tengku Malek Mahmud, Zaini Abdullah, Muzakir Manaf dan tokoh PA dan KPA lainnya.(liputan6)

Thursday, November 24, 2011

Warga Aceh Bersyukur Tari Saman jadi Warisan Dunia

BANDA ACEH - Masyarakat Aceh menyatakan bangga dan bersyukur atas ditetapkannya tari Saman oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia yang memerlukan perlindungan mendesak.

Saman merupakan warisan budaya Aceh pertama yang mendapat pengakuan dunia secara sah.

“Kita pantas bersyukur dan masyarakat Aceh patut berbangga atas ditetapkannya tari Saman, artinya aspek budaya ke Acehan ini sudah menjadi aset bangsa Indonesia yang diakui dunia, kita perlu bersyukur,” kata Ketua Majelis Adat Aceh, Teungku Badruzzaman Ismail kepada okezone di Banda Aceh, Kamis (24/11/2011).

Menurut Badruzzaman, kita tak perlu larut berlebihan dalam eforia ini, namun yang harus dilakukan adalah mengembangkan dan memperkaya lagi secara intensif tarian yang berasal dari tanah Gayo itu.

Tari Saman, kata dia, jangan hanya dilihat dari gerak seninya saja tetapi masyarakat juga harus mengerti makna yang terkandung dalam kesenian tersebut.

Dalam tari saman, setiap gerak memiliki makna dan syair yang dialunkan dalam tarian juga sarat dengan pesan moral dan dakwah agama yang harus diresapi dan direnungi oleh masyarakat.

Badruzzaman menambahkan, tari Saman harus diajarkan kepada generasi muda Aceh agar setidaknya mereka tahu dengan gerak dan makna dari tarian tersebut. “Jangan sampai hilang di daerah asalnya,” kata dia.

Dia meminta agar tarian Saman intens ditampilkan pada setiap-setiap even atau festival di Indonesia khususnya di Aceh.
(rhs)
 
okezone.con

Sambut Putusan MK, KAMMI Aksi di Simpang Lima

BANDA ACEH — Koalisi Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh menggelar aksi damai dan teatrikal di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Kamis (24/11) sore. Aksi ini dimaksudkan untuk menyambut pembacaan putusan final Mahkamah Konstitusi terkait gugatan dua warga Aceh terhadap tahapan pemilihan kepala daerah.

Koordintor Aksi, Muad, mengatakan, KAMMI akan menyerukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam kekisruhan politik menjelang pilkada untuk mengedepankan kepentingan masyarakat.
“Kami mendesak pihak-pihak terkaut untuk lebih mengedepankan perdamaian Aceh ketimbang pilkada,” ujar Muad ketika dihubungi acehkita.com beberapa saat sebelum aksi.
Ia memperkirakan aksi akan diikuti sekitar 20-40 mahasiswa yang tergabung dalam KAMMI. []

| ACEHKITA.COM 

 
Design by Fadel Aziz Pase | Bloggerized by Fadel Partner - Do'a Sepasang Bidadari | Salam Kanan Salam Kemenangan